Blog yang berisi catatan-catatan singkat dan sederhana. Mencoba menangkap dan menulis pesan bijak dari berbagai sumber.

About

This is default featured post 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured post 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured post 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured post 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured post 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Rabu, 19 Januari 2022

480 Tahun Kota Baubau: Dari Kisah Bajak Laut hingga Sultan Murhum

Gambar: grid.id

Abad ke-16 dan 17 dianggap sebagai masa keemasan bajak laut. Tapi sejak kapan para perompak ini bermula? Konon riwayat bajak laut hadir bersamaan dengan sejarah navigasi. Ketika kapal-kapal pengangkut barang dagangan melintasi lautan, muncullah perompak yang ingin memilikinya secara paksa. Tercatatlah nama Karibia, sebuah kawasan di dunia baru (benua Amerika yang belum lama ditemukan Colombus) kala itu, sebagai zona subur bajak laut, yang secara politik melibatkan 4 (empat) negara besar, yaitu; Spanyol, Portugis, Perancis dan Inggris. 

Trilogi film 'Pirates of the Caribbean' yang dibintangi oleh Johnny Deep, Keira Knightley, Orlando Bloom, Bill Nighy, Geoffrey Rush, dan Jack Davenport, setidaknya memberi kita sedikit visualisasi masa itu di kawasan Karibia. Pada episode 'At World's End', sekuel terakhir garapan sutradara Gore Verbinski ini, muncul karakter Sao Feng yang diperankan oleh Chow Yun-Fat, seorang pemimpin bajak laut yang beroperasi di wilayah Nusantara.

Dahulu di Buton, terkenal kekata "Jaga o Tobelo yitu", yang berarti awas ada Tobelo. Kalimat dalam bahasa Wolio ini sampai sekarang terkadang masih digunakan oleh para orang tua yang bermukim di pesisir pantai Baubau untuk menakut-nakuti anaknya yang dilabeli nakal. Ucapan yang merujuk pada kelompok bajak laut pada masa lampau yang kerap mengganggu stabilitas keamanan. Para perompak ini diduga berasal dari Tobelo Halmahera. Kelak di kemudian hari, salah satu pemimpin bajak laut ini, bernama La Bolontio, berhasil dikalahkan oleh Lakilaponto. Atas keberhasilannya tersebut, ia lalu dinobatkan menjadi Raja Buton ke-6.

Oleh sebab gangguan keamanan dari para bajak laut, Sipanjonga dan pengikutnya yang melempar sauh di pulau yang banyak tumbuh puhon Butu (Baringtonia Asiatika) ini pada paruh pertama abad ke13 M, memutuskan tak mau berlama-lama tinggal di daerah pesisir. Para pemukim awal ini lalu berpindah ke arah bebukitan yang berjarak sekira 5 KM. Di tempat baru itu mereka menebang pohon, membuka lahan pemukiman baru, yang lalu dikenal dengan nama Wolio. Kawasan yang kemudian tumbuh dan berkembang menjadi cikal bakal pusat pemerintahan kerajaan dan Kesultanan Buton.

Pada tahun 1541 M, Lakilaponto, Raja Buton VI, dilantik menjadi Sultan Buton I bergelar Murhum Qaimuddin Khalifatul Khamis. Nah, momen pelantikan inilah yang lalu dijadikan sebagai tonggak hari jadi Kota Baubau. Selamat hari jadi Kota Baubau yang ke 480 tahun dan hari lahir Kota Baubau yang ke-20 sebagai daerah otonom (17 Oktober 2021).


Referensi:

1. La Ode Abdul Munafi dan Andi Tenri, 2015, Dinamika Tanah Wolio: Sejarah, Kontinuitas dan Perubahan, Makassar, Fahmis Pustaka

2. Hamzah Palalloi (editor), 2011, Kota Baubau: Sejarah dan Perjalanannya.

3. Wikipedia

SULTAN HIMAYATUDDIN: Pahlawan Nasional dari Negri Buton


gambar: Indopolitika.com

(S)uatu hari, pada permulaan abad ke-18, di dalam benteng keraton Buton, lahirlah seorang putra yang kelak di kemudian hari menjadi satu-satunya Sultan Buton yang memimpin perlawanan rakyat menghadapi kongsi dagang Belanda (VOC). Anak ke-3 dari pasangan Sultan Buton ke-13 bergelar Liauddin Ismail dan Wa Ode Safura ini, lahir pada masa ketika kolonialisme Negri Kincir Angin mulai menancapkan kukunya di Nusantara. Seiring waktu, ia kemudian tumbuh menjadi anak cerdas, berwatak keras, dan memiliki postur tubuh yang tinggi, besar, dan tegap. Oleh karena perkembangan fisik yang melebihi anak seusianya masa itu, ia pun lalu dijuluki 'La Karambau', yang dalam bahasa Wolio berarti Kerbau.

(U)sia kanak-kanaknya, sebagaimana kebiasaan keluarga Buton, ia lalui pula dengan mengenyam pendidikan akhlak dan budi pekerti Islami. Nah, khusus untuk akhlak dan budi pekerti, dalam istana ia ditempa langsung oleh ayah dan ibunya. Pada tahap selanjutnya, La Karambau kecil belajar pula baca tulis dalam aksara 'Buri-Wolio', yang dibimbing oleh seorang guru ngaji dalam lingkungan keluarga. Sedang ilmu Al Qur'an secara spesifik beliau belajar dari 2 (dua) ulama besar kala itu, Syekh Syarif Al Idrus dan Syekh Alwi. 

(L)aku hidup masa remajanya telah menunjukkan bakat kepemimpinan yang luar biasa, dan akhlak terpuji diantara sesamanya. Dalam pada itu, La Karambau semakin sadar bahwa kehadiran Belanda di Buton sangat merugikan pemerintah dan rakyat. Karenanya ia mulai menempa diri agar kelak mampu membebaskan negerinya dari gangguan dan tekanan bangsa lain. Ketika dewasa ia menunjukkan dedikasi dan loyalitas yang tinggi terhadap Sultan dalam menjalankan pemerintahan. Hal yang menyebabkan ia kemudian diangkat untuk menduduki beberapa jabatan penting.

(T)akdir cinta mempertemukannya dengan wanita yang menjadi belahan jiwanya, bernama Wa Ode Sabanaira, yang juga adalah putri dari Sultan Buton ke-19, bergelar Sakiyuddin Darul Alam. Ia lalu menikahi sang gadis pujaannya itu. Dari perkawinannya, La Karambau dikaruniai 3 (tiga) orang buah hati; 2 (dua) putra, yaitu Kapitalau Lawele dan La Ode Pepago, serta seorang putri yang bernama Wa Ode Wakato.

(A)pabila tinggal bersama mertuanya, Sultan Buton ke-19, La Karambau kerap mendengarkan percakapan antara Sultan dengan para pejabat kesultanan tentang perilaku kompeni Belanda yang semakin arogan, sementara Sultan dan sara kesultanan tidak dapat berbuat banyak karena terikat perjanjian dengan kompeni Belanda. Iapun bertekat bahwa bagaimanapun juga, suatu saat nanti, dirinya harus mampu melakukan perubahan untuk membebaskan rakyat Buton dari cengkraman VOC.

(N)omenklatur berbagai jabatan penting dalam pemerintahan telah ia sandang. Mula-mula La Karambau diberi tugas sebagai 'Lakina Kambowa', atau kepala wilayah 'kadie' (komunitas desa). Sukses sebagai 'Lakina Kambowa', ia kemudian diangkat menduduki jabatan 'Kapitalau Matana eo' (panglima wilayah timur), yang tugas utamanya adalah mengatur pertahanan di seluruh wilayah pemerintahan 'kadie' dan 'barata'. Pada usianya yang ke-50 tahun, ia mendapatkan amanah lagi sebagai 'kenepulu' (hakim). Hingga akhirnya, pada tahun 1751 La Karambau dikukuhkan sebagai Sultan Buton ke-20, bergelar Sultan Himayatuddin.

(H)ubungan yang dibangun oleh Kesultanan Buton dengan VOC, yang lalu dituangkan dalam kontrak 1613 (Schotte-Laelangi) ternyata merupakan konsesi tidak seimbang, lebih menguntungkan kongsi dagang Belanda. Hal tersebut semakin diperparah dengan adanya kontrak perjanjian ke-2 pada 25 Juni 1667 antara Cornelis Speelman dan Sultan Adilil Rakhim. Dimana Buton berkewajiban memusnahkan seluruh tanaman cengkeh dan pala di Wakatobi, mengirim upeti kepada Belanda, dan berkurangnya kedaulatan Buton sebab dalam urusan pergantian Sultan harus disetujui Belanda dan Ternate. Ketika Sultan Himayatuddin naik tahta, beliau tidak mengindahkan kontrak-kontrak ini. Hal yang mengakibatkan hubungan Buton-VOC memanas. 

