Blog yang berisi catatan-catatan singkat dan sederhana. Mencoba menangkap dan menulis pesan bijak dari berbagai sumber.

About

This is default featured post 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured post 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured post 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured post 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured post 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Jumat, 19 Juli 2019

Balajar dari Ibrahim: Seperti apa anda ingin dikenang?

gambar: id.lovepik.com
"Ya Tuhanku, berikanlah kepadaku hikmah dan masukkanlah aku ke dalam golongan orang-orang yang sholeh, dan jadikanlah aku buah tutur yang baik bagi orang-orang (yang datang) kemudian, dan jadikanlah aku termasuk orang-orang yang memusakai surga yang penuh kenikmatan." (QS. Asy-Syu'ara, 83-85)

Pada akhir kehidupanmu nanti, dikau ingin dikenang seperti apa oleh orang lain? Kira-kira begitulah pertanyaan Stephen Covey dalam bukunya yang berjudul 'The 7 Habits of Highly Effective People'. Maka pesan beliau, biasakan untuk 'Merujuk Pada Tujuan Akhir'. Sebuah visualisasi yang dapat menyentuh sebagian dari nilai-nilai fundamental seseorang yang terdalam. Caranya? Bayangkan ketika anda meninggal nanti, ucapan seperti apa yang engkau inginkan keluar dari lisan orang-orang terhadapmu. 

Nah, Surah Asy-Syu'ara di atas, adalah doa Nabi Ibrahim kepada Allah SWT agar beliau menjadi pembicaraan yang baik setelah wafatnya. Sebuah permohonan yang Saya yakin, kita semua pun ingin begitu.

Untuk menjadi buah tutur yang baik bagi orang-orang yang datang kemudian, tentu kita harus meninggalkan sejarah hidup yang enak dibaca. Demikianlah yang terjadi pada Bapak para Anbiya. Ia menorehkan catatan kehidupan yang menjadi teladan sepanjang masa. 

Allah berfirman tentang Ibrahim: "Sesungguhnya telah ada suri tauladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia." (QS. Al Mumtahanah, 4)

Menghadirkan kemanfaatan bagi sesama adalah salah satu cara untuk membuat sejarah hidup yang baik. Apa yang kemudian kita sebut dengan amal sholeh. Sesuatu yang lahir dari keikhlasan dan penghambaan pada Sang Pencipta. Sebuah refleksi dari keimanan.

Sayyid Quthb dalam tafsir Fi-Zhilalil Qur'an barkata: "Amal shalih adalah buah dari keimanan, dan gerak yang bermula pada detik dimana hakikat keimanan itu menghujam di dalam hati. Maka keimanan adalah hakikat yang aktif dan energik. Begitu hakikat keimanan menghujam di dalam nurani maka pada saat itupula ia bergerak mengekspreaikan dirinya di luar dalam bentuk amal shalih.

Itulah iman Islami. Tidak mungkin tinggal diam tanpa gerak, atau tersembunyi tanpa menampakkan diri dalam bentuk yang dinamis di luar diri sang Mu'min. Jika tidak bisa melahirkan gerakan yang alami tersebut maka keimanan itu berarti palsu atau mati. Sama seperti bunga yang tidak bisa menahan semerbak wewangiannya. Ia pasti muncul secara alami. Jika tidak, bisa dipastikan tidak ada!"....

Penanda Rezki vs Sedekah Pohon

gambar: pinterest.com
Pohon itu memiliki batang nan besar, agak tinggi menjulang ke langit. Daunnya jarang, mungkin berguguran sebab musim panas yang panjang. Tapi ada bunga-bunga yang mekar hampir di setiap cabangnya. Warna merah tua kembang itu. Seorang Sahabat yang menemaniku berkata bahwa munculnya bunga itu adalah penanda waktu panen ubi kayu akan segera tiba. "Begitu ya", gumamku.

Beberapa hari kemudian, di tempat yang terpisah, Saya duduk di bawah sebuah pohon Jambu Monyet. Saat itu beberapa sahabat menemaniku. Pohon yang banyak tumbuh di pulau Buton itu sedang berbunga. Tanda tak lama lagi musim Jambu Mete segera tiba. Seorang sahabat memberitahuku bahwa ketika musim buah begitu melimpah, maka di lautanpun, ikan tangkapan nelayan juga melimpah. "Wow", kataku.

