Blog yang berisi catatan-catatan singkat dan sederhana. Mencoba menangkap dan menulis pesan bijak dari berbagai sumber.

About

This is default featured post 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured post 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured post 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured post 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured post 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Rabu, 18 Desember 2013

Dibalik Operasi Plastik Orang Korea

           Ada yang kenal sama Angelina Jolie? Saya yakin pasti banyak yang sudah kenal. Wanita ini adalah Aktris Hollywood yang telah memerankan banyak film-film Box Office, diantaranya adalah Tomb Rider dan Salt. Ia dilahirkan di Los Angeles, California pada 4 Juni 1975. Wanita yang memulai karirnya di era 1980-an ini adalah putri dari Jon Voight yang juga adalah aktor terkenal Hollywood. Pada tahun 2005 yang lalu ia menikah dengan Brad Pitt, dan dikaruniai anak, Shiloh Nouvel Jolie-Pitt, yang lahir pada 27 Mei 2006. 
       Ada apa dengan Angelina Jolie? Beberapa waktu yang lalu, sebuah survei dilakukan oleh escentual.com untuk mengetahui cara pandang Pria dan Wanita tentang kecantikan. Mereka meminta responden laki-laki dan perempuan menciptakan wajah perempuan cantik seperti yang mereka inginkan. Mereka bisa "membuat wajah" ini dengan menggunakan bagian wajah dari selebriti perempuan cantik di seluruh dunia, mulai warna rambut, mata, alis, hidung, bibir, dan lainnya
         Bagaimana hasilnya dan apa kaitannya dengan Jolie? Juru bicara escentual.com, sebagaimana dilansir oleh Kompas.com mengungkapkan fakta menarik dimana tulang pipi dan bibir Angelina Jolie menjadi favorit banyak pria, sedangkan perempuan lebih banyak menyukai alis tebal Cara Delevigne. Akan tetapi secara umum, bagi pria, perempuan cantik adalah perempuan dengan rambut pirang, bibir penuh, tulang pipi kuat, hidung yang kecil, dahi kecil, dan alis mata yang halus. Sementara itu, perempuan menilai kecantikan lewat rambut yang hitam, hidung dan dahi besar, alis kuat, serta struktur tulang yang tajam. 
     "Tampaknya laki-laki masih berpendapat bahwa perempuan berambut pirang, panjang, dan bergelombang tampak lebih menyenangkan dan seksi. Sementara perempuan merasa warna rambut hitam itu lebih eksotis," ungkap juru bicara dari escentual.com.
      Pernahkah anda berpikir untuk memiliki wajah seperti Angelina Jolie? Mungkin ini adalah pertanyaan yang aneh dan lucu. Tapi memiliki wajah yang disenangi oleh banyak orang adalah sesuatu yang membanggakan bagi orang Korea. Ternyata, di negeri ginseng, penampilan sempurna dari para seleb yang sering muncul di TV menjadi faktor penyebab banyaknya orang Korea yang melakukan operasi plastik.
         “Banyak artis Korea (dan artis lainnya) melakukan operasi plastik. Saat kami menonton mereka di TV, tertanam dalam benak kami bahwa bentuk atau konsep cantik dan tampan itu seperti apa yang ditampilkan oleh para seleb. Dan tidak sedikit juga orang Korea yang kemudian ingin menjadi, terobsesi, seperti mereka (artis). Itulah sebabnya kenapa pada akhirnya kami berpikir kalau kami jelek lantas melakukan operasi plastik agar bisa seperti mereka (seleb),” jelas Kyung Hwa, seorang warga korea yang bekerja di Indonesia saat diwawancarai oleh FIMELA.com.
           Dengan dalih tidak percaya diri, orang rela merogoh kocek dan mengeluarkan biaya yang tidak sedikit untuk melakukan operasi plastik. Demi memperoleh bentuk mata, hidung, rahang, dan kelopak mata yang sempurna dan membuat penampilan semakin indah, menjalani beberapa kali operasi seolah tidak menjadi masalah buat mereka. “Kebanyakan artis Korea melakukan operasi plastik agar mereka terlihat bagus di hadapan masyarakat, bukan cuma perempuan tapi laki-laki juga,” Haemun (Mahasiswa S-2 Universitas Indonesia asal Korea) menambahkan. 
         Tidak percaya diri yang kemuadian berujung pada operasi plastik sesungguhnya adalah masalah psikologis, yang biasa disebut gangguan konsep diri, atau lebih spesifik lagi adalah gangguan body image. Body image merupakan sikap seseorang terhadap tubuhnya baik disadari atau tidak, menyangkut persepsi sekarang dan masa lalu. Persepsi seseorang terhadap bagaimana seharusnya ia bersikap yang dilandaskan pada target yang hendak dicapai, keinginan keberhasilan, dan penilaian (Capernito, 2000). Body image merupakan sikap individu terhadap tubuhnya sendiri, termasuk penampilan fisik, struktur dan fugsinya. Perasaan mengenai citra diri meliputi hal-hal yang terkait dengan seksualitas, feminitas dan maskulinitas, keremajaan, kesehatan dan kekuatan (Aziz, 2006). Body image merupakan bagian dari citra diri, yang memiliki pengaruh terhadap bagaimana seseorang melihat dirinya. 