(I)nsiden Kapal 'Rust en Werk' di perairan Baubau menjadi awal konflik yang meruncing hingga berujung pada pecahnya perang Buton vs VOC. Pada bulan Juli 1752, kapal milik VOC yang sedang berlabuh di lepas pantai Kotamara itu, dirompak oleh seorang mantan juru bahasa yang juga adalah bandit pelarian dari Makassar, dan anak buahnya. Namanya adalah Frans Franz. Usai membajak bahtera berbendera Belanda itu, ia lalu melarikan diri ke Pulau Kabaena. Sultan Himayatuddin yang mengetahui peristiwa perompakan di wilayahnya, sama sekali tak memberikan bantuan pada VOC. Bagi Belanda, tindakan sang Sultan tersebut berarti telah membantu para perompak. Konsekuensinya adalah Buton harus membayar kerugian pada Kongsi Dagang Belanda, sebagai buntut dari perjanjian yang pernah dibuat antara Buton dan Kompeni. Tapi Sang Sultan menolak.

(M)elalui surat yang bertarikh 1755, Gubernur VOC yang berpusat di Makassar, memerintahkan untuk mengirim ekspedisi perang ke Buton. Sekaligus menunjuk Kapten Johan Casper Rijsweber sebagai pemegang komando tertinggi dalam penyerangan tersebut. Kategori perang dalam "kamus" VOC adalah yang teratas dalam tingkat penindakan terhadap kerusuhan, huru-hara, atau pemberontakan sekalipun.

(A)rmada VOC yang dipimpin oleh Kapten Rijsweber mulai bertolak ke Buton tanggal 19 Februari 1755, setelah mengangkut logistik tempur di Bulukumba dan menyiapkan armada kapal perangnya di Bantaeng. Iring-iringan kapal tersebut terdiri dari; Huis te Henpad, de paarl, gligis, triston, de Meermin, hey Fortuin, dan de Arnoldina. Termasuk dalam iring-iringan itu adalah 2 (dua) buah kapal yang memuat tentara bantuan dari Jawa.

(Y)ang pertama kali tiba di Buton dari dari rombongan armada tersebut adalah kapal de Paarl dan kapal Gligis. Sedangkan kapal-kapal lainnya baru tiba pada 23 Februari 1755. Saat bahtera melempar sauh, dilepaskan pula tembakan penghormatan, tapi tidak mendapat balasan dari darat. Diperoleh informasi bahwa orang Buton telah mengetahui maksud kedatangan kompeni.

(A)ngkatan perang rakyat telah bersiap siaga menghadapi segala kemungkinan. Dari benteng di pesisir hingga perbukitan telah di pasang pagar runcing yang terbuat dari batang pohon kelapa. Lebih dari 5000 orang Buton telah mempersiapkan diri, yang sebagian besarnya bersenjatakan keris, parang, dan tombak.

(T)entara VOC mulai mempersiapkan serangan mendadak sejak pukul 00.00. Usai mendaratkan seluruh pasukannya pada pukul 03.30, Rijsweber memimpin prajuritnya menuju benteng keraton yang menjadi tempat pertahanan dan Ibu kota kesultanan. Tiba di kaki bukit dekat pintu gerbang masuk benteng, ia membagi pasukannya dalam 2 (dua) jurusan, masing-masing diperintahkan memasuki gerbang-gerbang yang sudah ditetapkan, yaitu Lawana Lanto dan Wandailolo.

(U)paya merebut benteng mendapat perlawanan sengit. Tidak jauh dari pintu benteng, mereka menerima tembakan balasan dari Kapitalau (panglima) Sungkuabuso, disusul tembakan dari rumah-rumah penduduk sehingga di sana-sini terdengar letusan-letusan senjata. Pertarungan fisik berhadap-hadapan terjadi di dalam benteng. Banyak rumah terbakar dan terdengar jeritan tangis anak-anak meminta pertolongan, serta orang-orang yang lari mencari keselamatan. Betapapun gigihnya Kapitalau Sungkuabuso melawan, akhirnya ia gugur juga, sedangkan para pengawal dan pengikutnya melarikan diri atau ditawan.

(D)eru gencar serangan VOC, dan persenjataan yang tak seimbang, benteng keraton Buton akhirnya dikuasai Belanda. Sultan Himayatuddin menyingkir ke benteng Sorawolio. Rijsweber beruasaha mengejar, namun setelah melihat kondisi pasukannya yang kelelahan, dan daya tempurnya sudah menurun, ia memerintahkan prajuritnya untuk mundur. Akibat penyerangan ini, banyak di kalangan punggawa dan rakyat gugur sebagai syuhada.

(D)alam memori kolektif masyarakat Buton, peristiwa penyerangan VOC yang terjadi pada 24 Februari 1755 di Benteng Wolio itu dikenang sebagai "Zamani Kaheruna Walanda" atau zaman huru-hara Belanda. La Karambau terus melanjutkan perlawanan mengusir Belanda dengan membangun basis-basis perlawanan di tengah rimba raya. Beliau berjuang hingga akhir hayatnya pada 1776. Sebab perlawanan gerilyanya, ia dikenal pula dengan julukan 'Oputa yi Koo', atau sang raja di hutan.

(I)ndonesia akhirnya menyatakan kemerdekaannya pada 17 Agustus 1945, atau 169 tahun sesudah wafatnya Sultan Himayatuddin. Pada tahun 1951, Kesultanan Buton menggabungkan diri dengan Negara Kesatuan Republik Indonesi (NKRI). Dan Kesultanan yang terletak di tenggara pulau Sulawesi ini pun berakhir setelah Sultan ke-38, Muhammad Falihi meninggal dunia pada 1960.

(N)egara menetapkan Sultan Hayatuddin sebagai Pahlawan Nasional pada tanggal 7 November 2019. Selamat  Hari Pahlawan, 10 November 2021.


Referensi:

1. Susanto Zuhdi & Muslimin A.R. Effendy, 2015, Perang Buton VS Kompeni-Belanda 1752-1776: Mengenang Kepahlawanan La Karambau, Depok, Komunitas Bambu

2. Susanto Zuhdi, 2018, Sejarah Buton yang Terabaikan, Labu Rope Labu Wana (edisi revisi), Jakarta, Penerbit Wedatama Widya Sastra

3. La Ode Abdul Munafi & Andi Tenri, 2014, Dinamika Tanah Wolio: Sejarah, Kontinuitas, dan Perubahan, Makassar, Fahmis Pustaka

Selamat Hari Guru: Ada Guru untuk setiap Masalah Kita

gambar: PNG download


Saat mengikuti sebuah pelatihan bertajuk 'Family Strategic Planning', yang dipandu oleh Bunda Septi Peni Wulandani dan Ayah Dodit Maryanto, Saya akhirnya memahami bahwa dalam membuat rencana strategis keluarga diantaranya bermula dari permasalahan yang dihadapi. Dari titik tersebut, kemudian buat target penyelesaiannya, dan gunakan segala sumber daya dan potensi keluarga untuk mencapai target itu.

Tentu permasalahan yang dimiliki sebuah keluarga tidaklah tunggal. Namun banyak hal yang perlu diselesaikan. Ini adalah Sunnatullah. Akan tetapi ketika upaya mengatasi berbagai problem itu dimulai dari niat karena Allah, maka Tuhan akan mengutus orang-orang yang lalu membagi pengalamannya pada kita. Menjadi guru atau panutan bagi rumah tangga kita. Sengaja atau tanpa sengaja bertemu dengan para guru kehidupan ini, tapi itulah cara Allah membimbing kehidupan.

Tentu tidak hanya spesifik dalam kasus rumah tangga, tapi juga dalam konteks yang lain. Baik sebagai individu maupun sebagai makhluk sosial. Demikianlah, dengan syarat kita mau membuka mata, meredam gengsi dan kesombongan, menurunkan ego, menghadirkan kepekaan hati, maka kita akan dengan mudah melihat, menemukan guru kehidupan di sekeliling kita. Pada mereka-mereka akhirnya kita menemukan cahaya yang menerangi gelapnya ruang jiwa. Inspirasi mereka menghadirkan energi, kekuatan dalam menghadapi serta menyelesaikan persoalan yang melingkupi diri....

Manila, Istana Sultan Buton, dan Sandi Pengikut Diponegoro


Orang Buton menyebutnya 'Manila'. Nama latinnya adalah 'Manilkara Zapota'. Di Indonesia lebih dikenal dengan sebutan 'Sawo'. Pohonnya besar, rindang, serta dapat tumbuh setinggi 30-40 meter. Manila termasuk tanaman tropis, hingga mudah berkembang biak di Nusantara. Amerika Tengah dan Meksiko adalah habitat aslinya. Konon penjajah Spanyol-lah yang membawa tumbuhan ini ke Filipina. Dan dari tempat lahir Mani Pacqiao tersebut, sawo menyebar hingga ke Hindia Belanda (Indonesia). Depan rumah orang tuaku tumbuh sepohon, dan berbuah pula. Rasa buahnya manis dengan daging yang lembut.

Kamis sore kemarin (2 hari yang lalu), saya sengaja mampir di Istana Malige, yang dahulu merupakan kediaman Sultan Buton ke-37, La Ode Hamidi. Demi melihat pohon sawo yang banyak tumbuh di sana. Oh iya, mengapa tanaman yang dapat berbunga dan berbuah sepanjang tahun ini ramai ditanam dan tumbuh pada halaman istana atau keraton? Sebuah sumber menyebutkan bahwa sebab ia memiliki daun rindang, kuat tak mudah patah, sehingga aman secara botanika. Sangat cocok memayungi pekarangan dan sudut-sudut istana.