Saya segera mempercayai perkataan sahabatku itu. Mengapa? Sebab ia yang kini telah menjadi pengusaha sukses adalah sosok yang akrab dengan kehidupan nelayan, tapi pada saat yang sama juga kenal dengan kehidupan bercocok tanam di daerahnya. Jadi, punya pengalaman lapangan tentang hal yang diucapkannya.

Bicara soal tanaman dan hasilnya, Allah SWT berfirman: "(Dialah) yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap, dan Dialah yang menurunkan air (hujan) dari langit, lalu Dia hasilkan dengan (hujan) itu buah-buahan sebagai rezeki untukmu. Karena itu, janganlah kamu mengadakan tandingan-tandingan bagi Allah, padahal kamu mengetahui." (QS: Al Baqarah, 22)
Ayat di atas menunjukkan kepada kita bahwa buah-buahan adalah rezki. Dihadirkan oleh Pencipta sebagai tanda cinta-Nya pada setiap hamba. Dan jika manusia bersyukur atas pemberian-Nya, maka Allah akan melipatgandakan rezeki itu.

Tapi, di penghujung ayat di atas, Allah SWT menegaskan: "Karena itu, janganlah kamu mengadakan tandingan-tandingan bagi Allah, padahal kamu mengetahui." Artinya apa? Cara kita bersyukur atas hasil bumi yang diberikan Sang Pencipta adalah dengan menghamba pada-Nya. Dengan melaksanakan ibadah sesuai tuntunan Allah dan Rasul-Nya. Bukan dengan membawa "sedekah" pada makhluk yang dipercaya menghuni pohon besar itu, dan bukan pula dengan memberi "sedekah" pada makhluk yang dipercaya menjaga laut dalam.

Olah Raga dan Etalase Kecerdasan Emosi

ilustrasi: gambaranimasi.org
Di Piala Dunia tahun 2002 yang lalu, Ronaldinho mencetak gol yang menurutku spektakuler ke gawang timnas Inggris. Lewat tendangan bebas jarak jauh yang terukur, pemain andalan Brazil tersebut berhasil memperdayai David Seaman yang kala itu menjaga gawang The Three Lion. Gol tersebut selaligus menjadi gol kemenangan tim Samba atas David Beckham cs. Skor akhir 2 - 1 untuk Joga Bonito.

Menurut pendapat Saya, dalam dunia sepak bola, para eksekutor bola mati yang kerap sukses melaksanakan tugasnya adalah sosok yang cerdas. Ada beberapa dewa tendangan bebas yang kukenal hebat. Mereka adalah David Beckham, Juninho Panambucano, Gianfranco Zola, Andrea Pirlo, Roberto Carlos, bahkan Cristiano Ronaldo dan Lionel Messi. Mereka mampu mengendalikan arah bola dengan baik. Pikiran, rasa dan gerak kaki mereka berpadu indah, seiya-sekata menghasilkan gerak bola yang parabol atau pisang dalam jarak yang tepat untuk menjaringkan bola.

Dalam dunia panahan, khususnya bagi kami di Club Wolio Archery Community (WAC) Kota Baubau, mengenal beberapa prinsip memanah. Yaitu fokus, calm, brave dan Win. Keempat hal ini menjadi guide bagi seorang pemanah, bahwa jika ingin melepaskan anak panah menuju sasaran yang terpat (X), maka harus memiliki, fokus yang baik, ketenangan, keberanian mengambil keputusan dan kepercayaan diri. Ada pikir, rasa dan gerak yang berpadu di sana.

Bicara soal pikiran, perasaan dan tindakan, Saya jadi teringat dengan pengertian kecerdasan emosi yang dikemukakan oleh Hermanto Kosasih. Beliau adalah salah satu trainer idola Saya. Kosasih mendefinisikan Kecerdasan Emosi sebagai "kemampuan secara sadar untuk menggabungkan pikiran, perasaan dan tindakan untuk bersahabat dengan diri sendiri dan orang lain". Ada ya orang yang tidak bersahabat dengan dirinya? Banyak. Bunuh diri, operasi plastik (ganti wajah sebab gak pede), dan lain-lain.