         Dalam situs id.shvoong.com, selain usia dan jenis kelamin, ada 3 (tiga) hal yang mempengaruhi body image; Pertama, Media Massa. Media yang muncul dimana-mana memberikan gambaran ideal mengenai figur perempuan dan laki-laki yang dapat mempengaruhi gambaran tubuh seseorang. Isi tayangan media sering menggambarkan bahwa standart kecantikan perempuan adalah Tubuh yang kurus dalam hal ini berarti dengan level kekurusan yang dimiliki, kebanyakan perempuan percaya bahwa mereka adalah orang-orang yang sehat. Media juga menggambarkan gambaran ideal bagi laki-laki adalah dengan memiliki tubuh yang berotot.
          Kedua adalah Keluarga. menurut teori social learning, orang tua merupakan model yang paling penting dalam proses sosialisasi sehingga mempengaruhi gambaran tubuh anak anaknya melalui modeling, feedback dan instruksi. Para ahli menyatakan bahwa gambaran tubuh melibatkan bagaimana orangtua menerima keadaan bayinya baik terhadap jenis kelamin bayinya dan bagaimana wajah bayinya kelak. Komentar yang dibuat orang tua dan anggota keluarga mempunyai pengaruh yang besar dalam gambaran tubuh anak- anak. Orang tua yang secara konstan melakukan diet dan berbicara tentang berat mereka dari sisi negatif akan memberikan pesan kepada anak bahwa menghawatirkan berat badan adalah sesuatu yang normal. 
      Dan ketiga adalah hubungan interpersonal. Hubungan interpersonal membuat seseorang cenderung membandingkan diri dengan orang lain dan feedback yang diterima mempengaruhi konsep diri termasuk mempengaruhi bagaimana perasaan terhadap penampilan fisik. Hal inilah yang sering membuat orang merasa cemas dengan penampilannya dangugup ketika orang lain melakukan evaluasi terhadap dirinya. Para ahli menyatakan bahwa feedback terhadap penampilan dan kompetisi teman sebaya dan keluarga dalam hubungan interpersonal dapat mempengaruhi bagaimana pandangan dan perasaan mengenai tubuh. Menerima feedback mengenai penampilan fisik berarti seseorang mengembangkan persepsi tentang bagaimana orang lain memandang dirinya. Keadaan tersebut dapat membuat mereka melakukan perbandingan sosial yang merupakan salah satu proses pembentukan dalam penilaian diri mengenai daya tarik fisik. Pikiran dan perasaan mengenai tubuh bermula dari adanya reaksi orang lain. 
           Apa yang sedang terjadi di Korea saat ini (trend operasi plastik) menunjukkan bahwa sebagian warga negeri Ginseng itu sedang mengalami apa yang disebut dengan Gangguan body image atau body image negatif . Seseorang yang mengalami gangguan body image tidak percaya diri dengan keadaan dirinya sendiri, sehingga banyak diantara mereka yang berusaha untuk membuat bagaimana agar mereka terlihat menarik didepan orang lain terutama jika dihadapan lawan jenis mereka. Mereka ini sangat mudah mengalami stress, bahkan sampai bunuh diri. Mungkin bisa kita bayangkan apa jadinya jika ada orang korea yang mengalami gangguan body imaje seperti ini tapi tidak punya uang untuk melakukan operasi plastik. 
       Mudah-mudahan kita semua tidak membebek pada hal negatif semacam ini. Dalam situs Parenting Indonesia, dijelaskan beberapa hal yang mesti orang tua lakukan agar anak tidak memiliki body image yang negatif; Pertama, Beri contoh penerimaan diri yang positif (bersyukur terhadap apa yang dimiliki). Hentikan mengeluh tentang lingkar pinggang Anda di depan anak. Kedua, Tangkal komentar negatif anak tentang diri sendiri. NeKetiga, Ajari anak kritis terhadap apapun yang dilihat atau didengarnya, terutama dalam menyikapi pengaruh iklan atau media yang mengutamakan kecantikan.
tralisir komentar anak dengan menunjukkan sisi positif yang ia miliki.
         Keempat, Tidak menjadikan kondisi fisik sebagai bahan ejekan. Hindari mengolok anak dengan julukan tembem atau chubby. Kelima, Beri pujian pada hasil karyanya, bukan melulu penampilan fisiknya. Keenam, Hindari membicarakan keburukan anak dengan orang lain di depan anak. Ketujuh, Kembangkan bakat anak secara berimbang di bidang fisik maupun non fisik. Kedelapan, Habiskan waktu bersama anak secara rutin. Ini yang terpenting! Dengan adanya waktu bersama Anda, anak merasa diperhatikan dan diterima secara positif.

