Blog yang berisi catatan-catatan singkat dan sederhana. Mencoba menangkap dan menulis pesan bijak dari berbagai sumber.

About

This is default featured post 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured post 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured post 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured post 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured post 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Sabtu, 16 Januari 2016

Bom Sarinah & Pola Baru Kehidupan

Sumber gambar: Tribun.com
           Jakarta kembali diguncang Bom. Kali ini di Jalan MH Thamrin, kawasan Sarinah, Jakarta Pusat. Selubung awan duka merundung Ibu Kota pada Kamis, 14 Januari 2016. Dan seingat Saya, sudah beberapa kali peristiwa yang sama terjadi di pusat pemerintahan Indonesia itu. 
           Tahun 2003 bom meledak di kawasan Mega Kuningan dan menghancurkan hotel JW Marriott. Tahun 2004, bom meledak lagi di depan Kedubes Australia, kawasan Kuningan Jakarta. Selanjutnya di tahun 2009, bom kembali meledak di hotel mewah Ritz-Carlton dan JW Marriott, yang berakibat batalnya juara Liga Inggris, Manchester United (MU) bertandang ke Gelora Bung Karno.
           Tujuan teror semacam ini tentu untuk menghadirkan ketakutan, kepanikan dan kecemasan pada warga masyarakat. Walau sebagian penduduk Jakarta kemudian bereaksi dengan mengucap: “Kami tidak takut teror”, tapi seorang pakar psokologi yang Saya tonton tadi pagi di sebuah TV berita (swasta) nasional mengatakan: “Tujuan teror berhasil…!!!”. 
            Baiklah, pada kesempatan ini Saya tidak membahas tentang dampak sosial, politik, ekonomi dan global dari Bom Sarinah ini. Biarlah para ahli yang menjelaskannya. Dan detail tentangnya bisa kita simak di berbagai sajian pemberitaan media. Saya hanya membahas hal yang sederhana, tapi masih ada hubungannya dengan bom meledak, yaitu tentang perubahan pola. Oh iya, apa yang terjadi pada Anda saat sedang terlibat pembicaraan, lalu tiba-tiba mendengar bom meledak atau petir menggelegar? Tentu akan keget dan percakapan terhenti saat itu juga. Namun, setelah rasa kaget hilang, apa yang terjadi dengan percakapan Anda sebelumnya? Ya, topik pembicaraan benar-benar terlupakan. 
          Terkait hilangnya topik pembicaraan tersebut, Bong Chandra dalam bukunya yang berjudul ‘The Science of Luck’ berujar: “Kenapa tiba-tiba kita lupa topik yang sedang kita bicarakan sebelumnya? Itu terjadi karena pola kita telah dirusak oleh sesuatu yang ekstrem…”. Dan sesuatu yang ekstrem itu adalah petir dan bom. 
           Nah, apa yang dimaksud dengan ‘Pola’? Sebelum kita menjawabnya, Saya akan bercerita sedikit tentang tokoh Patrick dalam film kartun Sponge Bob Square Pants. Si Bintang laut yang juga sahabat Sponge Bob ini adalah anak yang pemalas. Rutinitas hariannya tidak patut untuk di contoh. Ia bangun di pagi hari setelah jam wekernya berdering berulang-ulang dalam waktu yang cukup lama. Usai terbangun dan menghancurkan jam wekernya, ia lalu menuju kulkas. Hanya sedikit makanan kaleng pada kulkas yang terdapat sarang laba-laba di dalamnya. Di dapurnya, sisa makanan berserakan di mana-mana. 
            Sudah itu ia ke kamar mandi. Lalu membersihkan diri dengan cara yang agak menjijikkan. Sekedar info, selain pemalas, Si Patrick ini adalah sahabat sponge bob yang konyol, lucu sekaligus menjengkelkan. Usai menyelesaikan rutinitasnya di dalam rumah, ia lalu melanjutkan kekonyolannya ke luar rumah, dalam keseharian di Bikini Buttom. Tiap hari begitu modelnya. 
           Rutinitas atau kebiasaan buruk Patrick ini, adalah Pola. Semakin Si Bintang Laut ini mengalir mengikuti pola-nya, maka semakin sulit ia keluar dari pola tersebut. Dan setiap orang tentu memiliki pola. Baik itu pola yang baik, atau pola yang buruk. Pola yang baik harus dipertahankan. Tetapi pola buruk, tentu harus di ubah. Sebab hal buruk dapat merugikan kehidupan seseorang dalam segala hal. 
             Bayangkan saja, manajemen waktu yang buruk, kebiasaan menunda, selalu menyalahkan orang lain, sulit berkonsentrasi, pesimisme berlebihan, stress yang berkepanjangan dan lain sebagainya, semua ini adalah pola buruk. Tentu ini sekaligus berdampak buruk pada karir dan kehidupan seseorang. 
             Pertanyaannya adalah, bagaimana cara mengubah pola buruk? Salah satu jawabannya adalah dengan melakukan suatu hal yang ekstrem. Mendengar bom meledak atau suara petir yang menggelegar adalah analoginya. Sebagaimana telah disinggung pada paragraph di atas, orang-orang yang sedang asyik bercakap, lalu tiba-tiba kaget mendengar suara bom meletus atau petir menggelegar, akan terlupa dengan topik pembicaraan sebelumnya, ketika rasa kagetnya hilang. 
         Begini penjelasannya. Kata Bong Candra, kebiasaan buruk bisa diubah secara ilmiah. Menurut Developer-Author-Motivator ini, yang harus dilakukan adalah: Pertama, merusak pola (buruk) tersebut dengan melakukan hal lain yang tidak berhubungan (melakukan hal ekstrim positif yang tidak berhubungan). “Contohnya: seseorang yang sedang dalam keadaan marah, akan mendadak tenang hatinya setelah ia mandi dengan air yang sangat dingin”. Jelas Chandra. Inilah yang dimaksud dengan analogi mendengar bom meletus atau petir menggelegar. 
         Kedua, Lakukan dengan cepat. Hal kedua yang perlu diperhatikan dalam merusak pola adalah kecepatan. Kecepatan akan membuat kesempatan untuk berpikir semakin sempit. Jika kita sedang terjebak dalam pola (mood) yang buruk, segera lakukan lari pagi untuk merusak pola itu. Sebab sesuatu yang dilakukan dengan cepat akan membuat otak sulit berkonsentrasi pada pola yang lama, dan inilah kesempatan terbaik untuk memasukkan pola baru yang lebih positif. 
            Ketiga, Ganti Suasana. Salah satu klub sepak bola terbesar di dunia mengajak para pemainnya untuk bersenang-senang satu hari sebelum pertandingan final. Hal ini dipercaya dapat merusak pola ketegangan yang dihadapi para pemainnya saat menjelang pertandingan final. Ternyata strategi ini terbukti efektif, para pemain bermain dengan lepas tanpa tekanan dan berhasil meraih kemenangan. 
          Suasana memegang andil penting dalam membentuk sebuah pola. Sama halnya yang terjadi di kota besar seperti Jakarta. Banyak penduduk ibu kota memiliki tingkat stress yang sangt tinggi, disebabkan polusi, macet dan banjir. Dalam keadaan stress, tentu akan sulit menemukan ide. Maka warga Jakarta sering memanfaatkan waktu liburnya untuk mertamasya ke luar kota, mencari suasana baru. Cara ini dinilai sangat efektif dalam menghadirkan ide-ide yang kreatif. 
          Keempat, Mengubah Gerakan. Hal terakhir yang dapat mengubah pola adalah gerakan. Gerakan pada saat orang tertidur merangsang otak untuk bermalas-malasan. Lain halnya jika seseorang berdiri, berjalan, berlari atau melompat. Otak akan merespon informasi melalui gerakan tubuh. Jadi, jika ingin merubah pola lama (malas), ubahlah gerakan tubuh. “Ingat, keberuntungan akan berpihak kepada orang yang rajin, kerajinan kita dibentuk dari mood, dan mood kita dibentuk oleh gerakan”. Pungkas Chandra. 
            OK, sudah tahu khan cara merubah pola? Baiklah kita kembali lagi ke Bom Sarinah yang Saya tulis di paragraph paling awal. Ternyata suara bom tidak saja membuat orang benar-benar lupa pada topik pembicaraan sebelumnya. Bahkan membuat orang nyaris lupa pada peristiwa sejarah. Setidaknya itu yang terjadi dengan Saya. 
            Akibat pemberitaan media yang begitu massif tentang tragedi bom sarinah, sebagai orang yang pernah ikut aktif dalam dunia gerakan mahasiswa, Saya hampir saja lupa bahwa tanggal 15 Januari ada peristiwa penting dalam sejarah gerakan Mahasiswa di tanah air. Para aktivis menyebutnya dengan MALARI (Malapetaka Lima Belas Januari), yang terjadi pada tahun 1974. 
            Aksi ribuan Mahasiswa di Jakarta yang menyebar ke beberapa daerah, dilakukan untuk memprotes hegemoni intervensi asing di Indonesia. Demonstrasi besar-besaran ini berujung bentrok. Dan peristiwa ini sekaligus menjadi tonggak awal represi Orde Baru hingga 32 tahun lamanya. 
          Itulah hebatnya Bom. Bisa membuat orang lupa. Saran saya, gunakanlah analogi bom ini untuk merubah pola kebisaan buruk menjadi kebisaan baru yang positif. Dan mulailah melakukannya, sebab kita tidak akan pernah menjadi sesuatu sebelum memulai.