Dan ternyata, di Tanah Jawa, pohon sawo juga adalah penanda jaringan ulama pengikut pangeran Diponegoro. Pasca perang Jawa, atau setelah ditangkapnya Pangeran Diponegoro pada 1830 oleh penjajah Belanda, para pengikutnya menyebar ke berbagai tempat sembari menanam pohon sawo di depan rumah mereka. Ini sekaligus menjadi sandi atau kode, bahwa jika kelak perang Jawa meletus kembali, maka mereka akan mudah saling menemukan, berkoordinasi dan siap berperang lagi....


(Dirangkum dari berbagai sumber)

Jumat, 15 Oktober 2021

Asal Muharram sebagai Permulaan Hijriyah

Kartunlucu.Com

Adalah bangsa Arab, ketika menyebut nama-nama bulan, disesuaikan dengan suasana iklim yang terjadi saat itu, atau tradisi yang mereka lakukan. Demikian kata Prof. Quraisy Syihab dalam 'Kumpulan 101 Kultum tentang Islam'. Misal, penyebutan nama 'Muharram' yang berarti diharamkan, sebab pada kurun itu bangsa Arab mengharamkan pertumpahan darah. Contoh lain adalah 'Ramadhan', yang berarti membakar, karena dalam rentang waktu 30 hari itu, suhu udara begitu panas dan pepasir membara.

Ketika Islam hadir, nama-nama tersebut tetap dilestarikan karena tidak bertentangan dengan nilai-nilai agama. Dan kemudian diberi kesan yang mendalam, serta lebih sesuai dengan ajaran Islam. Misal, 'Ramadhan' bulan yang membakar panasnya, mengesankan bahwa siapa yang menyambut bulan suci ini dengan benar dan antusias, maka akan pupus, habis terbakar dosa-dosanya.

Pada masa Khalifah Umar Bin Khaththab ra, para sahabat hendak menetapkan penanggalan khusus Islam. Merekapun lalu berdiskusi demi menentukan waktu yang akan dijadikan sebagai awal mula pergantian tahun. Ada yang mengusulkan agar dimulai dari masa kelahiran Nabi SAW, tapi anjuran ini ditolak sebab kelahiran Beliau tidak banyak berbeda dengan kelahiran manusia pada umumnya.

Adapula yang mengusulkan agar perhitungan dimulai pada bulan kemenangan Nabi SAW memasuki kota Mekah. Inipun tidak diterima dengan alasan bahwa kemenangan dapat menimbulkan keangkuhan, leha-leha, kebekuan, dan kemandekan, padahal seharusnya umat Islam tidak berleha-leha, tapi harus melihat jauh ke depan dan terus berjuang setiap saat dalam hidupnya.

Akhirnya para Sahabat sepakat menjadikan spirit peristiwa hijrah Nabi SAW dari Mekah ke Madinah sebagai awal tahun penanggalan Islam. Mengapa? karena dalam peristiwa itu terdapat nilai-nilai yang dibutuhkan oleh manusia, baik sebagai individu maupun sebagai kelompok masyarakat.

"Hijrah yang dipilih karena hijrah menggambarkan perjuangan, sedang hidup adalah perjuangan. Hijrah yang dipilih karena ia adalah upaya mempertahankan akidah, sedang akidah adalah modal utama dalam hidup. Hijrah dipilih karena dalam hijrah ada optimisme, sedang tanpa optimisme hidup menjadi kelam." Jelas Prof. Quraisy Syihab.

Dr. Muhammad Sa'id Ramadhan Al Buthy dalam 'Sirah Nabawiyah: Analisis Ilmiah Manhajiyah Sejarah Pergerakan Islam di Masa Rasulullah SAW', menulis bahwa Nabi Muhammad SAW, bersama Abu Bakar ra, melakukan perjalanan hijrah dari Mekah ke Madinah pada bulan ketika musim bunga pertama terjadi di jazirah Arab atau dikenal dengan bulan Rabi'ul Awwal. Bertepatan dengan 20 September 622 M.

Pertanyaannya adalah mengapa bulan Rabi'ul Awwal, yang merupakan waktu perjalanan hijrah Baginda SAW, tidak dijadikan sebagai bulan pertama dalam penanggalan Hijriyah? Ahmad Zarkasih, Lc, dalam 'Muharram Bukan Bulan Hijrah' sebagaimana dikutip oleh Republika, mengatakan bahwa itu adalah usulan Utsman Bin Affan ra. Beliau berpendapat demikian sebab sesungguhnya wacana berhijrah muncul setelah beberapa sahabat membaiat Rasulullah SAW, di penghujung bulan Dzulhijjah, masa ketika orang-orang melaksanakan ibadah haji ke Mekah. 

Semangat itulah yang mengantarkan kaum muslimin untuk berhijrah. Nah, bulan setelah Dzulhijjah adalah Muharram (sebagai tonggak, gerak langkah untuk mewujudkan gelora hijrah). Karena itu Amirul Mu'min Umar Bin Khaththab ra, memilih Muharram sebagai bulan pertama dalam penanggalan Hijriyah....

Sumber:

1. M. Quraish Shihab, 2016, Kumpulan 101 Kultum Tentang Islam, Tangerang, PT Lentera Hati

2. Dr. Muhammad Sa'id Ramadhan Al Buthy, 2003, Sirah Nabawiyah: Analisis Ilmiah Manhajiyah Sejarah Pergerakan Islam di Masa Rasulullah SAW, Jakarta, Robbani Press

3. Syaikh Shafiyyurrahman Al Mubarakfuri, 2011, Sirah Nabawiyah, Jakarta, Pustaka Al Kautsar

Resep Remaja Tangguh dan 'Pakandeana Ana-ana Maelu'

depositphotos.com

"Apakah ibu-ibu prihatin dengan problematika remaja kita saat ini?", tanyaku pada para bunda peserta pelatihan yang bertema 'Ketahanan Keluarga'. Saat itu saya menjadi salah satu pembicara dalam giat yang diselenggarakan oleh Badan Narkotika Nasional (BNN) Kota Baubau. "Iya Pak", serentak mereka menjawab. Jawaban yang menurutku sesungguhnya juga mewakili seluruh orang tua zaman now, khususnya ayah-bunda yang akan atau telah memiliki putra/putri usia remaja, dimana termasuk pula aku di dalamnya. 

Oleh sebab keprihatinan itulah pula maka secara pribadi, beberapa tahun terakhir ini saya banyak bersilaturrahm dengan para orang tua bijak yang telah mampu mengantarkan anak-anaknya ke gerbang kesuksesan hidup. Mengapa? Demi belajar, bertanya tentang pengalaman atau amalan khusus yang diakukan hingga anak-anak mereka berhasil mengukir prestasi dalam hidupnya. Bagiku, Bapak/Ibu itu pasti memiliki resep rahasia dalam mengasuh para buah hati, sehingga terhindar dari pengaruh negatif kehidupan.

Jawaban yang kuperoleh dari mereka ternyata seragam. "Tidak ada rahasia Pak Mu'jizat, yang kami lakukan hanya perbanyak amal membantu orang lain", Kata seorang Ibu. "Jangan persusah orang, bantu, permudah urusan mereka, dan hadiri sebisa mungkin saat dirimu diundang, kecuali jikalau kamu sedang sakit", ucap seorang bapak. Merekapun lalu melanjutkan dengan nasihat yang pula senada bahwa membantu orang lain akan berdampak positif bagi anak-anak kita di kemudian hari. Singkatnya adalah membantu orang lain sesungguhnya adalah membantu diri kita sendiri.

Jadi, pada hakikatnya, menolong meringankan beban orang lain adalah menolong diri sendiri dan keluarga. Oh iya inilah pula diantara makna filosofis yang terkandung dalam tradisi 'Pakandeana Ana-ana Maelu'. Demikian catatan Dr. Kamaluddin Zamani dkk, dalam buku 'Haroa dan Orang Buton'. Sebuah tradisi masyarakat Buton yang dilaksanakan turun-temurun tiap tanggal 10 Muharram. Bertepatan dengan 19 Agustus 2021 hari ini.


Acara atau Haroa yang mula-mula dilakukan pada masa Sultan Buton ke-29, bergelar Idrus Qaimuddin ini dilaksanakan dengan cara memberi makan anak-anak yang telah ditinggal mati oleh kedua orang tuanya (yatim dan piatu) atau anak yang ditinggal mati oleh bapaknya meskipun masih memiliki ibu (yatim). Selain untuk mendapat Ridho Allah SWT, acara ini juga dimaksudkan untuk mengenang Baginda Nabi Muhammad SAW yang telah menjadi yatim piatu pada masa kanak-kanaknya....

480 Tahun BAUBAU: Kota Tua dalam Lintasan Sejarah


(K) ala itu, hari pertama Puasa, 1 Ramadhan 948 H, bertepatan dengan 19 Desember 1541 M, Lakilaponto, Raja Buton VI dilantik menjadi Sultan Buton I bergelar Qaimuddin Khalifatul Khamis (Sultan Murhum). Peristiwa ini kemudian dijadikan sebagai tonggak hari jadi Kota Baubau. Oh iya, 14 tahun sebelum Murhum dilantik, tepatnya 22 Juni 1527 M, Fatahillah berhasil mengusir Portugis dari Sunda Kelapa, momen yang lalu diabadikan sebagai hari lahir Kota Jakarta. Jadi, jika tahun 2021 ini Ibukota Republik Indonesia (RI) itu berusia 494 tahun, maka Kota Baubau telah berumur 480 tahun.