Selasa, 17 Desember 2013

Howard Gardner & Manusia Abad 21

          Chowduri dalam bukunya yang berjudul Organisasi Abad 21, menyebutkan bahwa manusia yang hidup dalam abad 21 mudah merasa jenuh dengan sesuatu, karenanya inovasi menjadi kebutuhan dasar (basic needs) yang diapresiasi banyak kalangan, baik perusahaan, dunia pendidikan, seni budaya bahkan hingga pola-pola pemerintahan. Apabila inovasi tidak dilakukan maka tidak ada perubahan. Padahal, konsekuensi mereka yang stagnan akan ditinggalkan zaman yang cepat berubah ini.
          Dalam buku yang berjudul Mind Set!, John Naisbitt, sebagaimana di kutip oleh Rijalul Imam dalam Quantum Leadership of King Sulaiman, secara khusus mengapresiasi semaraknya kata ‘Change’ (perubahan) diberbagai belahan dunia, sehingga trend ‘perubahan’ menjadi trend yang menggejala diberbagai segi kehidupan manusia. Seakan-akan apabila kita tidak berubah maka perubahan akan menghempas kita ke pinggiran sejarah. Beberapa decade lalu terdapat adagium, ‘segalanya telah berubah, kecuali perubahan itu sendiri’. Sekarang adagium itu telah berkembang menjadi, ‘segalanya telah berubah, bahkan perubahan pun terus berubah.
        Menurut Rijalul Imam, abad 21 adalah tantangan imajiner yang penuh dengan teka-teki nyata, tak terkecuali bagi bangsa Indonesia. Dikatakan tantangan imajiner, karena memuat berbagai tantangan yang tak terduga sehingga menuntut imajinasi untuk meraba dan menebak apa yang akan terjadi di masa depan. Namun teka-teki itu juga bukan hal yang ilusi melainkan realitas nyata yang mau tidak mau harus dihadapi.
          Dan, masa depan itu kini adalah kenyataan hari ini. “Jarum jam terus berderak dan berdentang”, kata Yodhia Antariksa, “Dan dalam laju perjalanan sejarah itu, kita semua diminta untuk bisa terus tumbuh dan berkembang. Tumbuh menjadi pribadi-pribadi yang matang nan unggul. Berkembang menjadi manusia - manusia yang mulia nan bermartabat”. Tegas pakar manajemen ini.
         Eko Laksono dalam bukunya yang berjudul Imperium III, seolah menjawab statement Yodhi Antariksa tersebut. Menghadirkan manusia yang matang nan unggul atau yang oleh Eko laksono di sebut dengan ‘manusia-manusia super’, adalah suatu proyek yang sedang diburu oleh para ilmuwan dunia. Dalam perkembangannya, para ilmuwanpun telah ‘bermimpi’ akan bisa memetakan gen-gen unggul manusia. Misalnya, gen khusus yang membuat kecerdasan yang genius, keunggulan fisik para atlet ternama bahkan mungkin gen yang membentuk karisma seorang pemimpin besar, bahkan mengkombinasikannya dengan gen-gen unggul lain. Ini yang disebut dengan rekayasa genetika. 
        Yang menarik menurut Saya adalah apa yang dilakukan oleh Howard Gardner, Sang ‘penemu’ Multiple Intelligences (teori kecerdasan majemuk). Beliau memiliki pandangan sendiri mengenai kulifikasi manusia masa depan. Tapi tentu saja dari sudut pandang psikologi. Melalui penelitian yang intensif, Gardner memperkenalkan Five Minds for The Future. Lima jenis pola pikir yang memiliki peran penting dalam perjalanan sejarah masa depan. Pola pikir yang harus ditanam dalam rung kognisi manusia.
       Yodhia Antariksa dalam ‘Blog Strategi + Manajemen’nya menuliskan lima pola pikir itu secara sederhana kepada kita: Pola pikir yang pertama adalah disciplined mind (pikiran terdisiplin) atau suatu perilaku kognisi yang mencirikan disiplin ilmu, ketrampilan, atau profesi tertentu. Seorang praktisi yang menekuni dunia bisnis dan manajemen misalnya, setidaknya mesti menguasai ilmu dan ketrampilan yang solid dalam bidang tersebut. Demikian pula, semua profesional lainnya – entah arsitek, ahli komputer, perancang grafis – harus menguasai jenis-jenis pengetahuan dan ketrampilan kunci yang membuat mereka layak menjadi bagian dari profesi mereka masing-masing. Esensi dari pola pikir yang pertama ini adalah : untuk benar-benar menjadi manusia yang profesional, kita mestinya menguasai secara tuntas, komprehensif, mendalam dan terdisiplin satu bidang pengetahuan/ketrampilan tertentu.
           Pola pikir yang kedua adalah : synthesizing mind (pikiran mensintesa). Atau juga pola untuk mencerap informasi dari beragam sumber, memahami, mensintesakannya, dan lalu meraciknya menjadi satu pengetahuan baru yang powerful. Kecakapan dalam melakukan sintesa ini tampaknya menjadi kian penting terutama ketika banjir informasi kian deras mengalir melalui beragam media : televisi, media cetak, dan dunia online. Dan sialnya, bongkahan informasi yang deras mengalir itu acap dipenuhi dengan informasi sampah (junk information). Tanpa kecapakan memilah dan mensintesakan beragam informasi itu, percayalah, kita bisa tergelincir dan tenggelam dalam lautan informasi.
       Pola pikir yang ketiga adalah creating mind (pikiran mencipta). Pikiran ini menggedor kita untuk senantiasa merekahkan ide-ide baru, membentangkan pertanyaan-pertanyaan tak terduga, menghamparkan cara-cara berpikir baru, dan sekaligus memunculkan unexpected answers. Pola pikir inilah yang akan membawa kita masuk dalam wilayah-wilayah baru yang menjanjikan harapan dan peluang untuk direngkuh dan dimanfaatkan. Pola pikir inilah yang akan membuat kita mampu berpikir secara lateral (out of the box) dan bukan sekedar berpikir linear mengikuti jalur konvensional yang acap hanya akan membuat kita stagnan. Dan pola pikir inilah yang akan menemani kita untuk bergerak maju, progresif, demi terciptanya sejarah hidup yang positif dan bermakna (meaningful life).
        Pola pikir keempat adalah respectful mind (pikiran merespek). Atau sebuah pola pikir untuk menyambut perbedaan pandangan dengan sukacita, dan bukan dengan sikap saling curiga. Sebuah pola pikir yang akan membuat kita terhindar dari anarki akibat pemaksaan kepentingan. Sebuah pola pikir yang senantiasa mengajak kita untuk merayakan keragaman pandangan dan sekaligus menghadirkan empati nan teduh bagi pendapat/pikiran orang lain – meski pendapat itu mungkin berbeda dengan yang kita hadirkan.
           Dan pola pikir yang terakhir atau kelima yang juga amat dibutuhkan adalah ethical mind (pikiran etis). Inilah pola pikir yang terus membujuk kita untuk berikhtiar membangun kemuliaan dan keluhuran dalam kehidupan personal dan profesional kita.
        Kesimpulannya dari tulisan ini adalah siapapun yang ingin ‘merebut’ masa depan haruslah memiliki syarat dan kualifikasinya. Dari sudut pandang psikologi, Howard Gardner telah menunjukkan syarat dan kualifikasi itu kepada kita.