Selasa, 12 Januari 2016

Hukum Alam & Pengembangan Kapasitas Diri

Sumber gambar: diaryrima22.blogspot.com
          Archimedes dan bak mandi. Pernah dengar kisah unik Archimedes yang melompat keluar dari bak mandi? Baiklah, bagi yang belum, akan Saya ceritakan, tapi dengan sedikit penambahan bumbu cerita. Archimedes adalah seorang ahli matematika yang terkenal dan mendunia. Suatu hari Ia diundang olah Raja untuk menghitung volume kandungan emas pada mahkota Sang penguasa itu. Ahli matematika itupun setuju untuk memenuhi permintaan tersebut. 
          “Bagaimana cara Anda melakukannya?” Tanya Sang Raja kemudian. 
         “Saya akan meleburnya terlebih dahulu, lalu menghitung volumenya”. Jawab Archimedes. 
      “(Lah) kalo cuman begitu caranya, Saya juga bisa menghitung volumenya. Maka untuk apa Saya mengundang Anda? Maka (mohon) hitunglah volume kandungan emas pada mahkota Saya tanpa meleburnya.” Titah Sang raja. 
         Cukup lama Archimedes berpikir dan berusaha memecahkan problem matamatika dari Sang Raja. Dan pikiran itu Ia bawa sampai ke kamar mandinya. Sambil berendam di bak mandi, ia terus berpikir dan berpikir. Sampai akhirnya Ia berteriak “Eureka! Eureka! Eureka”. Teriakan ini diucapkannya sambil melompat keluar dari bak mandi. Rupanya Sang matematikawan ini menemukan inspirasi menghitung volume mahkota raja dari bak mandinya. 
         Kira-kira begitulah inti ceritanya. Saya ingin memulai tulisan ini dari kisah legendaris tentang Archimedes dan bak mandinya, untuk menjelaskan tentang pengembangan kapasitas diri. Jika Archimedes menemukan inspirasi dari bak mandi, maka sayapun menulis pengembangan kapasitas diri terinpirasi dari bak mandi. 
           Ada apa dengan bak mandi? Sebelum berbicara panjang lebar tentangnya, Saya ingin bererita sedikit tentang beberapa momen yang terjadi setahun lalu. Selama tahun 2015, beberapa kali Kota Baubau kedatangan pribadi-pribadi yang menurut Saya sungguh luar biasa. Mereka adalah trainer, motivator, hipnoterapis, public speaker dan penulis buku. Alhamdulillah Saya berkesempatan mengikuti seminar dan pelatihan yang mereka lakukan. 
          Diantara mereka ada yang Saya undang secara pribadi, yaitu Bapak Asep Bruder, CHt, IBH, CI, untuk berbicara pada Seminar Keluarga yang bertema ‘Meraih Keluarga Harmonis dengan Hipno Tauhid’. Sementara Bapak DR. Anshar Akill dan beberapa trainer nasional lainnya hadir memenuhi undangan berbagai instansi di Kota Semerbak. 
           Gaya mereka tentu berbeda. Maksud Saya, ada spesifikasi khusus yang ditampilkan tiap pembicara itu. Tapi sebutan yang disematkan untuk pribadi-pribadi itu tetap sama. Mereka adalah Trainer, Motivator, Hipnoterapis, Public Speaker dan Penulis Buku. Semua kualifikasi ini menyatu dalam diri mereka masing-masing. Luar biasa. 
        Seorang Sahabat sempat berbisik kepada Saya: “Kok mereka bisa sehebat itu?” Saya hanya tersenyum mendengarnya. Tentu jawaban paling umum yang bisa kita berikan untuk pertanyaan Sahabat Saya tersebut adalah bahwa segala sesuatunya bisa dicapai jika kita senantiasa belajar dan bekerja keras untuk menggapainya. Atau dalam bahasa lain adalah memperluas daya tampung diri. 
           Nah, sekarang kita kembali ke bak mandi. Berbicara tentang daya tampung, Saya jadi teringat dengan Bak Mandi di rumah kami. Ukurannya tidak besar, tapi juga tidak kecil. Volumenya hampir sama dengan box/tangki air langganan kami yang di pesan (kira-kira) 2 (dua) minggu sekali. Itu tuh yang biasa diantar keliling dengan mobil L-300 atau sejenisnya. Oh iya, kenapa kami pesan tiap 2 (dua) munggu sekali? Maklum, sudah berbulan-bulan, sampai tulisan ini di buat, air PDAM gak mengalir. Hehehe 
            Ada apa dengan Bak Mandi di rumah kami? Ini tentang kapasitas atau daya tampung. Ia hanya bisa menampung untuk sekali pesanan. Karena hanya sebesar itu volume daya tampungnya. Tak bisa lebih dari itu. Sebab jika dipaksakan untuk menampung lebih dari kapasitasnya, air akan tumpah membanjiri sekitarnya. Jika kami ingin menambah kebutuhan air lebih banyak lagi, maka tentu kami harus memperbesar daya tampungnya. 
           Bak mandi kami adalah analogi kapasitas manusia. Maksudnya? Selain sahabat Saya di atas, mungkin kita semua juga bertanya-tanya, mengapa para trainer yang Saya sebutkan pada tulisan ini memiliki kualifikasi yang luar biasa? 
            Jawabannya adalah karena orang-orang itu memperluas daya tampung diri mereka. Dan “cara terbaik yang dapat dilakukan untuk memperluas daya tampung tersebut adalah dengan meningkatkan pengetahuan”, Kata Bong Chandra (Seorang developer-Author-Motivator), dalam bukunya yang bejudul ‘Science of Luck’. Jadi, Belajar dan belajar. Membaca dan membaca. Fokus, konsisten dan berkesinambungan. Sehingga kapasitas pengetahuan semakin luas. Dan dari sinilah setiap orang bisa menjadi unggul. 
            Saya punya seorang teman. Beliau seorang pembelajar sejati. Saat kerumahnya, Saya menyaksikan tumpukan buku di beberapa lemari. Tapi itu bukan untuk dipajang begitu saja. Buku-buku itu beliau lahap tiap hari. Menariknya adalah Ia juga mengalokasikan sebagian penghasilannya, yang digunakan khusus mengikuti seminar dan pelatihan untuk meningkatkan kapasitas dirinya. Tak tanggung-tanggung, beberapa kota besar di tanah air khusus ia sambangi demi mengikuti pelatihan. Maka Saya tak kaget jika dirinya berada diatas rata-rata kebanyakan orang. 
            Dalam buku The 8th Habit-nya, Stephen R. Covey menjelaskan bahwa manusia diberi anugerah yang luar biasa sejak lahir. Berbagai bakat, kemampuan, kecerdasan, kesempatan yang sebagian besarnya masih tertutup dengan rapi. Hanya melalui keputusan dan upaya sendirilah, manusia bisa membukanya. 
         Diantara anugerah tersebut yang paling penting adalah pertama, kebebasan memilih. Kedua, hukum-hukum alam atau prinsip-prinsip, yang universal dan tidak pernah berubah. Dan ketiga, empat kecerdasan/kemampuan kita (fisik/ekonomi, emosional/social, mental dan spiritual). Keempat kecerdasan/kemampuan ini berkaitan langsung dengan keempat bagian dari kodrat manusiawi manusia, yang dilambangkan dengan tubuh, hati, pikiran dan jiwa. 
             Oh iya, tentang anugerah kedua di atas, yaitu hukum-hukum alam atau prinsip-prinsip yang universal dan tidak pernah berubah. Hal ini sangat menarik. ‘Hukum alam yang tidak pernah berubah’. Dan menurutku, “kita bisa menjadi unggul, jika kita mau memperluas kapasitas atau daya tampung diri kita”, adalah sebuah ‘hukum alam’.