Dalam konteks kehidupan sehari-hari, berdasar definisi diatas, agar hubungan atau komunikasi dengan sesama terjalin baik dan hidup makin harmonis, maka diperlukan pengendalian emosi yang baik. Ibarat eksekusi bola mati dalam sepak bola, laju bola yang parabol atau pisang harus bersesuaian dengan jarak posisi gawang, hingga tercipta gol indah. Di balik itu ada pikiran, perasaan dan tindakan positif yang berpadu indah....

Polly dan Karna: Kenyamanan Cinta

gambar: jeansda.blogspot.com
Pada tulisanku yang berjudul 'Cinderella, Ti Pat Kay dan Jodoh dari Langit', di buku 'My Love My Adventure', Saya telah menjelaskan bagaimana kekuatan akhlaq mengalahkan pesona wajah. Saat seseorang tak lagi memperhatikan ketampanan, sebab telah tertutupi kemolekan akhlaq. Kerenanya Saya setuju jika ada yang berkata: "ketika anda mapan dan laku-budi baik, maka orang-orang akan memaafkan tampangmu". Sekedar info, tampan/cantik itu relatif ya.

Adalah Polly Alexandria dan Karna Radheya, beberapa hari ini menjadi perbincangan hangat di jagad media sosial. Apa pasal? Polly, gadis berparas cantik asal Inggris menikah dengan lelaki dari Muntilan, Kabupaten Magelang. Dialah Karna, perjaka yang beruntung itu. Ia yang penampakan wajahnya biasa saja, disebut ganteng tidak, disebut jelek juga susah, kini telah resmi jadi suami gadis asal Britania tersebut. "Kok bisa ya?", penasaran para netizen.

Bagiku, sebenarnya pertanyaan atau rasa penasaran di atas tak perlu hadir, jika sejak awal telah memahami rumus jodoh. Salim A Fillah menyebutnya dengan kesamaan, kegenapan dan keseimbangan. Sebuah formula yang menurutku di dalamnya mengandung salah satu kata yang telah disenandungkan oleh Riski Febian, yaitu "kenyamanan". Nah kata inilah yang menyatukan keduanya.
Ah, hari-hari ini orang pada ribut soal paras. Pingin dapat pangeran atawa putri. Iya, betul bahwa itu memang penting juga, sebab apa kata dunia bila wajah pasangan membuat kita mual-muntah jika menatapnya. Karenanya Islam menjadikan kecantikan sebagai kriteria. Tapi yang jauh lebih utama dari itu adalah soal Akhlaq (ketampanan laku-budi). Inilah yang akan membuat bahagia dunia-akhirat....

Merajut Kenangan untuk Hidup Abadi

gambar: youtobe.com
Ada dunia lain di film animasi yang berjudul Coco. Semesta yang mirip dengan ruang kehidupan manusia. Tapi yang menempatinya adalah mereka-mereka yang telah meninggal dunia. Kehidupan layaknya manusia bernyawa dengan berbagai fasilitas yang dimiliki. Punya rumah, makan, minum, berpikir, bernyanyi, berpakaian, bermasyarakat, ada tempat hiburan, pelayanan publik dan lain sebagainya. Bedanya, sosok-sosok yang mendiaminya tak lagi miliki kulit pembungkus tubuh, hanya menyisakan mata dan tulang-belulang saja (tengkorak berjalan).

Pada waktu tertentu, diantara sosok-sosok itu bisa tiba-tiba lenyap. Tubuhnya hancur dan terbang bersama angin. Mengapa bisa begitu? Sebabnya adalah sanak keluarga yang masih hidup di dunia, telah melupakannya. Karena ingatan dan kenangan padanya telah terhapus dalam memori orang tua, kakak, adik, suami, istri atau keturunannya. Sebaliknya, jika memori itu tetap ada, mereka akan kekal di situ. Dan sesekali bisa menyebrangi jembatan untuk mengunjungi kerabatnya yang masih hidup di dunia nyata.

Ah, namanya juga film, ya begitu itu. Imajinasi sang pembuat film yang ia wujudkan dalam karya. Sebagai penonton, Saya sangat menikmatinya. Jadi hiburan yang menarik di Senin pagi ini. I like Monday. Well, bicara soal kenangan, ada lho manusia yang sudah meninggal tapi masih hidup. Kok bisa? Itulah mereka yang meninggalkan kenangan indah di dunia. Menggores tinta emas dalam kanvas kehidupan manusia. Menanam pohon kebaikan yang buahnya dirasakan oleh orang banyak. Nah, mereka-mereka inilah yang tetap hidup walau telah meninggal dunia. Hidup di hati banyak orang, sebab amal baik yang dibuatnya....