(O) rang Belanda kelahiran Hoorn 8 Januari 1587, yang juga adalah pendiri kota Batavia, bernama Jan Pieterzoon (JP) Coen, pernah mengunjungi Buton (Baubau) dalam warsa 1613. Ia menuturkan teluk yang sekarang masuk wilayah Baubau sebagai tempat yang indah, dalam kalimatnya: "Hier is een zeer schooner reede en de baye." Pria yang akhirnya tewas saat Sultan Agung Hanyokrokusumo, penguasa Mataram, menyerang Batavia tahun 1629, mencatat lawatannya itu dan mengirimkannya ke Bewindhebber yang berkedudukan di Banten.

(T) ahun 1667, Sultan Hasanuddin menandatangani perjanjian Bongaya. Sekaligus mengakhiri perlawanan rakyat Gowa terhadap VOC. Sebab ketegangan yang masih terus berlangsung antara Gowa dan Kongsi Dagang Belanda, beberapa bangsawan Bugis yang memakai gelar 'Andi Bau' di depan nama mereka, meninggalkan daerahnya, mencari tempat aman untuk bermukim. Buton jadi salah satu pilihan, sebab selain aman, juga mudah dijangkau. Para imigran ini menetap di pinggiran pantai, daerah sekitar kali, tak jauh dari dermaga. Sebuah versi cerita menyebutkan bahwa dari nama 'Andi Bau' inilah kelak di kemudian hari, lokasi mereka bermukim dinamakan sebagai Baubau.

(A) rmada VOC yang dipimpin oleh Kapten Johan Casper Rijsweber, bertolak dari Makassar menuju Buton dalam sebuah ekspedisi perang. Pada 24 Februari 1755, perang Buton melawan VOC pecah. La Karambau, Sultan Buton ke-20, bergelar Himayatuddin, memimpin perlawanan rakyat. Sebab persenjataan yang lebih unggul, Rijsweber dan pasukannya berhasil merebut benteng keraton Wolio (yang kini menjadi wilayah Kota Baubau). Sultan Himayatuddin lalu menyingkir ke hutan dan terus memimpin perlawanan dengan bergerilya. Orang Buton menyebutnya pula dengan 'Oputa Yi Koo' (Sang Raja di Hutan), sebab beliau membangun basis-basis perlawanan di tengah rimba raya. Tanggal 7 November 2019, Sultan Himayatuddin diangkat menjadi Pahlawan Nasional.

(B) ulan April hingga Oktober angin timur secara periodik bertiup dari Australia menuju Asia. Musim dimana petani bisa panen dengan tenang, pakaian menjadi cepat kering, dan nelayan dapat melaut dengan nyaman. Tapi pada saat yang sama, orang-orang harus bersiap pula menghadapi resiko kekeringan dan kebakaran. Pada masa Sultan Buton ke-29, Muhammad Aidrus Kaimuddin (memerintah 1824-1851), kebakaran hebat pernah melanda kompleks pemukiman padat dalam benteng keraton Buton. Angin berhembus kencang mengantar si jago merah menghanguskan banyak bangunan warga.

Akibatnya, pasca peristiwa tersebut, sebagian keluarga keraton mengungsi keluar benteng, memilih menetap di kawasan baru, seperti; Baadia, Baria, Tarafu, Wameo, Bone-Bone, dan sebagian lainnya mendiami sebuah kawasan yang terletak di antara Nganganaumala-Kotamara dan Bonesaala. Nah, lokasi ini kemudian diberi nama Baubau, berasal dari bahasa Wolio 'Bhau' yang berarti baru, merujuk sebuah kawasan/hunian baru.

(A) fdeling Buton en Laiwui dibentuk oleh pemerintah Belanda pada tahun 1927. Hal ini dilakukan guna memudahkan urusan pemerintahan dengan mengintegrasikan Kesultanan Buton dengan wilayah Laiwui. Baubau lalu ditetapkan sebagai Ibu kota Afdeling, yang dipimpin oleh seorang Asisten Residen. Sebagai ibukota, Baubau kemudian di desain menuju kota moderen dengan pembangunan kawasan perkantoran, rumah sakit, penjara, tangsi militer, pasar, sekolah, pemukiman penduduk, kawasan hijau perkotaan, aksebilitas pusat kota dengan 'hinterland'nya dirancang layaknya kota di Eropa. Kantor Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A) Kota Baubau saat ini adalah tempat yang dahulu digunakan oleh Asisten Residen sebagai kantor.

(U) sai Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya pada 17 Agustus 1945, sekira 5 tahun kemudian, tepatnya 15 Januari 1951, Kesultanan Buton resmi bergabung dengan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Dan pada tahun 1952, kabupaten Sulawesi Tenggara (Sultra) terbentuk. Wilayahnya meliputi; Buton, Muna, Kendari, dan Kolaka, yang masih dalam cakupan Provinsi Sulawesi Selatan Tenggara (Sulselra). Dalam masa itu, yang berlangsung hingga 1959 Kabupaten Sultra dipimpin oleh 5 (lima) orang Bupati. Baubau tetap menjadi pusat pemerintahan.

(B) uton dengan Ibu kota yang berkedudukan di Baubau, melalui UU No. 29/1959, ditetapkan sebagai salah satu Daerah Tingkat II, bersama-sama dengan Muna, Kendari, dan Kolaka, dalam wilayah pemerintahan Sulawesi Selatan Tenggara (Sulselra). Dan Baubau tetap menjadi Ibukota Kabupaten Buton, setelah Provinsi Sulawesi Tenggara terbentuk pada 27 April 1964.

(A) khir November 1981, Presiden Suharto menandatangani Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 41 Tahun 1981 tentang pembentukan Kota Administratif (Kotif) Baubau. H. Nurdin Manggu, SH ditunjuk menjadi Wali Kota Administratif Baubau pertama, melalui Surat Keputusan (SK) Gubernur Sultra bertanggal 2 Maret 1982. Amir Mahmud, sebagai Menteri Dalam Negeri masa itu, langsung berkunjung meresmikan pembentukan Kota Administratif Baubau. Sekaligus menyaksikan pelantikan H. Nurdin Manggu SH, selaku Wali Kota Administratif Baubau, pada hari Jum'at, 26 Maret 1982

(U) U No. 13/2001 tertanggal 17 Oktober 2001, Baubau yang sebelumnya berstatus Kota Administratif (Kotif) berubah menjadi Daerah Otonom, diawali oleh Drs. Umar Abibu selaku penjabat Walikota (2001-2003). Dan saat ini, 2021, Kota Baubau dipimpin oleh Dr. H. AS Tamrin, MH. Demikianlah, maka setiap tanggal 17 Oktober diperingati sebagai hari lahir Kota Baubau sebagai Daerah Otonom. Akan tetapi pelantikan Murhum sebagai Sultan Buton pertama menjadi tonggak hari jadi Kota Baubau. Selamat hari jadi Kota Baubau yang ke-480, dan hari lahir Kota Baubau yang ke-20 sebagai Daerah Otonom.


Referensi:

1. Hamzah Palalloi & H. Idrus Taufik Saidi, 2018, Kota Baubau 1981-2018: Cerita dan Kepemimpinan, Dinas Komunikasi dan Informatika Kota Baubau.

2. La Ode Abdul Munafi & Andi Tenri, 2015, Dinamika Tanah Wolio: Sejarah, Kontinuitas, dan Perubahan, Makassar, Fahmis Pustaka.

3. Susanto Zuhdi & Muslimin AR Effendy, 2015, Perang Buton VS Kompeni Belanda 1752-1776: Mengenang Kepahlawanan La Karambau, Depok, Komunitas Bambu.

4. M Yusran Darmawan (editor), 2008, Menyibak Kabut di Keraton Buton, Baubau, Respect.

Jumat, 19 Juli 2019

Adipati Karna & Reward di Perempatan

gambar: pinterest.com

Adalah Karna, seorang kesatria dan pemanah tangguh bangsa Kuru. Pada generasinya, hanya Arjuna putra Pandu yang dapat menandingi kehebatan surya putra itu. Memang sih, masih ada Resi Dorna dan Pangeran Bisma yang memiliki keahlian mumpuni menggunakan busur dan anak panah, tapi keduanya sudah sepuh. Adapula Abimanyu putra Permadi, namanya melangit dan menggetarkan kahyangan, namun ia adalah bintang yang masih sangat belia, belum pantas disejajarkan dengan Karna. 

Sayang, akibat potensi dan keunggulannya tak banyak yang menghargai, karena dianggap keturunan kusir istana yang berasal dari kasta rendah, akhirnya Karna sang putra Kunti itu memilih bergabung dengan Duryodana dan Sangkuni nan bathil, ketimbang Pandawa yang berdiri di pihak kebenaran. Mengapa? Sebab pemilik senjata Kunta itu dihargai, serta dinobatkan menjadi Raja Angga oleh pihak Kurawa. Maka jadilah ia pembela 100 pangeran Astina, hingga ke medan Kurusetra.

Baiklah, kita tinggalkan kisah Mahabharata. Mari bicara soal penghargaan. Pagi tadi saat sedang asyik menyusuri jalan beraspal dengan roda duaku, tiba-tiba Saya harus memperlambat dan menghentikan laju kendaraan kala sampai di simpang jalan. Dari arah yang berbeda sebuah mobil pick-up juga melakukan hal yang sama.