Senin, 04 Januari 2016

Antrian Tiket Baubau-Kendari & Hukum Pikiran

Sumber gambar: kolom.abatasa.co.id
            Kemarin (3 Januari 2016) pagi, Saya diberi tugas untuk membeli tiket kapal cepat Baubau-Kendari. Maka pergilah Aku ke sebuah loket penjualan tiket dekat pelabuhan Murhum. Dan sesuai prediksiku, calon penumpang sedang padat-padatnya di tempat itu. Maklum, hari itu adalah hari terakhir dari liburan panjang akhir tahun. Keesokan harinya mereka harus kembali ke tempat rutinitas mereka sehari-hari, baik sebagai mahasiswa, karyawan atau aktivitas lainnya. Karenanya Sayapun tidak kaget ketika dari kejauhan kusaksikan mereka sedikit berdesakan, saling dorong, berebut mendapatkan tiket. 
          Saat itu, Saya berdiri di belakang kerumunan. Mencoba mengantri. Calon penumpang yang datang kemudian juga berdiri setelahku. Tampaknya mereka juga mencoba untuk mengantri. Beberapa saat, usaha itu (antri) berjalan dengan baik. Tapi niat baik itu tiba-tiba dirusak oleh beberapa orang. Mereka baru saja datang, tapi langsung nyerobot ke depan loket. Seketika para calon penumpang seperti tak lagi mempedulikan antrian. Antrin jadi kacau. 
          Bagaimana dengan diriku? Saya keluar dari kumpulan. Kembali lagi ke belakang. Coba lagi mengantri. Tak mengapa, sebab saat itu baru pukul 08.00-an, kapal baru akan berangkat sekitar 13.00 Wita. Selain itu, Saya tak suka berdesak-desakan. Pada saat yang sama mencoba berprasangka baik, mereka yang nyelonong itu bisa jadi kesehariannya adalah orang-orang yang suka ngantri. Tapi hari itu, mereka melakukan yang sebaliknya, mungkin ada alasan yang sangat penting dan mendesak, sehingga nyelonong begitu saja. 
           Oh iya, lantas apa kaitan antara antri kacau dengan hukum pikiran? Baiklah, sebelum pertanyaan ini terjawab, Saya ingin menyelesaikan dulu cerita tentang antrian ini. Biar tuntas. Lanjut lagi ya. Untuk beberapa saat, Saya masih berdiri di belakang kerumunan yang berdesakan itu. Tetap mengantri seperti biasa. Dan ternyata (entah bagaimana caranya) tanpa perlu menunggu lama, Saya sudah berada nyaris berhadapan langsung dengan petugas penjual tiket. Di depanku tinggal seorang Ibu yang sedang membayar tiket. 
         Saat itu, tepat di sampingku, ada seorang Bapak muda yang juga sedari tadi antri bersamaku. Sebenarnya, jika mau, Ia bisa saja menyalipku dan langsung mendapatkan tiket setelah si Ibu. Tapi itu tidak dilakukannya. Mungkin beliau sedari tadi memperhatikan usahaku untuk antri. Yang dilakukannya justru mempersilahkanku untuk membeli tiket lebih dulu, sambil berusaha menahan desakan dan dorongan dari arah belakang. Alhamdulillah kami mendapatkan tiket secara bersamaan. “Terima kasih Pak”, ingin kuucapkan kalimat ini padanya. Tapi terlambat alias tak sempat lagi, Ia sudah jauh beranjak pergi. 
            Rupanya pagi itu ada orang-orang yang sengaja memuluskan jalanku agar segera mendapatkan tiket. Usaha antriku ternyata berbuah manis. Saya jadi ingat dengan kisah yang pernah diceritakan oleh Ary Ginanjar Agustian, Sang penulis ‘ESQ Power’. Di sebuah bandara terkenal, seorang pengusaha bersiap terbang ke luar negeri. Aktivitas bisnis penting akan dilakoninya di negeri tetangga. Jika ia tak berangkat dengan penerbangan hari itu, maka kerugian besar akan dialaminya. Sayang sungguh sayang, penerbangan hari itu harus ditunda sampai keesokan harinya. 
            Seketika puluhan penumpang yang sedari tadi menunggu tak bisa menahan kekecewaannya. Mereka protes dan marah sejadinya. Sesuatu yang manusiawi menurut Saya. Sebab ada janji yang tak ditepati, pertemuan yang tertunda, akan ada kerugian bisnis yang besar, dan lain sebagainya. Maka wajar jika mereka bereaksi seperti itu. 
           Tapi reaksi seperti diatas tak dilakukan oleh Bapak yang diceritakan ini. Beliau memang kecewa, tapi segera bisa mengendalikan diri. Tak marah, apalagi protes. Ia begitu tenang. Tapi tanpa sepengetahuan Bapak itu, pihak manajemen penerbangan rupanya memperhatikannya. Sebuah pengendalian diri yang akhirnya berbuah manis untuk Si Bapak. 
          Beberapa jam kemudian akan ada penerbangan pesawat cargo dengan tujuan yang sama dengan Sang Bapak. Sebuah kursi kosong (satu-satunya) di pesawat itu, tepat samping pilot, ditawarkan oleh pihak manajemen untuknya jika ia tak keberatan. Tentu saja beliau menerimanya. Lalu dengan penerbangan itu ia selamat sampai tujuan, dan aktivitas bisnisnya berjalan sesuai rencana. Dari kisah ini, Saya juga teringat pesan seorang motivator: “Berbuatlah yang positif, sekecil dan sesederhana apapun itu, sebab ia akan berbuah manis untukmu”. Sebuah pesan moral yang super. 
         OK, baiklah. Kita kembali ke pertanyaan di atas: “lantas apa kaitan antara antri kacau dengan kekuatan pikiran?” Dalam keseharian, kadang kita dihadapkan pada hal-hal yang tidak menyenangkan. Kasus antrian tiket diatas misalnya. Atau berbagai hal lainnya. Hasil dari respon kita kadang juga destruktif. Membahayakan diri sendiri dan orang lain. 
        Solusi yang dilakukan agar perilaku destruktif tidak terjadi adalah segera selesaikan sumber masalahnya. Dalam kasus antrian diatas, menegur (dengan baik) si penyelonong agar tak merusak antrian. Tapi jika hal ini tak bisa dilakukan dengan pertimbangan bahwa jika orang yang ditegur malah berespon negatif, maka yang bisa dilakukan selanjutnya adalah merubah cara pandang kita terhadap masalah tersebut. Berprasangka baik misalnya. 
         “Manusia adalah subyek atas pikiran dan perilakunya sendiri”. Kata Efvy Zamidra Zam, dalam bukunya yang berjudul ‘Hipnotis untuk Kehidupan Sehari-hari’. “Oleh karena itu,” Lanjut Efvy, “semua yang kita pikirkan dan lakukan haruslah berasal dari keputusannya sendiri”. 
           Ada beberapa “hukum” pikiran yang dikemukakan oleh Efvy: Pertama, Tidak ada orang yang bisa melukai perasaan Anda, selain Anda sendiri yang membuka pikiran untuk hal tersebut. Kedua, Tidak ada orang yang bisa membuat diri Anda bahagia karena bahagia adalah keputusan Anda sendiri dan bukan tergantung pada orang lain. Dan ketiga, Tidak ada orang yang menjadi sebab atas segala kesalahan perbuatan kita, karena kita sendirilah yang bertanggung jawab atas segala tindakan.
            DR. Anshar Akil, seorang trainer dan penulis buku pernah berkata: “Apa yang kita pikirkan saat ini, pada saat yang sama akan berpengaruh pada tubuh kita”. Artinya, jika pikiran kita disibukkan dengan kegalauan, kekecewaan atau respon (psikologis) negatif lainnya, maka akan membuat tubuh menjadi tidak sehat. Daya tahan tubuh terhadap penyakit menjadi berkurang. 
          So, saran Saya, jika dihadapkan pada sesuatu yang kadang tidak menyenangkan, selesaikanlah secara konstruktif, dan hadirkan (saja) dalam pikiran kita pengalaman-pengalaman bahagia dan menyenangkan yang pernah dilami. Maka hasilnya kita akan merasa nyaman dan tubuh menjadi sehat. Dan tetaplah setia dengan sikap dan perilaku positif, sebab akan indah pada akhirnya.