Sabtu, 14 Desember 2013

Budaya Malu, Samurai Jepang & Syara Pata Anguna

          'Malu itu sebagian dari Iman'. Ini potongan Hadits. Kalau ini sudah menjadi perkataan Rasulullah SAW, menurut pendapat saya, hal ini akan memberikan hikmah dan kemaslahatan yang sangat besar dibalik pelaksanaannya. Tapi maaf, dalam tulisan ini saya tidak akan membahas lebih panjang tentang tafsir Hadits ini, tapi sekedar melihat pengaruh kata 'malu' dalam keseharian kita.
           Ada apa dengan Malu? Dalam seminar nasional yang diselenggarakan oleh Dinas Tata Kota Baubau, pada 28 November yang lalu, saya sempat bertanya pada Prof. Ananto Yudono, seorang pakar tata kota yang juga pernah menempuh studi di Jepang. "...mengapa Jepang menjadi salah satu negara dengan angka bunuh diri paling tinggi di dunia?" Kata Professor yang juga menjadi dosen di jurusan Arsitektur FT-Unhas ini, bahwa hal tersebut tidaklah 'melulu' berkaitan dengan persoalan stress. Tapi bunuh diri di Jepang berkaitan dengan kehormatan. Ini persoalan nilai dan keyakinan. Mereka lebih baik bunuh diri ketimbang malu karena gagal melakukan atau menggapai sesuatu.
         Dari jawaban Sang Guru besar, saya berkesimpulan bahwa ini terkait dengan budaya malu. Seorang teman peserta seminar berbisik kepada saya; "inilah juga yang mungkin menjawab -walau tidak sampai bunuh diri- seorang perdana menteri Jepang akhirnya mengundurkan diri karena gagal menjalankan roda pemerintahan dengan baik."
         Pertanyaannya adalah mengapa di Jepang penerapan budaya malu yang kadang berujung dengan bunuh diri ini begitu "ketat"? Kalo kita menarik garis sejarah ke masa lalu, khususnya di masa para Samurai, kita akan menemukan salah satu rahasianya. Kalau berbicara tentang Samurai, rasanya bukanlah sesuatu yang asing bagi kita semua, karena lagenda para Samurai sungguh terkenal diseluruh dunia. Pun telah banyak kisah tentang kehebatan para pejuang Jepang ini yang di angkat kelayar lebar. Diantaranya adalah film Seven Samurai yang disutradarai oleh Akira Kurosawa. Film ini dianggap sebagai salah satu film terbaik di dunia, dan mempengaruhi banyak sutradara besar lainnya seperti George Lucas, Sang pembuat Star Wars. 
         Tahun 2003 yang lalu, Hollywood memproduksi Film The Last Samurai, yang dibintangi oleh aktor yang juga terkenal dalam 'Mission Imposible', yaitu Tom Cruise. Film yang kemudian menjadi box office ini di garap berdasarkan sejarah toko samurai terakhir Jepang, Saigo Takamori.
         Eko Laksono dalam bukunya yang berjudul Imperium III menjelaskan bahwa sebelum restorasi Meiji, Jepang dikuasai oleh shogunat, sebuah rezim pemerintahan militer yang dipimpin oleh shogun. Pemerintahannya sendiri dikenal dengan nama Bakufu. Klan Tokugawa telah menjadi klan penguasa Jepang sejak 1603 hingga dimulainya era Meiji pada 1868. Untuk menjaga stabilitas dan menangkal gangguan dari luar, Tokugawa terpaksa melakukan politik isolasi dari luar sejak tahun 1669. Negara-negara barat yang pernah datang ke Jepang (Portugis dan Spanyol) semua diusir keluar, kecuali Belanda. Itupun hanya diperbolehkan berada di Nagasaki. Kedamaian sempat tercipta sepanjang 250 tahun lamanya. 
           Para shogun awalnya tidak sadar, bahwa politik isolasi ini justru membuat Jepang menjadi negara yang 'jalan di tempat'. Informasi dari luar relatif terputus. Sampai tahun 1853, ketika Laksamana Matthew C. Perry memimpin armada Amerika Serikat, dengan 65 moncong meriam di sisi-sisi kapal memasuki perairan Tokyo, Jepang akhirnya tersadar, sesuatu harus dilakukan. Perombakan besar-besaran pun dilakukan. 30 tahun setelah Restorasi Meiji (1868), Jepang sudah mensejajarkan kekuatan ekonomi dan militernya dengan negara-negara termaju di dunia. 
           Yang menarik untuk dipertanyakan dalam sejarah Jepang ini adalah apa yang dilakukan para kesatria berpedang selama 250 tahun berada dalam kedamaian? Masalahnya, tidak banyak peperangan dalam kurun waktu tersebut. Ternyata ada hikmah dan pelajaran penting yang diberikan oleh para Samurai. Kaum Samurai sebagai kelas elit dan menjunjung nilai-nilai moral yang tinggi mempunyai kewajiban untuk menjadi teladan dalam masyarakat. Mereka harus menjadi lebih baik dan lebih bermanfaat bagi masyarakat banyak. Seorang Samurai harus menjaga kehormatan status mereka dan menjauhkan diri dari rasa malu. Jadi pada masa ini, ada kanalisasi nilai-nilai moral yang mengagumkan. Dan rupanya berhasil sampai sekarang.
          Selama 250 tahun mereka berhasil melakukan internalisasi nilai-nilai budaya tanpa penetrasi budaya lain dari luar. Kalau ada yang patut disyukuri oleh bangsa jepang di masa isolasinya, maka kanalisasi budaya inilah salah satunya. Luar biasa, kehormatan hadir dari kemampuan mereka menjauhkan diri dari rasa malu.
         Kalau kita menyaksikan Film tentang para Samurai atau para Yakuza, kita akan menemukan bahwa saking menjaga kehormatan mereka, para samurai bahkan rela melakukan seppuku. sebuah ritual bunuh diri daripada mati tidak terhormat karena kalah dalam perang atau tidak mempu mengemban amanah dengan baik.
           Masih dari seminar Tata Kota yang berlangsung di Aula Kantor Walikota tersebut, Dr. Ir. H. Mudjur Muif, menyampaikan gambaran singkat tentang penegakan hukum berdasarkan Syara Pata Anguna. Putra Baubau yang juga konsultan perencana wilayah ini menyebutkan 4 (empat) hal yang akan ditindaki secara hukum Agama dimasa kesultanan; Pulu Mosala (ucapan yang tidak pantas), Mingku Mosala (perbuatan/tindakan yang tidak terhormat/membuat orang lain tersinggung), Lempagi (Pelanggaran Hak/melampaui batas), dan Pebula (pelecehan seksual/perselingkuhan). Dan pilihan hukumannya adalah Gogoli (leher diikat dan ditarik kiri-kanan), Labua yitawo (ditenggelamkan dilaut), Tobhanaka (dibuang/diasingkan) dan Tatasi pulangi (dikeluarkan dari kekerabatan/kelurga). 
         Terus terang, Saya baru mengetahui secara detail tentang Syara Pata Anguna ini lewat lisan beliau. Ini sungguh 'keren'. Secara tersirat pula mengharuskan penghuni 'negeri' agar menerapkan budaya malu. Dan dalam falsafah Bhinci-bhinciki kuli, budaya malu sangat tegas diamanahkan. Tapi, yang menjadi pertanyaan bagi saya adalah pernahkah kita warga Baubau menerapkan budaya malu dalam keseharian kita? Malu mendzolimi orang lain, malu korupsi, malu mempermalukan orang lain, atau malu mempermalukan diri sendiri? Jika tidak, terlepas dari plus minus bangsa Jepang, orang buton atau orang Indonesia secara umum perlu belajar banyak tentang budaya Malu dari bangsa Jepang.
       Dan jangan sampai terjadi, falsafah Bhinci-bhinciki kuli yang mengandung makna hakiki dan universal hanya berada diatas menara gading atau hanya sekedar dibanggakan, tapi dalam penerapannya jauh panggang dari api.