Kupersilahkan roda empat itu untuk lebih dulu melintas, tapi pengemudinya tak mau. Malah sebaliknya, seorang penumpang yang duduk di sisi sang sopir memberi isyarat dengan lambaian tangan agar diriku berlalu lebih dahulu.

Saya tersenyum padanya, sedikit menundukkan kepala, tanda terima kasihku pada mereka, lalu meninggalkan perempatan tanpa rambu lampu lalu lintas itu menuju tujuan.

Sebenarnya, diriku bisa saja tak melakukan itu. Dan melintas begitu saja meninggalkannya. Tapi bagiku, mereka layak mendapat penghargaan berupa pesan terima kasih. Sederhana memang, tapi menurut pendapat Saya, hal itu akan membuat sang pengemudi merasa mendapat dukungan atas kebaikan yang telah dilakukannya. Dengan begitu, bisa jadi ia juga akan istiqomah dengan keputusannya untuk selalu berbuat baik.

Melukis Dunia Cinta

gambar: ngertiaja.com
Ada dongeng tentang seorang anak yang masuk ke lubang kelinci, lalu muncul di dunia berbeda yang belum pernah ia saksikan sebelumnya. Itulah Alice, yang terkenal dalam kisah ‘Alice in Wonderland’. Film kartunnya sering ku tonton semasa kecil dahulu. Adapula cerita tentang sekelompok anak muda asal Inggris yang ketika masuk ke sebuah lemari pakaian, tiba-tiba mereka sudah berada di negri asing, dan lalu bertemu dengan seekor singa yang bisa berbicara seperti manusia. Itulah ‘The Chronicle of Narnia’.

Tiba-tiba saja sebuah dunia baru nampak di hadapan. Dan petualangan telah dipersiapkan untuk Alice dan kelompok anak muda asal Inggris itu. Mereka lalu mengukir catatan kepahlawanan di negri yang tak dikenal. Apakah mereka menikmatinya? Ya, kurasa begitu. Sebab kisahnya selalu berakhir bahagia.

Bicara soal “dunia baru”, kita tentu pernah menemukan berbagai kalimat bijak yang menyatakan bahwa siapapun bisa “mencipta dunia baru” buat dirinya. Misal, “you are what you think”, dan “Siapa yang menabur, maka dia pula yang menuai.” Keduanya bermakna bahwa jika memilih untuk selalu berpikir positif, serta menanam pohon kebaikan dalam kehidupan, maka sesuatu yang positif atau buah kebaikan akan senantiasa hadir dalam hidup. Begitu juga kalau memilih sebaliknya. Nah inilah yang Saya maksud dengan “mencipta dunia” buat diri sendiri.

Suatu hari, seorang Bapak berkisah tentang pengalaman hidupnya padaku. Pria berusia lanjut yang menurut kebanyakan orang adalah termasuk manusia beruntung. Mengapa ia dianggap demikian? Sebab sampai memasuki usia senjanya itu, dirinya nyaris tak pernah sakit. Kehidupan rumah tangganya aman-aman saja. Begitupula dengan para buah hatinya, mereka menjalani kehidupan dengan baik serta menjadi teladan orang sekampung.

Mungkin Anda bertanya-tanya, apa sih rahasia sang Bapak? Jawabannya telah ia ceritakan secara langsung padaku. “Hiduplah dengan penuh rasa Syukur”, kata beliau. “sayangi keluarga, bantu (semampunya) orang-orang yang mengalami kesulitan, permudah urusan sesama, saling menghargai, dan jangan sombong," tutur sang Bapak yang telah memasuki usia senja itu.

Rupanya perilaku mengagumkan tersebut berbuah manis bagi diri dan keluarganya. Nyaris sepanjang hidup, ia hanya bertemu dan berinteraksi dengan sosok-sosok yang berbuat baik padanya. Sebagaimana dirinya melakukan hal tersebut bagi orang lain. Bagaimana dengan anak-anaknya? Sama, para buah hati yang melanjutkan studi di tempat nun jauh dari kampung halaman, juga bertemu dengan pribadi-pribadi yang baik, yang lalu menuntun mereka menyelesaikan pendidikan dengan penuh tanggung jawab. "Subhanallah", kataku.

Apa yang ingin Saya sampaikan lewat tulisan ini adalah, bahwa setiap orang "mencipta" dunianya sendiri. Jika ia ingin berada pada semesta yang penuh cinta dan harmoni, maka tanamlah pohon kebaikan, agar dapat memanen buah yang baik. Begitu juga sebaliknya, jika memilih jalan yang dzolim. Hidup adalah pilihan, tapi saran Saya, pilihlah dunia cinta dan kebaikan, sebab itulah fitrah manusia. Hanya dengan begitu, kebahagiaan hakiki dapat digapai.

Pendekar Cahaya & Getaran Kata

gambar: pnterest.com
Selamanya gelap takkan mampu mengalahkan cahaya. Sebab cahaya adalah sebentuk materi, karenanya ia memiliki daya. Sedang gelap bukanlah materi, sehingga tak punya daya. Jadi, setitikpun cahaya yang hadir, akan membuat gelap beranjak pergi. Jika ada seorang pendekar pembawa cahaya kebaikan, maka ia akan mampu mengusir ribuan prajurit yang menyebar awan kegelapan.

Hal sederhana seperti sapaan hangat berbalut senyum di pagi hari buat tetangga yang beranjak ke tempat kerja, adalah ibarat cahaya. Sebab yang demikian akan membuat wajah tetangga yang tadinya gelap tanpa ekspresi, bisa berubah menjadi riang. Daniel Goleman dalam bukunya yang berjudul Emotional Intelligence menyebut orang-orang yang menghadirkan sapaan hangat ini sebagai Pembawa Kedamaian.

Berkumpullah bersama sahabat yang selalu menyapa Anda dengan senyuman. Juga bergabung dengan mereka-mereka yang senantiasa berbagi motivasi dan inspirasi kehidupan. Atau berkunjunglah ke tempat-tempat dimana terdapat tulisan yang menggugah hidup. Niscaya hidup Anda akan bercahaya, semangat, sehat dan bahagia.

Bicara soal tulisan penggugah semangat, benarkah dengan hanya menyaksikannya akan membuat hidup lebih baik dan nyaman? Ya, benar. Massaro Emoto telah membuktikannya. Lewat penelitian yang ia abadikan dalam buku 'The Hidden Messages in Water', pria asal Jepang itu menuliskan kata atau kalimat seperti "Terima kasih" dan "Bodoh" pada secarik kertas, yang lalu ia bungkuskan ke sekeliling botol berisi air dengan huruf-hurufnya yang menghadap ke dalam.

Bagaimana hasilnya? Ternyata, air yang dipapar kata "Terima kasih", padanya akan terbentuk kristal heksagonal yang indah. Sedangkan air yang dipapar kata "Bodoh" menghasilkan kristal yang serupa dengan air yang dipapar heavy metal, yaitu tidak berbentuk utuh dan terbelah.

Demikian juga percobaan Emoto terhadap air yang dipapar ungkapan positif, misalnya, "Ayo kita lakukan!" Hasilnya tercipta kristal yang menarik dan berbentuk baik, tetapi air yang dipapar ungkapan negatif, seperti "Lakukan!" Nyaris tidak membentuk kristal sama sekali.

Percobaan tersebut menunjukkan kepada kita bahwa kata-kata memiliki getaran. ini berkaitan dengan kekuatan kata-kata. Berdampak positif atau negatif pada dunia kita, bergantung pada sumbernya. Apakah si empunya kata berada pada suasana hati yang positif, ataukah sebaliknya.

Karena kata merupakan ungkapan jiwa. Maka ianya akan berdampak besar terhadap air (cairan) yang membentuk 70% tubuh manusia, dan dampak ini berpengaruh besar bagi tubuh. Pribadi-pribadi yang sehat pada umumnya memiliki semangat yang baik. Dan mereka ini adalah sosok yang sehat secara fisik.

Adalah Federasi Kesehan Jiwa Dunia (WMFH) dan World Health Organization (WHO), telah menyatakan bahwa situasi kesehatan jiwa saat ini adalah krisis yang tak terungkap, yang semakin buruk pada tahun-tahun mendatang. Penyebabnya adalah munculnya berbagai stressor psikososial di masyarakat, yang berakibat pada hadirnya galau, cemas, stress, depresi dan sebagainya.

Jika Anda bertanya kepada Saya, apa yang harus dilakukan untuk membantu mereka-mereka yang mengalami masalah seperti yang disebutkan oleh WMFH dan WHO? Hal sederhana tapi berdampak besar yang bisa kita lakukan adalah jadilah Pembawa Kedamaian.

Tragedi Ban Pecah: Ketika sedih berubah jadi Syukur

gambar png image.net
Tiba-tiba ban motorku pecah siang tadi. Sedih juga, sebab sedang melaksanakan tugas yang diberikan orang tua. Sampai kutemukan tempat tambal ban, akhirnya Saya mengerti bahwa ban itu memang harus pecah. Mengapa?

Sejak bulan Januari lalu, Saya ingin mengganti oli mesin kendaraan yang sehari-hari menemaniku itu, tapi tak pernah sempat. Dan beberapa hari yang lalu, ternyata rantainya juga sudah longgar, sesuatu yang menyebabkan diriku kurang nyaman dalam berkendara.