Rabu, 30 September 2015

Psikosomatik di Pilkada Serentak

                 
Sumber gambar: Sucidh.wordpress.com
                   Ada momen penting yang terjadi di bulan Oktober ini. Tepatnya pada tanggal 10 Oktober. Tanggal ini diperingati sebagai Hari Kesehatan Jiwa Sedunia. Menurut Federasi Kesehatan Jiwa Dunia (WMFH) dan Badan Kesehatan Dunia (WHO), situasi kesehatan jiwa saat ini merupakan krisis yang tidak terungkap yang akan semakin buruk di tahun-tahun mendatang. Oleh karena itu, masalah ini mendapat tempat dalam agenda internasional. 
              Para ahli menyatakan bahwa di zaman yang semakin maju seperti sekarang ini, makin banyak dan kompleks pula masalah yang mengganggu ketentraman batin dan kebahagiaan hidup manusia. Semakin banyak masalah yang tidak menyenangkan menimpa seseorang, semakin meningkatlah kekesalan dan kecemasannya dalam hidup. Kita biasa menyebutnya dengan stress atau depresi. 
                 Belum lama ini Saya membaca berita di media sosial tentang PHK terhadap ribuan buruh. Ini juga berarti bahwa Jumlah pengangguran kini bertambah dan meningkat. Bisa kita bayangkan, betapa stressnya mereka yang kena pemutusan hubungan kerja itu. Apalagi jika pekerjaannya itu menjadi sumber satu-satunya yang dapat mengepulkan asap dapur. 
           Baiklah, apa yang dimaksud dengan stress? Mc Nerney dalam Iyus Yosep (2009) menyebutkan stress sebagai reaksi fisik, mental, dan kimiawi tubuh terhadap situasi yang menakutkan, mengejutkan, membingungkan, membahayakan dan merisaukan seseorang. Sementara menurut Selye, “stress is the nonspecific result of any demand upon the body be the mental or somatic,” tubuh akan memberikan reaksi tertentu terhadap berbagai tantangan yang dijumpai dalam hidup kita berdasarkan adanya perubahan biologi dan kimia dalam tubuh. 
              Prof. Dadang Hawari (psikiater) menjelaskan bahwa istilah stress dan depresi seringkali tidak dapat dipisahkan satu dengan lainnya. Setiap permasalahan kehidupan yang menimpa pada diri seseorang (stressor psikososial) dapat mengakibatkan gangguan fungsi organ tubuh. Reaksi tubuh ini dinamakan stress; dan manakala fungsi organ-organ tubuh itu sampai terganggu dinamakan distress. Sedangkan depresi adalah reaksi kejiwaan seseorang terhadap stress yang dialaminya. Dalam diri manusia, antara fisik dan psikis (kejiwaan) itu tidak dapat dipisahkan satu dengan lainnya (saling mempengaruhi). 
             Sebuah penelitian yang dilakukan oleh Thomas Holmes dari Universitas Washington terhadap para eksekutif (mereka yang bergerak di bidang usaha dan politik) menunjukkan bahwa 80% dari responden mengalami stress, depresi, kecemasan, dan penyakit gawat lainnya. Perubahan-perubahan serba cepat di bidang perdagangan, sosial, politik dan lain-lain, membuat para eksekutif sering terkena tekanan (stress). Dengan menjadi berlipat gandanya tuntutan, baik dalam kehidupan perorangan/perkawinan maupun perusahaan, membuat mereka merasakan telah melampaui batas kemampuan fisik dan mentalnya ketika melayani seseorang. 
             Timbulnya stressor psikososial pada masyarakat menjadi problem utama kesehatan jiwa manusia. Menurut Iyus Yosep dalam bukunya yang berjudul ‘Keperawatan Jiwa’, Stressor Psikososial adalah setiap keadaan atau peristiwa yang menyebabkan perubahan dalam kehidupan seseorang (anak, remaja atau dewasa), sehingga orang itu terpaksa mengadakan adaptasi atau menanggulangi stressor yang timbul. Namun, tidak semua mampu mengadakan adaptasi dan mampu menanggulanginya, sehingga timbullah keluhan-keluhan kejiwaan, antara lain depresi. Jenis stressor psikososial tersebut diantaranya adalah perkawinan, problem orang tua, hubungan interpersonal, pekerjaan, lingkungan hidup, keuangan, perkembangan, penyakit fisik atau cedera, dan lain-lain. 
               Sementara Ahmad Syarifuddin dalam bukunya yang berjudul ‘Puasa Menuju Sehat Fisik dan Fisik’ menyebutkan berbagai stressor psikososial itu seperti ketidakmampuan mengikuti perkembangan zaman, kesenjangan komunikasi, beban kerja yang menumpuk, target yang tidak tercapai, dan persaingan yang tidak sehat. Akibatnya, banyak orang menderita ketegangan, kecemasan, depresi, tidak puas, kecewa, curiga berlebihan kepada orang lain, dan sebagainya. 
               Masih menurut Syarifuddin, tekanan-tekanan psikologis seperti kecewa, tidak bahagia, takut dan persaingan tidak sehat, berkorelasi tinggi terhadap menurunnya daya tahan tubuh sehingga memudahkan intervensi penyakit yang dapat diketahui dari fisik, tingkah laku, alam perasaan, dan cara berpikir seseorang. 
              “Sebagian besar penyakit seperti hipertensi, diabetes, penyakit jantung, penyakit asma, semua penyakit alergi, dan lain-lain, selain disebabkan oleh kurangnya perhatian terhadap kesehatan jasmani, juga sering disebabkan oleh beban pikiran yang terlalu berat, berupa tekanan kejiwaan (stress) yang meliputi perasaan takut (waswas), sedih dan jengkel (emosi). Dalam lapangan ilmu kedokteran, hal seperti ini lazim disebut dengan psikosomatik. Dr. Franklin Ebough ahli bedah jantung dari Amerika Serikat menerangkan bahwa sikap-sikap negative seperti marah, dendam, dan iri hati adalah sifat-sifat yang menurunkan daya tahan tubuh dan memperburuk kesehatan.” Jelas Syarifuddin
             Tulisan ini Saya beri judul ‘Psikosomatik di Pilkada Serentak’. Yang menjadi pertanyaan adalah apakah Pilkada (yang lagi ramai-ramainya diperbincangkan saat ini) juga bisa menghadirkan stressor atau tekanan kejiwaan (terutama) bagi para pelakunya? Tekanan-tekanan psikologis yang berupa kecewa, takut kalah dan (kadang) persaingan tidak sehat menjadi tontonan pada acara yang dihelat oleh KPUD ini. Ini adalah sressor psikososial. Sebagaimana dijelaskan di atas, bahwa tekanan-tekanan psikologis seperti kecewa, tidak bahagia, takut dan persaingan tidak sehat berkorelasi tinggi terhadap menurunnya daya tahan tubuh sehingga memudahkan intervensi penyakit yang dapat diketahui dari fisik, tingkah laku, alam perasaan, dan cara berpikir seseorang. 
             Dapatkah seseorang melakukan pengendalian diri hingga terbebas dari stress yang serius? Jawabannya ya. Seseorang yang mampu melakukannya, berarti memiliki jiwa yang sehat. Rosdahl mendefinisikan kesehatan jiwa sebagai kondisi jiwa seseorang yang terus tumbuh berkembang dan mempertahankan keselarasan, dalam pengendalian diri serta terbebas dari stress yang serius. Sementara WHO mendefinisikan bahwa kesehatan jiwa bukan hanya tidak ada gangguan jiwa, melainkan mengandung berbagai karakteristik yang positif yang menggambarkan keselarasan dan keseimbangan kejiwaan yang mencerminkan kedewasaan kepribadiannya. 
             Oh iya, dr. Egha Zainur Ramadhani dalam bukunya yang berjudul ‘Super Health’ menuliskan beberapa tips mengelola stress agar jiwa tetap sehat: Pertama, seberat apapun beban, berusahalah tersenyum. Senyuman menjadi sugesti peringan beban; Senyum tulus dapat mencairkan hubungan yang beku, member semangat pada orang yang putus asa, membuat cerah suasana muram, dan obat penenang jiwa yang resah. 
            Kedua, Lakukan peregangan dengan olah raga, serta perbanyak puasa sunnah (bagi yang Muslim). Keduanya terbukti memicu tubuh menhhasilkan endorphin dan enkefalin yang mampu member rasa bahagia, lega, tenang, rileks secara alami. Ketiga, Jika memungkinkan, jauhi sumber stress, tenangkan diri dengan zikir, istighfar, mencari tepat yang tenang, atau melakukan hobi. Jangan memaksakan diri menghadapi stressor ketika diri masih tertekan, karena beban yang ada justru kian terasa berat. 
              Dan keempat, setelah merasa lebih tenang, segera tentukan langkah untuk menghadapi stress. Jangan terlena menjauhi sumber stress, karena dapat menjadikan jiwa kecut serta lebih suka lari dari kenyataan.