Senin, 26 Agustus 2013

Ketika Kota London & Tanganapada Tiada Beda


Sumber foto: www.kasakkusuk.com
         Ribuan, bahkan milyaran pasang mata menyaksikan pernikahan mereka. Mulai dari rakyat tanpa status sosial, tamu negara, sampai selebriti dunia, berjejer memadati jalan yang akan dilalui kedua pengantin itu. Ini bukan pernikahan biasa. “Ini pernikahan bersejarah”, kata seorang awak media.
          Hari itu, Pangeran Inggris, William, putra pertama Pangeran Charles dan mendiang Putri Diana mengakhiri masa lajangnya. Diatas kereta yang ditarik beberapa ekor kuda dan dikawal puluhan prajurit berkuda, Ia duduk begitu mesra dengan seorang putri nan cantik. Kate Midleton nama putri itu. Mereka baru saja mengucap sumpah untuk sehidup semati sebagai suami istri. Sepanjang jalan, tak henti mereka melempar senyum, melambaikan tangan, mengingatkan setiap orang di setiap sudut dunia, tentang peristiwa romantis di negeri dongeng. 
         Pangeran, putri, kerajaan, kereta kuda, pengawal, dan lainnya adalah kata-kata yang mudah kita temukan ketika membaca dongeng tentang Cinderela, Putri Salju, Thumbelina, Rapunzel, Putri Tidur dan lainnya. Tapi hari itu, mereka berdua menampilkan kisah dongeng itu di dunia nyata. Di Inggris. Semua orang yang menyaksikan secara langsung, mengelu-elukan putri dan pangeran itu. Ribuan komentator televisi di seluruh dunia mengomentari mereka dengan ribuan sudut pandang. Mulai dari kisah awal perjumpaan mereka, hobi keduanya, karakter keseharian mereka, gaya busana saat pernikahan pun juga sampai implikasi politik internasionalnya. Wow. 
         Barangkali inilah pernikahan terakbar abad ini. Dan ku yakin, dari pernikahan ini, meminjam statement dari Film Animasi SHREK, orang-orang akan mengatakan, “Happy Hapily Ever After”. Tapi, apakah kebahagiaan yang hadir dalam perjalanan berkeluarga harus ditentukan oleh perayaan seakbar Pangeran Willian dan Kate Midleton? Well, tentang hal ini, mungkin setiap orang memiliki jawaban yang berbeda. 
       Beberapa hari yang lalu, Saya menghadiri pernikahan seorang teman. Dia tinggal di Tanganapada. Dia rakyat biasa seperti saya. Bukan seorang pangeran. Jika kita menggunakan kacamata masyarakat dunia, mungkin dari sisi manapun, dia tidak bisa dibandingkan dengan pangeran William. Hidupnya sungguh sederhana, jauh dari gemerlap harta dan hiruk pikuk popularitas. Pun mungkin diapun tak mengerti apa itu popularitas. Yang kutahu pasti, dia hanya tahu untuk terus berupaya mengais rezki walau sedikit agar dapat bertahan hidup paling tidak selama sebulan. Dia bekerja sebagai Cleaning service di sebuah instansi pemerintah, dengan gaji yang bahkan tidak cukup separuh dari UMR Kota Baubau. 
       Hanya melalui sms dia mengundang Saya ke pernikahannya. Pesan singkat dari sebuah HP seharga tidak lebih dari dua ratus ribu rupiah, yang ia beli setelah menabung sekian lama. Sebuah Hp yang selalu Ia banggakan dihadapanku. Tak cukup uang tuk memesan undangan dipercetakan, pun sekedar mencetak undangan diatas lembaran kertas HVS atau Kuarto. Hanya dengan silaturrahm biasa (pokemba) dan redaksi singkat di sms itu Ia mengundang teman dan kerabat. Itupun tidaklah banyak. Hanya puluhan saja. 
      Pagi itu kami mengantarnya. Hanya beberapa ratus meter jaraknya ke rumah mempelai perempuan. Tujuan kami ke sebuah gubuk sederhana dan kecil. Sebuah tempat yang juga tidak asing bagiku. Kurang lebih dua puluh tahun lalu saya sering lewat di tempat itu. Arsitekturnya masih seperti dulu. Dinding dan kayunya sudah lapuk dimakan usia. Mungkin itu masih dinding dan kayu dua puluh tahun lalu. Inilah yang membuat tampilan rumah itu agak sedikit berubah. Karung beras dan Koran digunakan untuk menutupi lubang-lubang menganga di setiap dinding. Para pengantar berdesakan menaiki tangga belakang rumah tempat pengantin melangsungkan Ijab Kabul. Tapi semua tak boleh naik. Hanya beberapa orang saja. Panitia pernikahan sengaja membatasi pengantar yang ingin menyaksikan langsung prosesi akad nikah. Takut rumahnya rubuh.
        Dalam sebuah ruang sempit di gubuk itu, ia mengucap Ijab Kabul. Saya menyaksikannya dari jendela. Karena tak kebagian tempat dalam rumah. Namun juga Saya tak mau melawatkan prosesi singkat tapi menyejarah itu. Tiada MC yang ditunjuk untuk memandu acara. Akhirnya petugas pencatat nikah merangkap menjadi MC. Entahlah, mungkin bagi panitia pernikahan, tak perlu sedu sedan itu, yang penting mereka resmi jadi suami istri. Kulihat temanku itu begitu bahagia. Sang mempelai wanita sampai menitikkan air mata. Semua orang disekeliling mereka juga ikut berbahagia. Begitu fasih ia mengucap ijab Kabul. Walaupun itu adalah kali ke tiga ia mengulangi.
        Setelah itu, jamuan sederhana dan seadanya sudah menanti para undangan. Dan jamuan itu adalah hasil dari sumbangan para tetangga dan saudara. Tapi bagiku, hidangan itu sungguh nikmat rasanya. Tenda seadanya didirikan tuk sekedar menaungi pengantin dan menerima ucapan selamat dari para undangan. Bagaimanapun, mereka harus menjadi raja dan ratu di hari bahagia itu.
          Hanya kamera Hp dan I-Pad yang digunakan untuk mengabadikan momen pernikahan. Itupun yang kebetulan di bawa oleh beberapa orang undangan. Tiada handy Came apalagi siaran langsung dari stasiun televisi tertentu. Orang Bone-bone atau Batulo atau Kalia-lia tak tahu kalau hari itu ada pernikahan mereka. Apalagi Jepang, Venezuala dan Mesir, pun Inggris tempat Pangeran William dan Kate Midleton yang sedang berbahagia dengan kehadiran putra pertama mereka. Mereka Semua tak tahu. 
        Tapi yang ku tahu adalah, temanku itu sangat berbahagia. Bahkan saat itu, Ia mungkin lebih bahagia dari Pangeran William dan Kate Midleton. Dan Sayapun yakin, temanku itu tak peduli apakah pernikahannya di ketahui banyak orang atau tidak. Apakah begitu sederhana atau tidak. Yang penting baginya adalah, Ia sudah niat menikah karena Allah, dan iapun siap menjadi kepala rumah tangga yang akan menghadirkan kebahagiaan pada istrinya dengan caranya sendiri. Mereka akan berbahagia dengan cara mereka sendiri. Selamanya. Persis seperti judul film SHREK di episodenya yang terakhir, ketika Shrek dan Viona beserta anak-anaknya hidup bahagia dalam kesederhanaan dan selamanya: “Forever After”.