Nah, pecahnya ban motorku jelang siang tadi itu justru memberiku kesempatan untuk sekaligus mengganti oli mesin dan memperbaiki rantai motor yang longgar. Alhamdulillah, diriku bersyukur. Padahal awalnya ku bersedih. Hehehe....

Well, banyak peristiwa dalam kehidupan yang kita tak tahu dari mana asalnya, bagaimana prosesnya dan apa efeknya di masa depan, tapi ia terjadi begitu saja. Jika kejadian itu dirasakan sebagai kesedihan, kesusahan atau kemalangan, maka biasanya yang mengalami akan berkata: "Tuhan, mengapa ini harus terjadi?"

Untuk pertanyaan di atas, dan merujuk pada kasus pecahnya ban roda dua milikku, sesungguhnya Yang Maha Kuasa telah menyiapkan cerita buat kita. Ada hikmah dibalik setiap kejadian. Dan Allah SWT Maha Tahu apa yang terbaik buat hamba-Nya.

Ketika Orang-orang Memaafkan Wajah Anda

gambar: pngtree.com
Adakah orang yang membenci wajahnya? Menganggapnya sebagai "kutukan" atau "nasib buruk"? Jawabannya, "Ada !!!" Itulah mereka-mereka yang mengganti wajahnya lewat operasi plastik. Seperti sebagian warga negri ginseng yang melakukannya bahkan berkali-kali.

Apakah juga wajah mempengaruhi rekrutmen seorang pemain pada klub sepakbola? Ya. Tapi ini hanya terjadi di Real Madrid. Dan korbannya adalah Ronaldinho. Los Galacticos menolak untuk merekrut pemain berbakat asal Brazil itu, sebab menurut mereka wajah sang bintang kurang menjual alias kurang tampan.

Klub asal ibu kota Spanyol tersebut belakangan merekrut David Beckham, pesepak bola tampan asal Inggris. Unik memang klub yang satu ini. Tapi begitulah, manajemen Madrid telah membuat standar sedemikian rupa buat para pemainnya. "It's not football, it's La Liga". Mungkin begitu pula alasan mereka. Hehehe...

Bagaimana dengan nasib Ronaldinho? Sang bintang akhirnya bergabung dengan klub asal Catalan, yang menjadi rival abadi Madrid. Ya, Barcelona. Di Blaugrana, legenda Brazil tersebut berhasil menunjukkan performa menakjubkan. Segudang prestasi ia hadirkan ke Camp Nou, mulai dari juara Liga hingga tropi Champion League.

Apakah Madrid akhirnya menyesal? Mungkin saja. Yang jelas, pasca menjuarai Champion League di tahun 2002, Madrid mengalami paceklik terhadap gelar bergengsi tersebut. Hingga Ronaldinho hengkang dari Barcelona menuju Sansiro Milan di tahun 2009, Los Galacticos belum pernah lagi mengangkat trofi Liga Champion.

Dan rentang waktu tersebut adalah masa segudang prestasi buat Ronaldinho dan Barcelona. Baik di liga lokal maupun kompetisi tertinggi benua biru. Bahkan sang bintang menerima 'Ballon d'or', penghargaan paling prestisius yang diberikan pada seorang pemain sepak bola.

Oh iya, penghuni Satiago Bernabeu dikenal agak sulit untuk memberikan apresiasi untuk pemain yang berasal dari klub rivalnya. Tapi itu tidak berlaku untuk Ronaldinho. Ya, pasca penampilan impressifnya yang membungkam Real Madrid di Santiago Bernebeu, pada pertandingan yang bertajuk duel el-clasico, pendukung Madrid justru memberinya aplaus yang luar biasa.

Apakah ini juga indikasi bahwa para supporter dan sekaligus manajemen Madrid telah melupakan wajah Ronaldinho yang dianggap kurang tampan? Menurutku begitu. Seorang sahabat pernah berkata: "Jadilah orang sukses dan mapan, sebab jika Anda telah sukses dan mapan, maka orang-orang akan memaafkan wajah Anda."

Masalah Buat Loe

gambar: lovepik.com
Saat memakai seragam putih-merah semasa SD dahulu, rasanya ingin segera menggantinya dengan putih-biru. Postur tubuh yang lebih tinggi membuat diri jadi minder sewaktu melihat senior memakai seragam SMP tapi postur tubuhnya lebih pendek. Bahagia rasanya jika nanti sudah duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama.

Ketika telah berubah status jadi siswa SMP, setelah berbilang semester berjalan, tiba-tiba pingin segera beralih jadi pelajar SMA. Apa pasal? Tubuh yang semakin meninggi, tapi seragam bercelana pendek masih melekat di tubuh. Malu (lagi) rasanya.

Nah, kini sudah di SMA, pakaian putih-abuabu telah jadi busana harian ke sekolah. Sudah sampai sejauh ini, ternyata masih ada pula yang dirasa tak nyaman. Entahlah, mungkin sebab bertahun-tahun dibungkus seragam sekolah, ada sedikit rasa "terpenjara". Bebas rasanya jika belajar sambil memakai pakaian bebas rapi seperti mahasiswa yang menjadi tetangga rumah itu.

Dan sekarang, mimpi menjadi mahasiswa pun terwujud. Apakah masalah selesai? Belum. Ketika melihat para senior sudah beroleh gelar sarjana, pinginnya juga segera begitu. Tugas kuliah yang menumpuk, jadwal presentasi makalah yang nyaris tak ada habisnya, bertemu dosen "killer", bayang-bayang skripsi yang menakutkan, huh rasanya ingin segera ditinggalkan.

Alhamdulillah, tibalah kini hari wisuda. Wajah cerah, senyum merekah dan bahagia melangit. Di belakang nama sudah ada titel sarjana. Percaya diri berlipat pangkat now. Sudah puas sekarang? Ternyata belum. Melihat kakak yang senin-sabtu bekerja dan beroleh penghasilan, rasanya sesuatu banget. Asyik jika bisa seperti itu juga. Badan sudah segede ini, malu jika minta uang terus sama ortu.

Dan akhirnya, kini Aku punya pekerjaan. Walau belum tetap, yang penting tetap bekerja. Tapi masih ada yang kurang. Undangan pernikahan dari para sahabat dan kerabat yang nyaris tiap bulan datang, ditambah pula dengan para pengantin baru yang tak berkesudahan meng-upload foto romantis di facebook, terus-menerus meneror hatiku. Ya, diriku ingin segera bersanding pula di pelaminan. Bukankah setiap insan diciptakan berpasang-pasangan?

Baiklah, fesenya kita hentikan sampe di pelaminan saja ya. Sebab jika diteruskan, gak bakal berhenti. Apa yang ingin Saya sampaikan adalah bahwa sejak sekolah dasar, relatif kita sudah menemukan masalah dalam hidup. Dan sejak saat itu sampai ujung usia masalah datang silih berganti.
Akan tetapi, sebagian kita tidak memandang masalah sebagai bagian kehidupan yang harus dihadapi dan diselesaikan dengan bijak. Bahwa ia adalah sesuatu yang mendewasakan.

Orang-orang hanya melihat kehidupan orang lain yang dianggapnya luas, lalu membandingkan dengan dirinya yang sedang dirundung masalah. Ia berkeyakinan bahwa jika memiliki kehidupan yang luas seperti orang yang menjadi rujukannya itu, maka masalahnya akan berakhir.

Padahal tidak begitu. Alih-alih masalahnya terselesaikan, yang dilakukannya itu justru akan membuat hidupnya makin sempit. Ya, memandang kehidupan orang lain yang dianggap lebih luas, dan tidak bersyukur dengan apa yang dimiliki, sesungguhnya telah membuat hidup berada dalam kesempitan.

Well, dalam rentang kehidupan antara kelahiran dan kematian, Yang Maha Kuasa memberikan ujian buat hamba-Nya. Maka tiap orang pasti ada ujiannya, dan tiap insan beda masalah kehidupannya. Tapi Allah SWT tidak memberikan ujian buat manusia, kecuali ia juga dibekali kesanggupan untuk menyelesaikannya. Nah, kini tergantung sejauh mana seseorang menempatkan diri secara tepat sebagai hamba-Nya.

Pencuri Impian

gambar: satujam.com
Hati-hati, di dunia ini ternyata banyak orang yang menjadi pencuri impian. Siapakah dia? Yaitu mereka-mereka yang menghadirkan keraguan dalam pikiran, ketika kita mulai melakukan berbagai hal penting dalam hidup. Individu-individu yang mengajak berhenti saat kita memutuskan untuk memulai langkah.

Dahulu, sewaktu SMA, Saya pernah menjadi Kensi. Sebuah istilah untuk murid yang mempelajari Kempo di sebuah Dojo (perguruan). Diriku sangat tertarik dengan ilmu bela diri asal Jepang ini. Nah, lagi asyik-asyiknya mendalami bermacam jurus, tiba-tiba beberapa teman sepermainan (tetangga) memprovokasiku untuk segera berhenti. Menurut mereka, mempelajari Kempo takkan banyak berguna buatku.

Saya juga mengalami hal yang sama ketika pertama kali bergabung dengan organisasi Pramuka. Bagiku, ini adalah wadah yang baik untuk pembinaan moral dan karakter bagi pelajar seusiaku kala itu. Dan kurasakan memang sangat bermanfaat dan mengasyikkan. Kran potensi akhirnya terbuka dan menemukan salurannya. Eh, beberapa orang lantas datang menasihatiku agar tidak mengikuti organisasi yang diprakarsai oleh Lord Baden Powell itu.