Kamis, 27 Agustus 2015

Materi Seksualitas, Otak & Delta-FosB

              Pernah dengar istilah ‘Otak kotor’? Tentu saja pembaca sekalian pernah mendengarnya. Dua kata ini kadang digunakan sebagai candaan oleh sebagian orang untuk mendeteksi adanya ‘kandungan zat mesum’ dalam otak manusia. Ketika ada hal-hal yang berbau pornografi atau materi seksualitas muncul di sela-sela diskusi makan siang, lalu ada yang meresponnya secara berlebihan, maka kadang tiba-tiba muncul kalimat: “Dasar otak kotor!!!” Hehehe… 
           Tapi benarkah ada zat mesum yang membuat otak menjadi “kotor”? Baiklah, mari kita telusuri. Di dalam otak manusia, ada zat neurotransmitter yang disebut Delta Fos-B. inilah yang membuat nafsu, birahi dan libido seseorang meningkat. Tapi ia tidak bekerja begitu saja untuk meningkatkan nafsu, birahi dan libido. Zat ini perlu rangsangan, yaitu sesuatu yang berbau porno. Baik pornografi maupun porno aksi. 
          Sekedar info, dalam Undang-Undang, Pornografi didefinisikan sebagai: “sebentuk materi seksualitas yang dibuat oleh manusia dalam bentuk gambar, sketsa, ilustrasi, foto, tulisan, suara, bunyi, gambar bergerak, animasi, kartun, syair, percakapan, gerak tubuh, atau bentuk pesan komunikasi lain melalui berbagai bentuk media komunikasi dan/atau pertunjukan di muka umum, yang dapat membangkitkan hasrat seksual dan/atau melanggar nilai-nilai kesusilaan dalam masyarakat.” 
              Kita kembali lagi ke otak. Sebanyak 70% informasi masuk melalui kedua mata kita. dr. Adre Mayza, SpK (K) menjelaskan bahwa ketika seorang remaja mengakses atau “mengkonsumsi” sesuatu yang berbau porno, semua rangsangan itu akan langsung masuk ke otak belakang tanpa tersaring. Lalu ketika rangsangan itu sudah masuk, otak akan mengeluarkan cairan atau zat neurotransmiter yang disebut Delta-FosB. 
             Ada cerita lucu dari negeri Paman Sam. Seorang wanita muda bernama Debrah Lee Lorenza dipecat dari tempat kerjanya, sebuah Bank terkenal, dengan alasan yang menurut sebagian orang sangat mengada-ada. Cantik dan Seksi! Inilah penyebabnya. Pihak direksi berpendapat bahwa kecantikan, dandanan serta cara berpakaian Debra yang seksi bisa mempengaruhi lingkungan kerja. Apalagi mayoritas pegawai Bank tersebut adalah laki-laki. Bisa muncul “Otak Kotor”, begitu mungkin bahasa “keren”nya. 
         Sayangnya ada efek tidak menguntungkan bagi manusia ketika materi seksualitas atau pornografi masuk dalam otak manusia. Jika materi pornografi terkonsumsi oleh otak, maka ia akan tersimpan selamanya dalam otak dan tidak akan bisa hilang. Disamping itu, organ yang terdapat dalam batok kepala ini bisa menjadi rusak, terutama pada PreFrontal Corteks yang terletak di bagian depan otak. 
             Markus Tan (Guru Karakter Indonesia), menjelaskan bahwa area PreFrontal Cortex ini berisi lima bidang utama untuk fungsi neuropsikiatri (planning, organizing, problem solving, selective attention, personality) dan fungsi motorik serta memediasi fungsi intelektual yang lebih tinggi (higher cognitive functions) yakni termasuk emosi dan perilaku. Pada wilayah ini otak telah terlibat dalam perencanaan perilaku kognitif yang kompleks, ekspresi kepribadian, pengambilan keputusan dan perilaku sosial yang benar. Kegiatan dasar wilayah ini adalah otak dianggap sebagai orkestrasi dari pikiran dan tindakan sesuai dengan tujuan-tujuan internal. 
            Maka dari sini kita bisa membayangkan bahwa kerusakan bagian otak ini (akibat pornografi) akan membuat orang tidak bisa membuat planning, tidak bisa mengambil keputusan, tidak bisa mengendalikan emosi dan berbagai berbagai fungsi lainnya sebagaimana dijelaskan di atas. Padahal bagian inilah yang membedakan manusia dengan binatang. 
            Oh iya, mungkin kita perlu mengenal sedikit tentang organ yang ada dalam batok kepala ini. Beberapa literature menyebutkan bahwa otak manusia mempunyai 3 bagian dasar, yaitu: (1). Batang Otak atau Otak Reptil, (2). Sistem Limbik atau Otak Mamalia (3). Neokorteks. Dr. Paul MacLean menyebut ketiga bagian dasar otak tersebut sebagai TRIUNE (3 in 1). 
            Batang Otak, mengendalikan fungsi-fungsi penyangga kehidupan dasar misalnya pernapasan dan laju denyut jantung. Mengontrol tingkat kesiagaan. Menyiagakan seseorang terhadap informasi sensorik yang masuk. Mengendalikan suhu. Mengendalikan proses pencernaan. Menyampaikan informasi dari serebelum. 
            Serebelum atau otak kecil atau otak belakang, mengendalikan gerakan tubuh dalam ruang dan menyimpan ingatan untuk respon-respon dasar yang dipelajari. Sistem Limbik atau otak tengah, yang posisinya sedikit lebih ke depan dan terdiri atas Talamus dan Ganglia Basal atau otak tengah. Sistem Limbik penting bagi pembelajaran dan ingatan jangka pendek tetapi juga menjaga homeostatis di dalam tubuh (tekanan darah, suhu tubuh dan kadar gula darah). Terlibat dalam emosi ketahanan hidup dari hasrat seksual atau perlindungan diri. Sistem Limbik mengandung Hipotalamus, yang sering dianggap sebagian bagian terpenting dari 'otak mamalia'. 
          Serebrum atau korteks serebral, membungkus seluruh otak dan posisinya berada di depan. Serebrum adalah bertanggung jawab atas berbagai keterampilan termasuk ingatan, komunikasi, pembuatan keputusan dan kreativitas. Fungsi: pengaturan, ingatan, pemahaman, komunikasi, kreativitas, pembuatan keputusan, mind mapping, bicara, musik. Serebrum dibungkus oleh suatu lapisan berkerut-kerut berupa sel-sel saraf setebal seperdelapan inci yang amat sangat menakjubkan, yang dikenal sebagai korteks serebral. 
        Yang menjadi pertanyaan adalah jika pornografi bisa menghadirkan efek negatif, lantas bagaimana cara mengatasi masalah ini? Saya sependapat dengan pendekatan Smart Parenting-nya Early Febriana. Mengapa Smart Parenting? Menurut Penyuluh Sosial Muda ini, sebagaimana dimuat dalam Situs Pusat Penyuluhan Sosial Kemensos RI, karena peran orang tua maupun keluarga sangat penting dalam mengatasi bahaya pornografi ini. Ada beberapa langkah yang dapat dilakukan oleh orang tua: 
           Pertama, Membentuk dan menanamkan nilai-nilai karakter dan budi pekerti serta memberikan contoh yang baik pada anak-anaknya. Orang tua tidak boleh bersikap kesal atau marah, harus memiliki perasaan yang tenang dan dapat menjadi teladan. 
        Kedua, Membangun komunikasi yang baik dengan anggota keluarga antara lain, dengan melakukan upaya sering berdialog dengan anak-anak, menanyakan kegiatan sehari-hari, mendengarkan pendapat anak, menanyakan permasalahan yang dihadapi, menanyakan kebutuhan, mendengarkan keluhan, menjadi teman bicara. Teknik yang dapat dilakukan jangan memberi ceramah, karena hal ini dapat menjadikan anak dan remaja semakin menjauh. 
       Ketiga, Mengawasi penggunaan sarana komunikasi dan sarana informasi anak, seperti mengawasi penggunaan internet dan telepon genggam. Jangan abaikan fakta bahwa pornografi memberikan keasyikan tersendiri pada saat melihatnya, namun berikan keyakinan kepada remaja bila sekali melihat barang porno akan ketagihan dan berdampak pada jangka panjang dan merugikan dia sendiri serta dampak yang lain. Jelaskan latar belakang ditetapkannya rating berdasarkan batasan umur bagi konten situs internet/games/film. 
           Keempat, Apabila menemukan materi yang berkaitan dengan pornografi, lakukan pendekatan dan tanamkan pengertian bahwa pornografi tidak baik bagi perkembangan jiwa, dan upayakan menghapusnya. 
           Kelima, Lakukan kegiatan yang mengalihkan perhatian anak pada pornografi, kegiatan positif lain, seperti olah raga, kesenian, ketrampilan, permainan edukatif, membersihkan rumah dan berekreasi bersama, serta libatkan dalam kegiatan keagamaan mengerjakan ibadah bersama-sama di rumah atau di tempat ibadah.