Selasa, 09 Juli 2013

Pesan Ramadhan dari Film Animasi SHREK & TOY STORY

Sumber gambar: www.Crankymovie.blogspot.com
           Ada pertanyaan menarik, Apakah Anda berbahagia dulu kemudian tersenyum, ataukah sebaliknya, senyum dulu lalu perasaan bahagia itu datang? Rupanya keduanya bisa terjadi. Wajah adalah jendela emosi. Salim A Fillah dalam bukunya Jalan Cinta Para Pejuang menjelaskan bahwa mula-mula ada gejolak emosi dalam jiwa kita, kemudian kita boleh, -atau tidak perlu- mengungkapkan emosi itu melalui wajah kita. Ternyata proses itu juga bisa bekerja dengan arah berlawanan. Artinya, emosi juga bisa dimulai dari wajah. Jadi kita bukan hanya tersenyum karena bahagia, melainkan juga berbahagia karena tersenyum. Wajah bukan hanya sebuah monitor penampil yang men-display perasaan dari CPU hati. Wajah adalah mitra yang sejajar dalam suatu proses emosi. 
          Untuk memperkuat sisi ilmiah pernyataannya tersebut, Salim yang juga penulis muda produktif ini menyajikan catatan-catatan Malcolm Gladwel tentang riset psikologi yang mendukung hal tersebut. Adalah Paul Ekman dan Wallace Friesen, Kata Gladwell, yang pertama kali berhasil menyusun taksonomi untuk mimic wajah. Dengan terus berkonsultasi pada para pakar anatomi wajah, mereka memadupadankan 43 gerakan otot berbeda yang bisa dibuat oleh wajah. Mereka menyebutnya ‘satuan aksi’. 
         Selama tujuh tahun kedua peneliti ini mencoba, meramu berbagai satuan aksi sehingga tercipta kombinasi dari gerakan lima otot yang jumlahnya lebih dari sepuluh ribu. Mereka memilah kombinasi gerakan yang memiliki makna, dan menuangkannya dalam dokumen rinci FACS (Facial Action Coding System) yang setebal 500 halaman. Sekedar informasi, 2 (dua) film animasi (Box Office) yaitu Toy Story dan Shrek juga dibuat menggunakan FACS. 
       Ekman dan Friesen dibantu oleh Robert Levenson mengumpulkan sejumlah relawan yang dibagi dalam dua kelompok. Separuh diminta untuk mencoba mengingat dan menghidupkan kembali sebuah pengalaman yang bagi masing-masing sangat berat. Separuh yang lain diminta hanya untuk memeragakan mimic wajah dalam FACS yang sesuai dengan emosi-emosi menyusahkan semacam marah, sedih, dan takut. Mereka semua dihubungkan dengan sensor pengukur laju denyut jantung dan temperature suhu. Gejala-gejala faali yang diamati ini telah dikenal sebagai indicator emosi beratseperti marah, sedih, dan takut dalam fisiologi. 
          Hasilnya? Tertampil dalam monitor, kedua kelompok mengalami kenaikan laju denyut jantung yang sama dan kenaikan suhu tubuh yang persis. Gejala fisiologis emosi mereka tak berbeda. Yang mengenang pengalaman pahit menjadi sedih. Begitu juga yang sekedar “berakting” sedih dengan otot-otot wajahnya. Mereka memulai dengan ekspresi wajah yang berat, baru kemudian efek fisiologisnya menjalar hingga ke hati. 
        Beberapa waktu kemudian, beberapa Psikolog jerman mencoba hal yang senada. Mereka meminta dua kelompok relawan untuk mengamati gambar-gambar kartun. Kelompok pertama harus melakukannya sambil menggigit ballpoint dengan gigi –yang memaksa mereka untuk tersenyum karena harus mengkontraksi otot risorius dan zygomatic major-, dan kelompok kedua menggunakan bibirnya untuk menjemput ballpoint –yang membuat mereka mustahil tersenyum karena dua otot itu terkunci-. 
     Penelitian ini berkesimpulan sama. Yang menggigit ballpoint dengan gigi –sehingga terpaksa tersenyum- jauh lebih merasa bahwa kartun-kartun itu lucu. Mereka memulainya dengan senyum diwajah, lalu emosinya tergerak untuk melakukan kejenakaan. Sementara itu, para relawan yang menjepit ballpoint dengan bibir –sehingga sulit tersenyum- merasa kartun itu biasa saja. Demikian Salim A Fillah menjelaskan. 
        Luar biasa! Dari ekspresi wajah, lalu efek fisiologisnya menjalar ke hati. Menjalar ke “organ” pengendali manusia. Menurut Kang Zen dalam bukunya yang berjudul Sambut, Hati adalah pikiran bawah sadar manusia. Sebagian peneliti mengatakan bahwa hati memiliki kekuatan hingga 30.000 kali lipat dari pikiran, tapi ada juga yang mengatakannya tak terbatas. Mungkin maksudnya kerena pikiran kita terbatas, kita tidak bisa menghitung kekuatan maksimal dari hati tersebut. Ada juga yang mengatakan bahwa kekuatan hati 5000 kali lebih kuat dibandingkan dengan kekuatan pikiran. Tapi yang sering dijadikan referensi adalah bahwa kekuatan pikiran hanya mencapai 12%, sedangkan kekuatan hati bisa mencapai 88%. 
         Perasaan adalah juga urusan “Hati”, kata Kang Zen. Tetapi hati yang di maksud bukanlah liver, tapi lebih kepada jantung. Dan memang, para peneliti mengungkapkan bahwa perasaan itu dimulai oleh jantung, bukannya liver. Dan, kekuatan gelombang elektromagnetik jantung (perasaan) bisa 5000 kali lebih kuat dibandingkan dengan gelombang elektromagnetik otak (pikiran). Hal inilah yang menjawab, mengapa banyak orang yang “berusaha” berpikir positif justru malah kehidupannya diiringi banyak kejadian yang membuat hidup tertekan. Sebab mereka hanya berpikir positif, tapi tidak berperasaan positif. Jadi tenangkan dulu perasaan Anda baru berpikir dan bertindak lebih lanjut. 
         Nah, kembali lagi ke senyum. Dr. Aidh al-Qarni dalam bukunya yang berjudul La Tahzan, mengutip ucapan Ahmad Amin: “Orang yang murah tersenyum dalam menjalani hidup ini bukan saja orang yang mampu membahagiakan diri sendiri, tetapi juga orang yang paling mampu berbuat, orang yang paling sanggup memikul tanggung jawab, orang yang paling tangguh menghadapi kesulitan dan memecahkan persoalan, serta orang yang paling dapat menciptakan hal-hal yang bermanfaat bagi dirinya sendiri dan orang lain.” 
      Terus, apa kaitan antara senyum dengan puasa Ramadhan? Saran Saya, saat Ramadhan datang, hadirkanlah niat yang ikhlas untuk beribadah, dan tersenyumlah. Dengan tersenyum, maka kebahagiaan akan datangnya bulan suci menjadi berlipat pangkat. Dari sini, kenyamanan dan kemudahan beribadah menjadi sebuah keniscayaan.