Pada masa itupula, Saya mulai belajar menulis. Berani menuangkan ide pada beberapa lembar kertas. Ada rasa bahagia ketika kumpulan paragraf itu rampung. Apalagi saat dibaca dan mendapat apresiasi dari guru dan teman sekelas. Namun lagi-lagi, ada beberapa oknum yang menganggap karyaku itu tak bermanfaat. Tiada guna, hingga tak perlu meminta orang lain untuk membacanya.

Dan begitu pula saat diriku mulai menapaki beribu langkah lainnya guna meraih sejuta mimpi. Ada saja orang-orang yang selalu hadir memprovokasi agar mengurungkan langkah, menghadirkan keraguan, menyumbat motivasi dan mengaburkan niat.

Apakah Saya lantas berhenti? Tidak !!! Diriku memiliki keyakinan bahwa selama yang kulakukan itu benar, mendapat persetujuan dari orang tua, tidak merugikan orang lain, dan bermanfaat buatku saat ini dan masa depan nanti, maka pantang bagiku tuk surutkan langkah. Ku tutup rapat kedua telinga. Tak kubiarkan sedikitpun bisikan itu mempengaruhi ruang pikiran dan kesadaranku. Ini mimpiku, bukan punyamu, takkan kurelakan sedikitpun kalian mencurinya.

Di sebuah garis waktu, Saya akhirnya memahami bahwa tidak ada seorangpun yang bisa membuat kita gagal, sebab kitalah yang bertanggung jawab atas tindakan-tindakan kita. Tak elok menyalahkan orang lain saat diri kita salah melangkah. Sebagaimana setan tidak bisa dijadikan kambing hitam untuk meminta pengampunan atau pengurangan hukuman di akhirat nanti.

Oh iya, sepengetahuan Saya, diantara jenis manusia yang mencoba mencuri impian orang lain itu adalah individu-individu yang tidak memiliki mimpi dalam kehidupannya. Tapi ia tak ingin sendiri saja seperti itu, karenanya ingin diajak pula orang lain bersamanya. Baginya hidup itu ibarat air, mengalir saja. Tapi dirinya lupa bahwa air selalu mengalir ke tempat yang rendah. Itulah mengapa orang-orang semacam ini selalu berada di "kursi belakang".

Cinta, Rantai Motor, dan Istidraj

gambar: pngdownload.com
“Bersisik bukannya ikan, berpayung bukannya raja.” Apakah itu? Ya, tepat sekali, itulah nanas. Buah yang banyak tumbuh di Buton. Karenanya wilayah ini menjadikan buah tersebut sebagai iconnya. Oh iya, selain nanas, naga juga menjadi simbol untuk masyarakat yang berbudaya maritim ini.

Akan tetapi, buah yang biasa terpajang di atas bumbungan rumah tradisional ini sekaligus juga menggambarkan watak orang-orangnya. Diantara keunikannya adalah ia memiliki kulit luar yang kasar, tapi lembut daging buahnya. Begitupula manusia yang lahir di negri seribu benteng ini, diantara keunikannya adalah terlihat agak kasar, tapi sesungguhnya memiliki hati yang lembut.
Suatu hari, dengan mengendarai roda dua, Saya dan istri menyusuri dan menikmati indahnya pemandangan pantai Kotamara Baubau. Istriku mengenakan jilbab besar, dan tanpa disadari, ujung kerudungnya nyaris masuk ke rantai motor.

Seorang ibu yang juga mengendarai roda dua, tiba-tiba berteriak dari arah belakang: “Hei, jilbabmu (akan) masuk ke rantai.” Tapi itu bukan teriakan biasa, namun sebuah bentakan keras. Kami berdua kaget, dan istri Saya segera memperbaiki posisi kerudungnya agar tak melilit ke rantai motor. Sesuatu yang dapat membahayakan dirinya.

Saya lalu tersenyum pada ibu itu, sambil mengucap “terima kasih.” Tapi bagai pesawat tempur, beliau berlalu begitu saja, tanpa respon sedikitpun atas penghargaan kami. Well, bagi yang tak memahami hal semacam ini, bisa jadi akan hadir rasa ketersinggungan.

Tapi coba perhatikan dengan seksama, ternyata sang ibu begitu cinta dan peduli. Jika mau, dirinya bisa berlalu begitu saja, tanpa memperingatkan istri Saya akan bahaya yang bakal menimpa. Tapi itu tak dilakukannya. Mengapa? Sebab ia memiliki cinta dan kepedulian pada orang lain. Wanita itu tak ingin istri Saya celaka oleh sebab kerudung yang masuk dan melilit di rantai motor. Dari mana asal kepedulian ini? Tentu dari kebaikan, kepakaan, dan kelembutan hati.

Itulah orang Buton. Kasar secara penampakan, tapi memiliki kelembutan hati. Walau tentu saja, dalam kehidupan sehari-hari, tidak selalu kita menemukan perlakuan semacam itu. Banyak kok orang Buton, dalam konteks yang sama, ketika mengingatkan seseorang akan suatu bahaya yang menimpa, ia bertutur secara bijak dan tak membentak. Hanya saja, sekedar info, jika mengalami situasi serupa dengan yang Saya dan istri alami, mohon jangan tersinggung. Sebab itu watak melekat yang kadang muncul secara alami.

Waduh, panjang kali ya pengantarnya. Padahal, Saya cuma mau bilang bahwa ketika Allah SWT masih menegur kita, itu adalah wujud cinta-Nya pada seorang hamba. Yang Maha Kuasa ingin agar manusia tetap berada di jalan lurus. Jalur keberkahan yang menuntun ke Surga.

Sebab jika manusia tak lagi ditegur, pun tiada lagi yang mengingatkan, atau dibiarkan begitu saja masuk dan terus terjerembab dalam palung kemaksiatan, karena si hamba telah menutup hati, penglihatan dan pendengarannya, maka bersiaplah, sang hamba akan berangsur-angsur masuk dalam kebinasaan dalam cara yang sama sekali tak dipahaminya. Itulah istidraj.

Para Bunda Pejuang

gambar: pinterest.com
Sang ibu berasal dari sebuah desa di luar Kota Baubau. Ia seorang pedagang kelapa muda di Pasar Wameo. 7 (tujuh) hari dalam seminggu dirinya berada di pasar tradisional tepi pantai itu. Ia libur dari berjualan hanya jika ada hal penting yang tak bisa ditinggalkannya di kampung.

Tiap hari, kira-kira pukul 04.30 subuh, ibu itu meninggalkan rumah bersama suami tercinta, demi menjemput rezki di pasar wameo. Seharian ia di sana, sedang Ayah dari anak-anaknya berkeliling menyusuri tapak demi tapak jalan Baubau mengantar penumpang. Jelang Adzan Maghrib berkumandang, baru mereka kembali lagi ke rumah. 

Sang suami bekerja sebagai tukang ojek. Dan kedua pasangan itu bahu-membahu mencari nafkah agar asap dapur tetap mengepul. Dari kerja sama yang baik itu pula, mereka menghidupi para buah hati yang kini sedang mengenyam pendidikan di SD, SMP dan SMA.

Oh iya, Saya baru mengenal sang ibu sore tadi. Saat menikmati buah kelapa muda yang dijajakannya. Ia tak ragu bercerita beberapa hal padaku. Tentang kampungnya yang asri, suami, dan anak-anaknya. Entahlah, mungkin Saya adalah pembeli paling santun dan ramah Jum'at ini. Hehehe....

Tak jauh dari tempat itu, ada pula lapak darurat milik seorang ibu. Nah, ibu yang kedua ini telah lama ku mengenalnya. Ia juga berasal dari luar Kota Baubau. Desanya bertetangga dengan ibu pedangang kelapa muda. Di Pasar Wameo, ibu berusia setengah baya itu berdagang hasil kebun.

Yang membuatku kagum pada sang bunda kedua ini adalah dari hasil berdagangnya itu, ia menghidupi keluarga dan membiayai ketiga anaknya yang sedang kuliah. Tak tanggung-tanggung, anak-anaknya berkuliah di Makassar, Kendari dan Baubau. Luar biasa ibunda yang satu ini.

Dalam perjalanan pulang menuju rumah sore tadi, Saya membayangkan, alangkah indahnya jika anak-anak mereka menulis tentang perjuangan ibundanya. Tentu akan menjadi cerita yang sangat inspiratif....

Kalau Cinta Sudah Melekat....

gambar: ciricara.com
Membangun rasa cinta atau imaji positif pada anak tentang Sang Khaliq adalah sesuatu yang teramat penting dalam fase-fase awal perkembangan kehidupannya. Sebaliknya, jangan perdengarkan imaji negatif ke telinga mereka.

Misal, memberi hadiah sebuah Es Krim dan mengatakan bahwa hadiah itu adalah rizki dari Allah sebab dirinya rajin Sholat adalah lebih bijak dan tepat, ketimbang menakuti mereka dengan siksaan neraka saat tak mau belajar melaksanakan rukun Islam yang ke-dua itu.