Selasa, 18 Agustus 2015

Membuka Jendela Dunia

Sumber gambar: bobo.kidnesia.com
             Ts’ai Lun (Cai Lun menurut ejaan China), adalah sosok penemu kertas. Ia hidup di zaman Dinasti Han, dan pada sekitar tahun 105M memperkenalkan hasil penemuannya itu pada kaisar Ho Ti. Sang kaisar sangat senang dan terkesan. Segera setelah itu, selama abad ke dua dan selanjutnya, penggunaan kertas meluas di China. Tak lupa mereka megekspornya ke wilayah lain di benua Asia. 
              Selain penduduk Tiongkok sendiri, saat itu dunia belum tahu teknik pembuatan kertas. Sebab negeri Tirai Bambu masih merahasiakannya. Hingga abad ke delapan Masehi, ketika beberapa ahli pembuat kertas menjadi tawanan bangsa Arab. Tak berapa lama kemudian, Baghdad dan Samarkand, dua kota penting umat Islam, mulai memproduksi hasil penemuan Ts’ai Lun. Bangsa Eropa kemudian mempelajarinya dari kaum muslimin. 
             Sejarah mencatat bahwa sebelum abad kedua Masehi, awalnya kebudayaan barat masih lebih unggul dari Tiongkok. Tetapi tujuh atau delapan abad selanjutnya, usai menemukan kertas, China berhasil melampaui Barat. Catatan-catatan Marcopolo (abad ke-13) menunjukkan bahwa negeri Tirai Bambu jauh lebih makmur dibanding Eropa. Hanya saja, pada abad ke-15, benua biru kembali mengungguli China. 
            Pertanyaannya adalah mengapa Eropa kembali menjadi lebih unggul? Michael H. Hart, dalam bukunya yang berjudul ‘100 Orang Paling Berpengaruh di Dunia Sepanjang sejarah’, mengakui bahwa banyak faktor yang mempengaruhinya. Sejak bangsa Eropa mulai menggunakan kertas, mereka mulai berhasil memperpendek jarak perbedaan. Salah satu momentum yang terjadi di abad ke-15, telah membuat Eropa akhirnya mengungguli China. Hart menulis: “Di Eropa, abad ke-15, seorang jenius bernama Johann Gutenberg mengembangkan sebuah teknik untuk memproduksi buku secara massal. Setelah itu, peradaban Eropa berkembang cepat. Karena China tidak memiliki Gutenberg, masyarakatnya tetap memakai cetak timbul sehingga kebudayaan mereka maju dengan kecepatan relatif lambat.” 
           Jadi, hadirnya buku yang diproduksi secara massal, mudah, cepat, dan murah serta diikuti dengan minat baca yang tinggi adalah jawabannya. Barat sudah membuktikannya. Eko Laksono dalam karyanya yang berjudul ‘Imperium III’ menjelaskan bahwa salah satu kunci terpenting Renaisans Eropa adalah mesin cetak Gutenberg. Sebuah temuan yang dengannya buku-buku bisa dibuat dengan mudah dan murah. Benua biru lalu mengalami revolusi kecerdasan setelah itu. Meninggalkan bangsa China jauh di belakang. 
           “Buku membuat kita bisa menyerap ilmu-ilmu terhebat dan paling unggul di dunia dengan biaya yang sangat murah. Dari buku kita bisa belajar tentang peradaban-peradaban terhebat, tokoh-tokoh terhebat, rahasia orang-orang paling kaya, dan kemajuan sains-teknologi yang paling mutakhir. Kalau ada perpustakaan yang lengkap dan menyenangkan, akan lebih bagus lagi. Berjuta-juta orang, tidak melihat kaya atau miskin, anak konglomerat atau anak buruh bangunan, akan menyerap ilmu-ilmu terhebat di dunia itu tanpa biaya sama sekali alias gratis. Anak miskin yang menjadi penguasa industry baja Amerika. Masa kecilnya banyak dihabiskan dengan membaca buku dan berada di perpustakaan.” Jelas Eko. 
             Dari sini kita semakin membenarkan pernyataan yang sudah turun-temurun kita dengar: “buku adalah jendela dunia, dan membaca adalah kuncinya.” Buku memberikan informasi tentang seluruh aspek kehidupan manusia, baik sosial-budaya, politik, ekonomi, kesehatan, pengembangan diri, pertahanan keamanan dan lain sebagainya. Membaca akan memperluas wawasan, mencerdaskan hati dan otak, sehingga dapat menghadirkan inspirasi untuk menggenggam masa depan. 
                Nah, bagaimana dengan perbukuan di Indonesia saat ini? Hanif Ridho Ansyoro dalam tulisannya yang berjudul “Menumbuhkan Minat Baca Sebagai Upaya Meningkatkan Kualitas Sumber Daya Manusia” menyebutkan bahwa walaupun belum ada data pasti tentang jumlah buku baru yang terbit dalam setahun, namun mengacu kepada jumlah buku yang diterima jaringan toko buku besar, seperti Gramedia dan Gunung Agung, setidaknya Indonesia mampu menerbitkan 12.000 judul buku baru dalam setahun. Jumlah tersebut tidak termasuk buku yang cetak ulang dalam tahun yang sama. Dengan rata-rata tercetak untuk satu judulnya 3.000 eksemplar, maka setidaknya para penerbit Indonesia mampu menghasilkan 36.000.000 eksemplar buku dalam setahun. 
             Sayangnya, minat baca orang Indonesia rata-rata masih rendah. Direktur Jenderal Pendidikan Dasar, Hamid Muhammad, sebagaimana dilansir oleh Tribun Network (17 Agustus 2015) menyebutkan bahwa berdasarkan hasil studi UNESCO pada tahun 2013, hanya satu orang dari 1000 orang yang suka membaca. 
           "Survei BPS di Indonesia di tahun 2013 menunjukkan bahwa orang Indonesia paling gemar nonton televisi, yakni sebanyak 91,68 persen. Sedangkan yang membaca surat kabar hanya 17,6 persen. Berdasarkan data bank dunia, Indonesia memiliki minat baca paling rendah di antara negara Asia Tenggara. Indeksnya hanya 21,7 persen. Dibandingkan Filipina dan Singapura yang lebih dari 70 persen minat bacanya.” Jelas Hamid. 
          Data tentang minat baca ini tentu saja memprihatinkan kita semua. Hal ini juga menjadi jawaban mengapa kita tertinggal begitu jauh dari negara-negara maju. Tapi, kita tidak perlu merutuk diri sendiri dan apalagi sampai larut dalam kesedihan. Yang perlu kita lakukan adalah terus berupaya meningkatkan minat baca anak bangsa. Bagaimana caranya? Beberapa diantaranya adalah adanya promosi yang elegan, massif dan terus menerus tentang pentingya membaca. Adanya reward dari pemerintah bagi tiap insan atau lembaga yang menumbuhkan minat baca bagi masyarakat. Serta penyediaan sarana dan prasarana yang memadai (diantaranya perpustakaan serta buku-buku menarik dan berkualitas).
           Belum lama ini, ada anjuran untuk melakukan gerakan membaca 15 lembar perhari yang didengungkan oleh FSLDKN (Forum Silaturrahm Lembaga Dakwah Kampus Nasional) sebagai hadiah 70 tahun Indonesia merdeka. Menurut pendapat Saya, ini adalah sebuah gerakan yang sangat baik. Salah satu upaya dari ribuan usaha yang pernah dan terus dilakukan untuk melanggengkan budaya membaca. Saya mendukung dan ayo membaca.

