 |
| gambar: lovepik.com |
Saat memakai seragam putih-merah semasa SD dahulu, rasanya ingin
segera menggantinya dengan putih-biru. Postur tubuh yang lebih tinggi
membuat diri jadi minder sewaktu melihat senior memakai seragam SMP tapi
postur tubuhnya lebih pendek. Bahagia rasanya jika nanti sudah duduk di
bangku Sekolah Menengah Pertama.
Ketika telah berubah status
jadi siswa SMP, setelah berbilang semester berjalan, tiba-tiba pingin
segera beralih jadi pelajar SMA. Apa pasal? Tubuh yang semakin meninggi,
tapi seragam bercelana pendek masih melekat di tubuh. Malu (lagi)
rasanya.
Nah, kini sudah di SMA, pakaian putih-abuabu telah jadi
busana harian ke sekolah. Sudah sampai sejauh ini, ternyata masih ada
pula yang dirasa tak nyaman. Entahlah, mungkin sebab bertahun-tahun
dibungkus seragam sekolah, ada sedikit rasa "terpenjara". Bebas rasanya
jika belajar sambil memakai pakaian bebas rapi seperti mahasiswa yang
menjadi tetangga rumah itu.
Dan sekarang, mimpi menjadi mahasiswa
pun terwujud. Apakah masalah selesai? Belum. Ketika melihat para senior
sudah beroleh gelar sarjana, pinginnya juga segera begitu. Tugas kuliah
yang menumpuk, jadwal presentasi makalah yang nyaris tak ada habisnya,
bertemu dosen "killer", bayang-bayang skripsi yang menakutkan, huh
rasanya ingin segera ditinggalkan.
Alhamdulillah, tibalah kini
hari wisuda. Wajah cerah, senyum merekah dan bahagia melangit. Di
belakang nama sudah ada titel sarjana. Percaya diri berlipat pangkat
now. Sudah puas sekarang? Ternyata belum. Melihat kakak yang senin-sabtu
bekerja dan beroleh penghasilan, rasanya sesuatu banget. Asyik jika
bisa seperti itu juga. Badan sudah segede ini, malu jika minta uang
terus sama ortu.
Dan akhirnya, kini Aku punya pekerjaan. Walau
belum tetap, yang penting tetap bekerja. Tapi masih ada yang kurang.
Undangan pernikahan dari para sahabat dan kerabat yang nyaris tiap bulan
datang, ditambah pula dengan para pengantin baru yang tak berkesudahan
meng-upload foto romantis di facebook, terus-menerus meneror hatiku. Ya,
diriku ingin segera bersanding pula di pelaminan. Bukankah setiap insan
diciptakan berpasang-pasangan?
Baiklah, fesenya kita hentikan
sampe di pelaminan saja ya. Sebab jika diteruskan, gak bakal berhenti.
Apa yang ingin Saya sampaikan adalah bahwa sejak sekolah dasar, relatif
kita sudah menemukan masalah dalam hidup. Dan sejak saat itu sampai
ujung usia masalah datang silih berganti.
Akan tetapi, sebagian
kita tidak memandang masalah sebagai bagian kehidupan yang harus
dihadapi dan diselesaikan dengan bijak. Bahwa ia adalah sesuatu yang
mendewasakan.
Orang-orang hanya melihat kehidupan orang lain
yang dianggapnya luas, lalu membandingkan dengan dirinya yang sedang
dirundung masalah. Ia berkeyakinan bahwa jika memiliki kehidupan yang
luas seperti orang yang menjadi rujukannya itu, maka masalahnya akan
berakhir.
Padahal tidak begitu. Alih-alih masalahnya
terselesaikan, yang dilakukannya itu justru akan membuat hidupnya makin
sempit. Ya, memandang kehidupan orang lain yang dianggap lebih luas, dan
tidak bersyukur dengan apa yang dimiliki, sesungguhnya telah membuat
hidup berada dalam kesempitan.
Well, dalam rentang kehidupan
antara kelahiran dan kematian, Yang Maha Kuasa memberikan ujian buat
hamba-Nya. Maka tiap orang pasti ada ujiannya, dan tiap insan beda
masalah kehidupannya. Tapi Allah SWT tidak memberikan ujian buat
manusia, kecuali ia juga dibekali kesanggupan untuk menyelesaikannya.
Nah, kini tergantung sejauh mana seseorang menempatkan diri secara tepat
sebagai hamba-Nya.