Imaji positif ini penting, sebab pada saatnya nanti, ketika beban syar'i diletakkan pada pundaknya, mereka tak lagi merasakan itu sebagai beban. Kenapa? Sebab mereka amatlah Cinta pada Allah SWT. Bukankah orang yang mencintai akan melakukan apapun yang diperintahkan oleh yang dicintainya?
Di sini berlaku kaidah, "Kalau cinta sudah melekat, gula jawa rasa coklat." Lantas, kapan beban syar'i itu mulai diletakkan pada punggung manusia? Yaitu saat memasuki usia Aqil-Baligh. Sebuah masa ketika hukum syar'i/perintah Allah SWT sudah berlaku buat mereka.

Bicara soal cinta yang melekat, terus terang, dahulu Saya tak terlalu suka membaca buku-buku romantis. Aku lebih tertarik menghabiskan waktu menyelami buku-buku yang bertema motivasi, pergerakan, persilatan dan perang. Begitu juga tentang film. Silat/Kungfu dan perang adalah yang paling aku sukai.

Hingga akhirnya Saya menikah. Pada suatu hari, di awal-awal pernikahan, istri Saya menyodorkan sebuah buku romantis untuk ku baca. Well, seperti sudah kukatakan, diriku tak begitu tertarik dengan buku seperti itu.

Tapi, karena yang meminta adalah orang yang dicintai, akhirnya ku baca juga. Bermula dari momen itu, akhirnya Saya juga mengetahui bahwa ada artis Korea yang bernama Lee Min Ho. Demikianlah, "Kalau cinta sudah melekat, gula jawa rasa coklat."

Begitupula hari ini, pada kegiatan nonton bareng (Nobar) film 'Bunda: Kisah Cinta 2 Kodi'. Sejak seminggu lalu, Saya sudah bersemangat untuk menontonnya. Tapi tiba-tiba ada yang mengganjal di hari kemarin, sebab info dari seorang Bapak. Beliau berkata bahwa sejak awal hingga akhir, film tersebut akan membuat para penonton berurai air mata. "What?"

Sebelumnya Saya sudah mendengar sinopsis film keluarga ini. Sangat inspiratif dan recommended. Tapi, kalimat "bercucuran air mata" sejak awal hingga akhir itu, bukan gue banget. Dan akan menjadi peristiwa bersejarah yang akan dikenang sepanjang masa jika diriku ikut-ikutan terisak selama kurang lebih 2 (dua) jam. Apa kata dunia....

Tapi apa boleh buat. Istri sudah ngajak. Tiket sudah dipegang. Apalagi barusan dengar info kalo panitia Nobar akan meminta testimoni Saya tentang film yang diangkat dari buku karya Bunda Asma Nadia ini. Tetap semangat, "Kalau cinta sudah melekat, gula jawa rasa coklat."

Dia Melakukan, Aku Menonton

gambar: mancing.online
Saya dan Faiz (putra sulungku) sedang sibuk mencari umpan saat Bapak itu mulai memancing dengan metode yang unik. Seumur-umur baru kusaksikan. "Bapake bercanda ya?", batinku. Menurutku, teknik macam itu tak mungkin berjaya. Dan keyakinanku semakin berlipat sebab hingga 20 menit sejak pertama kali ku melihatnya, belum seekor ikanpun ia tangkap.

Bapak itu menggunakan sebuah botol minuman kemasan berukuran sedang. Sasarannya adalah kerumunan ikan kecil seukuran ibu jari orang dewasa. Mulut botol ia tutup, sedang bagian bawahnya dibolongi. Sebuah kail yang tersambung dengan tali pancing ia kaitkan pada sisi bagian bawah botol yang terbuka. Hingga jika ditarik ke atas, botol itu berada dalam posisi terbalik. 

Dengan tali pancing yang terikat di ujung ranting bambu, dari atas tumpukan bebatuan di tepi pantai, ia mengendalikan botol agar tetap mengambang tak jauh di bawah permukaan air. Berharap ada anggota kawanan ikan kecil yang sejak tadi berenang bergerombol kesana kemari tersesat masuk ke sisi botol yang terbuka. Nah inilah yang membuatku geleng-geleng kepala. Masa' sih mau-maunya hewan laut itu begitu saja masuk ke dalam botol. Gak mungkinlah. Orang yang aneh.

Hanya saja memang kusaksikan bahwa air laut yang terperangkap dalam botol itu berubah warna menjadi putih. Mungkin itu semacam umpan untuk menarik perhatian para ikan. Belakangan kutahu bahwa sebelum botol ia lempar ke laut, terlebih dahulu si Bapak memasukkan sedikit tepung terigu ke dalamnya.

Sudah 30 menit ia berusaha, tapi hasilnya belum juga nampak. Sang Bapak masih bersabar. Berulangkali digantinya terigu yang telah terbawa air laut. Hingga tiba-tiba.... 2 ekor ikan masuk perangkap, secepat kilat botol ia angkat. Dapat !!! Dan sejak itu keberuntungan berpihak padanya. Ada saja diantara rombongan ikan kecil itu yang nyangkut di botol. Seorang bocah membantunya memindahkan hasil tangkapan ke dalam belanga.

Oh iya, bagaimana dengan diriku, apakah sudah dapat ikan? Belum seekorpun. Kami masih berusaha menemukan banyak umpan. Sambil sesekali diriku menyaksikan tingkah unik si Bapak, yang bagai magnet terus menarik perhatianku. Ah, di Minggu pagi yang cerah tadi, kekata bijak itu terngiang di telingaku: "Orang sukses adalah mereka yang berbuat, disaat yang lain hanya menonton".

Perang dan Pesan Hidup

gambar: fee.org
Hackshaw Ridge, Saving Private Ryan, dan Band of Brother adalah film-film Box Office yang sukses manarik perhatian ribuan pasang mata untuk menyaksikannya. Mel Gibson, Stephen Spielberg, dan Tom Hanks merupakan tokoh-tokoh dibalik cinema yang berkisah tentang Perang Dunia II itu.

Saya sendiri adalah penggemar film perang yang bernuansa sejarah. Dan cinema-cinema yang Saya tuliskan di atas adalah 3 (tiga) diantaranya. Menurutku Hollywood berjaya menampilkan lakon pertempuran yang mirip dengan kenyataan sesungguhnya.

Dalam setiap film bergenre perang yang pernah kutonton, tak lupa sang sutradara selalu menampilkan adegan yang menurutku sangat manusiawi. Yaitu dialog para prajurit ketika berada dalam keadaan mencekam atau menghadapi pertempuran terakhir yang menentukan. Situasi saat nyawa mereka terancam.

Berkisahlah para prajurit itu satu sama lain tentang diri mereka. Apa yang telah dialami sebelum terjun dalam kecamuk perang, serta mimpi-mimpi yang ingin digapai. Tiba-tiba suasana spiritual hadir dalam relung kesadaran. Maka berdoalah ia pada Tuhannya, hal yang sebelumnya nyaris tak pernah dilakukan. Dirinya ingin mesra dengan Sang Pencipta.

Dan memang begitulah fitrah manusia. Kesadarannya tentang hidup dan kehidupan muncul ketika dihadapkan pada "ancaman" kematian. Inilah juga yang menjelaskan mengapa orang yang baru pertama kali bepergian dengan pesawat terbang, lebih panjang doanya. Seakan ada yang terus berbisik, "kalau pesawat jatuh, kamu pasti mati". Padahal, pesawat adalah alat transportasi paling aman di dunia (persepsi resiko).

Doa sepanjang itu mungkin jarang dilakukan oleh mereka-mereka yang berpetualang menggunakan kendaraan darat dan laut. Karena menganggap bepergian dengannya tak terlalu mengancam nyawa. Dari sini akhirnya kita memahami hikmahnya, mengapa kita dianjurkan oleh para guru dan ustadz untuk sesekali mengingat mati....

Sombong

gambar: ms.pngtree.com
"Sesungguhnya aku diberi (harta itu), semata-mata karena ilmu yang ada padaku." Kalimat yang diabadikan oleh Allah SWT, dalam Al Qur'an Surah Al Qasas ayat ke 78 ini berasal dari Qorun. Sebuah kalimat yang di dalamnya mengandung kesombongan.

So, jika ada anak manusia, ketika ia belajar sesuatu, lalu merasa paling berhak mendapat karunia Allah, kemudian dirinya berucap: "Ah Saya khan rajin belajar, gemar menuntut ilmu, maka pantaslah aku juara dan berprestasi." Hati-hati, kalimat macam ini mirip dengan ucapan Qorun. Ada kesombongan di dalamnya.

Sebab Allah SWT sangat benci dengan kesombongan. "Dan apabila dikatakan kepadanya, "bertakwalah kepada Allah," bangkitlah kesombongannya untuk berbuat dosa. Maka pantaslah baginya neraka Jahanam, dan sungguh (Jahanam itu) tempat tinggal yang terburuk. (QS. Al Baqarah, ayat 206)

Lalu apa yang harus dilakukan agar tidak terjebak dalam kesombongan? Sulaiman as, telah mengajarkan kita semua tentang hal ini. Nabi yang sedang berada dalam puncak kesholehan, prestasi, kuasa, kekayaan, keemasan, kemasyhuran dan kejayaannya, tapi berdoa kepada Allah:

"Ya Tuhanku, anugerahkanlah aku ilham untuk tetap mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada kedua orang tuaku dan agar aku mengerjakan kebajikan yang Engkau ridhoi; dan masukkanlah aku dengan rahmat-Mu ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang saleh." (QS. An Naml, ayat 19)

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More