Rabu, 12 Agustus 2015

Kemerdekaan: Oputa Yi Koo VS Learned helplessness

Gambar: tokomaruku.blogspot.com
              "It's not an 'S'. In my world, it means 'hope' (Ini bukan huruf S. Di dunia saya, ini artinya 'harapan'), jelas Superman, dalam film ‘Man of Steel’ garapan Zack Snyder. Hal tersebut diungkapkan oleh Sang Super Hero, saat Louis Lane, seorang wartawan dari ‘Daily Planet’ menanyakan Simbol yang mirip huruf S pada kostum yang dipakainya. Simbol itu adalah ciri khas keluarga El di planet Krypton. Pada tempat lahir manusia baja ini, masing-masing keluarga memiliki simbol tersendiri. Sesuatu yang mirip huruf S itu bermakna 'harapan'
              Wikipedia mendefinisikan Harapan sebagai bentuk dasar dari kepercayaan akan sesuatu yang ingin didapatkan atau suatu kejadian yang akan berbuah kebaikan di masa datang. Sesuatu yang diyakini bahkan terkadang, dibatin dan dijadikan sugesti agar terwujud. Pada praktiknya banyak orang mencoba menjadikan harapannya menjadi nyata dengan cara berdoa atau berusaha. Contoh: sebuah harapan akan kemerdekaan negeri, seperti yang didambakan bangsa kita saat mengalami masa penjajahan dahulu.
               Ada apa dengan harapan? Dan apa yang akan terjadi jika manusia tak memiliki harapan? Anis Matta dalam bukunya yang berjudul ‘Mencari Pahlawan Indonesia’, menulis: “Lorong kecil yang menyalurkan udara pada ruang kehidupan sebuah bangsa yang tertutup oleh krisis adalah harapan. lnilah inti kehidupan ketika tak ada lagi kehidupan. lnilah benteng pertahanan terakhir bangsa itu. Tapi benteng itu dibangun dan diciptakan para pahlawan. Mungkin mereka tidak membawa janji pasti tentang jalan keluar yang instan dan menyelesaikan masalah. Tapi mereka membangun inti kehidupan. Mereka membangunkan bara hidup dari kekuatan yang tertidur di sana, di atas alas ketakutan dan ketidakberdayaan.” 
              Dalam bukunya yang bejudul ‘Man’s Search for meaning’, Victor Frankl mengatakan bahwa orang yang kehilangan harapan pada akhirnya akan mati. Dalam buku tersebut, salah satu tokoh psikologi terkemuka ini menceritakan pengalamannya saat menjadi tawanan di kamp konsentrasi NAZI Jerman. Ia menyaksikan begitu banyak orang yang menjadi tidak berdaya. 
          Di sebuah kamp, sewaktu para narapidana baru masuk, tentara NAZI memandang dan mengatakan kepada para tahanan itu bahwa mereka tidak akan bisa meloloskan diri dan meninggalkan kamp tersebut. Menurut Frankl, orang-orang yang yakin dengan kata-kata serdadu NAZI tersebut tidak berapa lama kemudian meninggal. Diantara para narapidana yang tidak terbunuh, yang menolak “ramalan” buruk si penjaga kamp dan mempertahankan suatu keyakinan bahwa “situasi ini akan segera berlalu” bertahan hidup. Namun, ketika narapidana itu tidak dapat bangun dari ranjangnya, diapun kehilangan harapan. Dan itu menjadi hari kematiannya. 
          Kehilangan harapan akan melahirkan ketidakberdayaan. Sebagai gambaran, kita bisa melihatnya dalam film Poseidon. Ini cerita tentang sebuah kapal pesiar raksasa bernama Posiedon yang tiba-tiba dihantam gelombang besar samudera. Para kru dan penumpang banyak yang menjadi korban. Yang masih hidup mencoba untuk tetap bertahan di ballroom utama kapal. 
            Film garapan Sutradara Wolfgang Petersen ini diperankan oleh beberapa tokoh utama. Seorang penjudi dan mantan anggota AL AS bernama John Dylan (Josh Lucas), mantan walikota new york (Kurt Russel), putrinya (Emmy Rosum) dan tunangannya (Mike Vogel). 
                Meski kapten kapal sudah meminta agar para penumpang jangan meninggalkan tempat, ada sebagian yang menolak. Mereka yang menolak dan lalu berupaya keras menemukan jalan keluar ini adalah Sang mantan walikota, Dylan diikuti kenalannya (Jacinda Barret), putranya (Jimmy Bannet), dan satu penumpang lain (Richard Dreyfuss). 
             Dengan dipimpin oleh Dylan mereka berusaha mencari jalan keluar lewat baling-baling kapal. Satu per satu dek kapal pun dijelajahi. Sampai akhirnya mereka selamat keluar dari kapal. Saat kapal tenggelam di dasar samudera, hanya beberapa orang inilah yang masih bertahan hidup. Sementara banyak penumpang lain, yang memilih tinggal di ballroom utama kapal (tidak mau berusaha menyelamatkan diri), akhirnya menemukan kematiannya. 