Katak dan Raja Hoax

gambaranimasi.org
Ketika Baginda Shallallahu 'alaihi wasallam, Muhammad bin Abdullah di angkat menjadi Nabi terakhir oleh Allah SWT, kaum musyrikin Quraisy bertanya-tanya, mengapa risalah kenabian itu tidak diberikan pada salah satu dari 2 (dua) intelektual ternama masa itu. Mereka adalah Al Walid bin Al Mughirah dari Makkah dan Mas'ud bin Amr Ats-Tsaqofi dari Tho'if.

Dua orang di atas adalah sastrawan besar, dianggap paling pandai, dan berhak menyandang gelar cendekiawan. Pertanyaan tersebut di abadikan dalam Al Qur'an Surah Az-Zukhruf ayat ke 31. Mengapa mereka bertanya demikian? sebab bangsa Arab kala itu sangat mengagungkan sastra. Dan para sastrawan mendapat tempat terhormat lagi mulia pada masyarakat Quraisy.

Tapi, tentu Allah lebih tahu pada siapa Ia menitipkan risalah-Nya. Muhammad SAW adalah orangnya. Putra Abdullah ini memiliki apa yang disebut dengan Uswatun Hasanah. Belakangan, Al Walid bin Al Mughirah, salah satu sastrawan besar itu mengakui bahwa nilai Al Qur'an yang turunkan pada Rasulullah lebih tinggi dari sastra yang mereka agung-agungkan.

Menjelang wafatnya Sang Nabi, seorang pemimpin Yamamah, daerah yang terletak di sebelah timur Saudi (sekarang), memproklamirkan dirinya sebagai nabi. Sebuah hoax terbesar kala itu. Rasulullah SAW segera memberi gelar orang ini dengan Al Kazzab (pembohong). Namanya adalah Musailamah. Maka jadilah ia Musailamah Al Kazzab.

Si pembohong ini punya kemampuan sastra yang cukup. Dengan kepiawaiannya itu, dan demi mendapat legitimasi kuat dari pengikutnya, ia mencoba membuat ayat-ayat untuk menandingi kitab suci Al Qur'an. Berikut salah satu ayat dari Musailamah sang pembohong: "Wahai katak betina anak dari dua pasang katak. Bersihlah apa yang kamu bersihkan. Air tidak kamu kotori dan peminum tidak kamu halangi. Kepalamu di dalam air sedangkan ekormu di darat."....

Dilan dan Pengadilan untuk Ayah

gambar: id.pikbest.com
Jika anak belajar tentang nilai-nilai cinta, kasih sayang, ketulusan, tenggang rasa, kebersamaan dan keikhlasan dari ibundanya, dari manakah buah hati belajar tentang nilai-nilai ketegasan, keberanian, keberbedaan, profesionalisme dan perjuangan? Ya, dari ayahandanya. Oleh sebab anak membawa kromosom ayah-bunda, maka kedua orang tua harus bekerja sama dalam mendidik si kecil menuju aqil-balighnya.

Nah, jika ada perempuan, sudah baligh (pubertas), tapi gampang dirayu, mudah diajak, tak cukup memiliki individualitas dalam mempertahankan privasi dan hak-hak tubuhnya, maka dalam konteks pendidikan anak, siapakah pihak (orang tua) yang paling bertanggung jawab? Ya, jawabnya adalah ayah.

Mengapa demikian? Sebab ego, kepercayaan diri, individualitas dalam mempertahankan privasi dan hak-hak tubuhnya, keberanian untuk menolak, hanya dapat diperoleh dari sosok ayah. Dan bukan ibu. Jika ia punya itu semua, sebab dekat dengan bapaknya, anak takkan mudah disentuh, dicium, dan perbuatan zina lainnya oleh lelaki tak bertanggung jawab.

Maka duhai para ayah, hati-hati, jika ada seorang laki-laki (sebut saja namanya Dilan), tak berani ngajak nikah, maunya hanya merayu, mempengaruhi, melampiaskan nafsunya, dan membuat putri anda tak dapat mempertahankan privasi dan hak-hak tubuhnya, berarti ada masalah dengan cara mendidik anda. Yang itu akan dikau pertanggung jawabkan di pengadilan Allah SWT....

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More