Selasa, 04 Juni 2013

Vandalisme di Kotamara

         Sore hari di Kotamara bisa dibilang mengasyikkan. Tempat ini begitu nyata menghadirkan salah satu manfaat ruang publik, yaitu sebagai tempat rekreasi. Penat dan stress akibat berbagai problematika hidup yang muncul di sela-sela rutinitas kerja atau aktifitas harian kita, mudah-mudahan bisa berkurang kala berkunjung di “halaman” dekat pantai ini. Mau memancing, main bola, berdiskusi atau sekedar tebar pesona, Kotamara adalah salah satu tempat yang tepat untuk itu semua. 
        Namun akhir-akhir ini, ada sedikit rasa kurang nyaman di lokasi yang baru di buka untuk publik 2 (dua) tahun yang lalu itu. Ada sesuatu yang mengusik. Awalnya Saya merasa itu adalah hal yang biasa. Hanya bentuk “kreatifitas” orang-orang yang bisa ada di mana-mana, jadi biarkan saja. Kalaupun tidak dibiarkan atau dihapus, pastinya akan muncul lagi. Maklum, kontrol terhadap hal tersebut di ruang publik sebesar Kotamara rasanya masih kurang. Tapi sekarang, Saya justru merasakan kekurangnyamanan itu semakin bertambah. Mungkin karena jumlahnya sudah semakin banyak.
       Coretan di ruang publik! Ini yang membuat saya kurang nyaman. Salah satu contohnya, coba perhatikan bangunan bercat hijau yang berdiri di sudut Kotamara. Coretan menyebar di sana sini. Parahnya lagi, beberapa kaca jendela sudah pecah, entah siapa pelakunya. Sungguh sangat disayangkan. 
         Nah, perbuatan coret mencoret tanpa mempedulikan keindahan sebuah tempat atau lokasi, biasa di sebut dengan vandalisme. Dalam situs Wikipedia dijelaskan bahwa Vandalisme adalah suatu sikap kebiasaan yang dialamatkan kepada bangsa Vandal, pada zaman Romawi Kuno, yang budayanya antara lain: perusakan yang kejam dan penistaan segalanya yang indah atau terpuji. Tindakan yang termasuk di dalam vandalisme lainnya adalah perusakan kriminal, pencacatan, grafiti, dan hal-hal lainnya yang mengganggu mata.
       Dari definisi diatas, tentu begitu jelas apa yang dimaksud dengan vandalisme. Tapi dalam konteks ini, saya “fokuskan” vandalisme pada hal-hal semacam kegiatan mencorat-coret tembok, papan, atau fasilitas umum lainnya. Termasuk penempelan brosur, pamflet dan stiker di muka umum atau bukan pada tempatnya. 
         Jadi, bisa dikatakan bahwa vandalisme merupakan suatu ancaman terhadap keindahan yang ada. Di kota ini, sangat mudah kita temukan dimana-mana. Coba perhatikan halte, tiang listrik, taman-taman kota dan fasilitas umum lainnya, hampir pasti terdapat coretan. Dahulu mungkin hanya dianggap sebagai masalah bagi kota-kota besar. Tapi sekarang, vandalisme rupanya juga sudah menjadi masalah bagi kota kecil. Bahkan mungkin sampai pelosok. Saya pribadi merasa kurang nyaman. Apalagi jika hal tersebut ada di ruang publik atau tempat rekreasi sekelas Kotamara.
        Siapapun bisa menjadi pelaku vandalisme. Mulai dari anak-anak sampai orang tua. Tapi Jika kita perhatikan coretan-coretan yang terpampang ditembok bahkan di meja dan kursi taman di Kotamara, secara psikologis bisa ditebak rentang usia pelakunya. Umumnya para pelaku adalah remaja. Bagaimana cara mengetahui bahwa itu adalah remaja? Ada nama orang, nama grup atau komunitas dan lain sebagainya tertulis di sana. Sang pembuat ingin menunjukkan eksistensi dirinya alias kebutuhan akan eksistensi. Ini ciri remaja. Sebuah kebutuhan yang “harus” dipenuhi dalam tugas dan perkembangan remaja. Namun sayang, kebutuhan tersebut mereka ekspresikan di tempat yang salah.
      Sekedar informasi, ada istilah lain yang berhubungan dengan vandalisme, yaitu Graffiti dan Mural. Dalam situs Muda Grafika.com disebutkan bahwa graffiti adalah coretan-coretan pada dinding yang menggunakan komposisi warna, garis, bentuk, dan volume untuk menuliskan kata, simbol, atau kalimat tertentu. Alat yang digunakan pada masa kini biasanya cat semprot kaleng. Sebelum cat semprot tersedia, grafiti umumnya dibuat dengan sapuan cat menggunakan kuas atau kapur. Meskipun grafiti pada umumnya bersifat merusak dan menyebabkan tingginya biaya pemeliharaan kebersihan kota, namun grafiti tetap merupakan ekspresi seni yang harus dihargai. Vandalisme juga adalah graffiti yang asal jadi atau asal coret.
       Sedangkan Mural adalah adalah cara menggambar atau melukis di atas media dinding, tembok atau permukaan luas yang bersifat permanen lainnya. Berbeda dengan grafiti yang lebih menekankan hanya pada isi tulisan dan kebanyakan dibuat dengan cat semprot maka mural tidak demikian, mural lebih bebas dan dapat menggunakan media cat tembok atau cat kayu bahkan cat atau pewarna apapun juga seperti kapur tulis atau alat lain yang dapat menghasilkan gambar. 
        Yang menjadi pertanyaan adalah bisakah vandalisme di cegah? Kita bisa menguranginya sedikit demi sedikit dengan cara mengarahkan kebiasaan ini pada tempatnya. Bisa lebih mudah lagi, karena kita tahu siapa mayoritas pelakunya, yang dalam hal ini adalah kaum remaja. Belajar dari Kota Magelang, mereka mengadakan kompetisi Mural antar SMK, terutama yang muridnya terlibat vandalisme dengan bantuan komunitas seni di Kota Magelang. Dengan kompetisi mural ini, tembok-tembok yang sebelumnya biasa saja dan suram bisa berubah menjadi lebih berwarna dan bermakna. Di tembok-tembok ini juga bisa ‘ditanam’ warna-warni bunga yang tidak perlu disiram dan dirawat namun tetap indah dipandang. Dan yang lebih penting lagi, vandalisme bisa diatasi dan kreativitas generasi muda bisa disalurkan melalui media yang tepat.
        Didaerah lainnya, diadakan ekstrakurikuler graffiti. Ini bisa kita adakan di Kota Baubau. Kalo perlu berhadiah piala bergilir dari walikota. Mungkin sudah ada kegiatan sejenis ini di Kota Baubau. Ini patut di apresiasi dan perlu terus di dorong.
      Lebih dari itu, sangat penting untuk menghadirkan kesadaran dan kepedulian terhadap lingkungan, khususnya fasilitas umum dan ruang publik. Kesadaran dan kepedulian tentu akan melahirkan keindahan. Dari sini, sejuta manfaat (diantaranya kesehatan fisik dan psikologis) bisa hadir. Serangkai kalimat bijak ini mungkin cocok untuk warga Baubau: “Kalau bukan kita (warga Baubau) yang memulai, menjaga dan memeliharanya, siapa lagi. Kalau bukan sekarang, kapan lagi”.