              Yang menjadi pertanyaan adalah mengapa banyak orang yang menyerah, gagal atau tidak berdaya ketika dihadapkan pada tantangan atau masalah? 
             Martin Selingman mencoba menggali secara mendalam tentang ini. Melalui serangkaian penelitiannya, Selingman yang juga pakar psikologi terkemuka ini, menyebut fenomena tersebut dengan ‘Learned Helplessness’. Sebagaimana dimuat dalam buku Adversity Qoutient karya Paul G. Stolz, ‘Learned Helplessness’ atau ‘ketidakberdayaan yang dipelajari’ adalah jawaban mengapa banyak orang menyerah, gagal atau tidak berdaya ketika dihadapkan pada tantangan atau masalah yang dihadapinya? 
             Ketidakberdayaan yang dipelajari itu menginternalisasi keyakinan bahwa apa yang akan dikerjakan tidak ada manfaatnya, dan menghilangkan kemampuan mengendalikan peristiwa-peristiwa yang sulit. Hasilnya bisa kita lihat seperti kisah dalam kamp konsentrasi NAZI dan sebagian besar penumpang yang pasrah menerima keadaan dalam kapal Poseidon. 
            Lawan dari ketidakberdayaan adalah pemberdayaan. Secara sederhana, Stolz menyebut orang-orang yang memiliki daya ini dengan sebutan Climbers. Yaitu orang-orang yang membaktikan dirinya pada pendakian. Tanpa menghiraukan latar belakang, keuntungan atau kerugian, nasib buruk atau nasib baik, dia terus mendaki. “Dia seperti kelinci pada iklan baterai Energizer di pegunungan. Climbers adalah pemikir yang selalu memikirkan kemungkinan-kemungkinan, dan tidak pernah, membiarkan umur, jenis kelamin, ras, cacat fisik atau mental atau hambatan lainnya menghalangi Pendakiannya”. Tegas Stolz. 
             Menurut Dian Setyawati, untuk melawan ketidakberdayaan membutuhkan beberapa hal: Pertama, Keberanian. Melawan ketidakberdayaan membutuhkan keberanian. Ketidakberdayaan terlahir dari ketakutan menghadapi tantangan. Keberanian satu-satunya jalan menuju sikap berani menghadapi tantangan. Mencoba berani sebenarnya merupakan jawaban dari rasa takut itu. 
              Kedua, melawan ketidakberdayaan membutuhkan kepercayaan. Kepercayaan bahwa diri kita mampu melawan ketidakberdayaan dan melawan rasa takut akan melahirkan perlawanan terhadap ketidakberdayaan tersebut. Kepercayaan yang perlu hadir dalam diri kita untuk melawan berbagai ketidakberdayaan adalah kepercayaan kepada Allah swt, kepercayaan kepada takdir bahwa semuanya akan berjalan dengan ketentuan yang telah digariskan-Nya. Kepercayaan pada diri pribadi, bahwa kita mampu dan bisa. 
            Ketiga, melawan ketidakberdayaan membutuhkan kebersamaan. Ketidakberdayaan tidak dapat dilawan dengan kesendirian. Menyendiri hanya akan membengkakkan ketidakberdayaan itu. Ketidakberdayaan dapat di tuntaskan dalam keramaian. Ketika banyak orang yang mendukung dan memotivasi. 
             Dalam tulisan ini, Saya sengaja mengetengahkan tentang harapan dan ketidakberdayaan. Atau dalam bahasa yang lebih umum kita bisa menyebutnya dengan optimisme VS pesimisme. Masalah, krisis atau penjajahan, nyaris semua bangsa pernah mengalaminya. Tapi kita juga bisa belajar bahwa bangsa-bangsa yang memiliki harapan kuat, mampu menghempas ketidakberdayaannya, lalu berjuang sekuat tenaga, akan keluar sebagai negara merdeka. 
                Dan di balik itu semua ada sosok-sosok yang menghadirkan harapan dan sekaligus bergerak menggapainya. Kita biasa menyebut mereka sebagai pahlawan. Oputa yi koo, Pangeran Diponegoro, Jendral Sudirman dan seluruh nama dalam alphabet pejuang negeri ini. Ada kekaguman yang tersimpan dan terpelihara ketika kita mengenang orang-orang ini. Anis Matta berujar: “Mungkin, karena itu pula pahlawan muncul di saat-saat yang sulit, atau sengaja dilahirkan di tengah situasi yang sulit. Mereka datang untk membawa beban yang tak dipikul oleh manusia-manusia di zamannya. Mereka bukanlah kiriman gratis dari langit. Akan tetapi, sejarah kepahlawanan mulai dicatat ketika naluri kepahlawanan mereka merepon tantangan-tantangan kehidupan yang berat. Ada tantangan dan ada jawaban, Dan hasil dari respon itu adalah pekerjaan-pekerjaan besar.” 
           Dari sini, akhirnya kita juga memahami bahwa siapapun bisa menjadi pahlawan. Dan mewakili para pahlawan Kemerdekaan, Chairil Anwar, lewat sebuah bait dalam puisi ‘Karawang-Bekasi’, berpesan: “Berjagalah terus di garis batas pernyataan dan impian.”***

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More