Kamis, 30 Mei 2013

Temuan Dewi Osiris & Petaka Dewa Mabuk di Kota Baubau

Sumber foto: jurus-kungfu.blogspot.com
         Usianya mungkin sudah jalan 60-an. Saat itu, seusai sholat, dipelataran sebuah masjid ia sedang duduk asyik berdiskusi (koja-koja mantale) dengan beberapa orang jamaah. Posisi mereka melingkar, dan tampak Bapak yang bijak ini sedang menjadi perhatian beberapa jamaah itu. Banyak yang mereka bicarakan. Dan tak jauh dari tempat itu, Saya memasang telinga mendengar detail kata yang mereka ucapkan, mencoba menangkap hikmah kehidupan yang sedang mereka perbincangkan.
      Tiba-tiba Sang Bapak berujar sambil bercanda: “Memang susah jadi orang baik sekarang ini. Kalaupun kita baik, saat kita meninggal nanti, yang galikan kubur kita juga adalah peminum”. Kontan orang-orang yang sedari tadi mendengarnya tertawa terbahak. Tak terkecuali Saya. Dan memang kata si Bapak ada benarnya. Saya beberapa kali menyaksikan orang menggali kubur sambil sesekali menenggak konau. Katanya sih buat penambah tenaga. Hehehe… 
    Barangkali statemen tersebut juga sekaligus keprihatinan Sang Bapak terhadap maraknya konsumsi miras di Kota ini. Keprihatinan tentang maraknya peminum atau biar lebih keren kita sebut saja dengan “Dewa Mabuk”. Saya jadi teringat dua film yang mengisahkan tentang “Dewa Mabuk”. Yang pertama adalah Drunken Master, dibintangi oleh Jacky Chen dan yang kedua adalah The Last Hero in China yang dibintangi Jet Li. Kebetulan, nama tokoh utama di kedua film ini adalah Wong Fei Hung. 
      Dalam film Drunken Master, Wong Fei Hung (Jacky Chen) yang sejak awal dilarang oleh ayahnya untuk menggunakan jurus tinju mabuk ketika bertarung, dengan terpaksa harus menggunakannya untuk menghadapi para begundal. Sambil meminum arak yang membuat gerakan kungfunya lebih berbahaya, satu demi satu para begundal dapat ditaklukkannya. Namun sayang, dalam keadaan mabuk berat ia menjadi lupa siapa kawan dan siapa lawan. Ayah kandungnya ikut pula diserangnya. Ia menjadi tidak sadar. Perilakunya tidak bisa dikendalikannya lagi. 
       Arak, Konau dan sejenisnya adalah minuman yang mengandung alkohol, sebuah zat psikoaktif yang bersifat adiktif. Teguh Pribadi mendefinisikan Zat psikoatif sebagai golongan zat yang bekerja secara selektif, terutama pada otak, yang dapat menimbulkan perubahan pada perilaku, emosi, kognitif, persepsi, dan kesadaran seseorang. Sedangkan adiksi atau adiktif adalah suatu keadaan kecanduan atau ketergantungan terhadap jenis zat tertentu. Seseorang yang menggunakan alkohol mempunyai rentang respon yang tidak stabil dari kondisi yang ringan sampai berat. 
      World Health Organization (WHO) memperkirakan saat ini jumlah pecandu alkohol diseluruh dunia mencapai 64 juta orang, dengan angka ketergantungan yang beragam di setiap negara. Di Amerika misalnya, terdapat lebih dari 15 juta orang yang mengalami ketergantungan alkohol dengan 25% diantaranya adalah pecandu dari kalangan wanita. Kelompok usia tertinggi pengguna alkohol di negara ini adalah 20 - 30 tahun, sementara kelompok usia terendah pengguna alkohol adalah di atas 60 tahun, dan rata- rata mereka mulai mengkonsumsi alkohol semenjak usia 15 tahun.
       Konon, Dewi Osiris, seorang dewi dalam mitologi mesir yang pertama kali menemukan bouza, sejenis Bir. Minuman beralkohol bagi bangsa Mesir Kuno, yang digunakan sebagai obat, dan perayaan atau upacara keagamaan. Dalam perkembangan selanjutnya, anggur dianggap sebagai minuman kaum ningrat (aristocrat) dan bir adalah minuman rakyat jelata (masses). Di Kota Baubau, juga dijumpai banyak minuman tradisional yang mengandung alkohol. 
       Nah kalau sudah mengkonsumsi minuman jenis ini dalam jumlah yang banyak, hasilnya adalah mabuk. Pada saat ini, perasaan pengguna alkohol sangat labil, mudah tersinggung, perhatian terhadap lingkungan menjadi terganggu. Kondisi ini menekan pusat pengendalian diri sehingga pengguna menjadi agresif, bila tidak terkontrol akan menimbulkan tindakan yang melanggar norma bahkan memicu tindakan kriminal serta meningkatkan resiko kecelakaan.
        Beberapa hari yang lalu, sebuah Koran lokal (Baubau Pos) kembali menginformasikan peristiwa penebasan yang terjadi di sebuah kelurahan di Kota ini. Beritanya terpampang di halaman depan, dengan judul ‘Adik Tebas Leher Kakak’. Korban penebasan dilarikan ke RS Murhum untuk mendapatkan perawatan medis. Dari hasil visumnya, sebagaimana Koran lokal ini memberitakan, terdapat 33 jahitan, sebanyak 21 jahitan di bagian luar, dan 12 jahitan di bagian dalam luka. Si pelaku yang juga adik Sang korban tega menebas leher kakaknya setelah mengkonsumsi minuman beralkohol alias miras. Ini berita terbaru lagi bagi Saya.
       Sebelumnya, banyak kasus serupa (penebasan, penikaman dan sejenisnya) yang saya temui di Kota Baubau ini, juga terjadi karena peran miras. Korbannya banyak di RSUD. Saya saksikan sendiri. Bahkan juga merawatnya. Mulai dari yang Alhamdulillah “tidak apa-apa” sampai yang meninggal dunia. Pun yang meregang nyawa didepan mataku. 
       Menurut seorang peneliti, ada berbagai macam tujuan orang untuk menggunakan alcohol. Ada yang bersifat rasional, yaitu ketika berkumpul bersama-sama teman sebaya, misalnya pada waktu pertemuan malam minggu, ulang tahun atau acara pesta lainnya. Penggunaan ini mempunyai tujuan untuk rekreasi bersama teman sebaya. Ada juga yang bersifat situasional, dimana seseorang mengkonsumsi alkohol dengan tujuan tertentu secara individual, hal itu sebagai pemenuhan kebutuhan seseorang yang harus dipenuhi. Seringkali penggunaan ini merupakan cara untuk melarikan diri dari masalah, konflik, stress dan frustasi.
     Adapula yang masih dalam taraf eksperimen, dimana seseorang mengkonsumsi alcohol disebabkan rasa ingin tahu dari seseorang (remaja). Sesuai dengan kebutuhan tumbuh kembangnya, remaja selalu ingin mencari pengalaman baru atau sering juga dikatakan taraf coba-coba, termasuk juga mencoba menggunakan alkohol. 
         Tapi apapun alasannya, menurut pendapat saya, perilaku seperti ini harus dihentikan. Cukuplah korban yang sudah “berjatuhan” selama ini. Tak perlu di tambah lagi. Sekarang bukan saatnya lagi untuk menutup mata. Contoh yang saya sebutkan diatas belum termasuk beberapa efek jangka pendek dan jangka panjangnya yang juga tidak kalah berbahaya. Jadi, mari beritahu keluarga, sahabat, teman dan orang-orang yang kita sayangi agar menghindari konsumsi minuman beralkohol. 
       Rekomendasi WHO bagi seluruh negara di dunia adalah mengadopsi suatu program nasional penganganan masalah penyalahgunaan alkohol yang komprehensif (education, treatment, and regulation) dan disesuaikan dengan budaya yang ada pada tiap-tiap Negara.

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More